Ciput's posts with tag: transportasi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag transportasi
Blog Entry[Jogja] Tumben On Time KeretanyaMar 18, '08 1:15 PM
for everyone
Ke Jogja naik kereta Taksaka? Yah secara research project yg saya kerjakan saat ini ga semewah pekerjaan saya terdahulu, yg fans club Garuda, ya terpaksa mengirit biaya travel dengan naik moda transportasi yg lebih affordable dan yg paling penting bisa tiba di TKP sesuai jadwal.

Memang saya ada janji di Jogja Senin (17/03/08) pagi, namun secara pesawat pagi cuma adanya Garuda, yg tiketnya lebih mahal 1 juta daripada KA Taksaka dan dua kali lipat penerbangan lain, mau tak mau pilih kereta api, daripada tekor . Lagipula bukannya ga mau naik penerbangan yg lain, tapi masalahnya jadwal mereka siang-sore semua!

Lho bukannya yg namanya PTKA biangnya telat? Alhamdulillah berangkat dari Stasiun Gambir Minggu (16/03/08) kemarin betul2 ON TIME! Jarum di arloji saya menunjuk tepat di angka 8 (jarum pendek) dan 9 (jarum panjang) alias jam 20.45 WIB, exactly sama persis dengan yg tertulis di tiket!

Weits jangan seneng dulu jek! Biasanya nih, di jalan banyak hambatan, mulai dari 'crash' dengan KA lain, sampai berhenti ga jelas in the middle of nowhere for unexplained reason, yg berakibat tertundanya jadwal ketibaan di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Well, ngga juga ternyata, secara KA yg dinamakan sesuai nama salah satu kereta kencana milik Sultan HB X itu tiba jam 05.00, 15 menit lebih lambat dari jadwal yang tertera di tiket (04.45)!

Well done! I wish all train kayak gini, saya yg memang pecinta kereta api (ingat petualangan berkereta di Inggris dan Eropa 2004-2005 yg lalu) bakal selalu numpang kuda besi ini deh. Mudah-mudahan pengalaman kemarin bukanlah sekedar anomali, tapi jadi trend ke arah perbaikan layanan dari BUMN tertua di negeri tercinta ini. Amiiin....
gambar dikutip dari friendster *gile jek, KA Taksaka ada friendsternya
©ciput 2008 all rights reserved.

Selasa (20 Nov 2007) pagi buta di Bandara Cengkareng, saya dan kolega saya Lisa, sedang harap-harap cemas menanti staf keuangan saya, Devi, yang belum kunjung jua muncul di lobi keberangkatan Terminal 2F. Pagi itu, kami bertiga akan berangkat ke Padang dengan GA-164 jam 06.10 WIB.

Sambil bertelpon ria, saya dan Lisa celingukan cari si Devi, yg katanya udah masuk ke dalam. Kami berdua, yg sedari tadi menunggu di check-in lobby, di mesin X-ray scanner, kok ga liat dia masuk ya??? Padahal boarding pass si Devi itu ada di saya. Cek punya cek, ternyata temen saya satu itu sudah berada di Boarding Gate F6!

Lah gimana caranya coba??? Bukannya waktu mau masuk ke check-in lobby, petugas sudah mencegat kita untuk menunjukkan tiket atau e-ticket. Beberapa waktu lalu saya pernah posting soal e-ticket yg ga selaras sama pola pengamanan di bandara Cengkareng (baca di sini), yg mengharuskan calon penumpang menunjukkan lembaran e-ticket sebelum masuk check-in lobby sekalipun, padahal di check-in counter kita malah cukup menunjukkan KTP/SIM! Nah kali ini sangat kontradiktif khan, secara Devi bisa tembus sampai sekuriti bandara sampai ke boarding gate F6 tanpa boarding pass!

Usut punya usut, ternyata saat dia turun dari bus Damri, dia barengan dengan serombongan penumpang yg nampaknya berombongan (group travel). Mungkin petugas ga terlalu ketat menyortir penumpang saat itu, secara Devi terjebak di dalam kerumunan. Hebaaat... hebaaat... petugas sekuriti bandara ternyata juga manusia!

gambar dari sini.
©ciput 2007. all rights reserved.


Blog Entry[Travel] Lama Amat Sih Refund TiketNov 13, '07 12:29 AM
for everyone
Pernah ada yg ngurus refund tiket pesawat? Itu loh tiket pesawat yg kita batal berangkat terus kita minta duitnya balik, tentunya setelah dipotong berapa persen tergantung pada berapa lama waktunya pembatalan terhadap jadwal penerbangan. Kalau ga salah bisa sampai sisa 25% kalau hari H-nya.

Nah di kantor tuh saya sering banget mengalami pembatalan tiket pesawat. Kebanyakan terjadi lantaran si calon penumpang, yg sebagian besar pejabat negara dan konsultan *yg notabene dosen/PNS* ga bisa menepati jadwal penerbangan lantaran satu dan lain hal.

Bukannya pelit sama duit sih, secara anggarannya pun berlebih, namun namanya juga tiket bisa di-refund, ya dikerjakan juga lah dan perlu untuk keperluan administrasi.

Cuma lamanya itu looh... ga sebanding sama besaran nominal uang yg di-refund. Misalnya tiket Jakarta-Batam seharga 600 ribu, 25% pan cuma 150 ribu, masak nunggunya 3 bulan u/ cari duit refund-nya???? *gubrakz*

Apa airline ga ada niat mo ngembaliin uang kita kali yak??? Atau jangan-jangan tuh duit asli dikumpulin, khan bisa jadi banyak, dan lumayan kalo diputer dulu u/ investasi, seperti beli/sewa pesawat. (cmiiw)

gambar dari sini.
©ciput 2007. all rights reserved.

Link: http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/t...

Baca berita ini kok jadi males sih... tau ah mo ngomong apa lagi, kata JK sih BBM bersubsidi tak bakal naik biar kata harga minyak bumi dunia sudah tembus US$100!

Bener sih ga naek, tapi kalo kendaraan pribadi ga boleh beli, lantas??? Ya sud, emang gw pikirin, pan masih ada Pertamax dan Pertamax Plus, bahkan kemarin sempat lihat di Matraman bakal ada SPBU Shell.

Boleh laaaa... cuma sayang aja doping V-Octane Booster masih sisa seliter tuh di garasi (buat pemakaian 4x full tank ngisi euy) :((

hiks... :(

Blog Entry[Busway] Protes Warga PI = Ego Urbanist?Nov 7, '07 8:57 PM
for everyone
Rabu (07.11.07), sebelum berangkat kerja, saya sempat menyimak tayangan Selamat Pagi di Trans7. Di layar kaca, tampak Dessy Ratnasari, penyanyi yg dulu pernah tenarl dengan pernyataan "No Comment" kepada pers, sedang mewawancarai seorang pria paruh baya di tepi jalan Metro Pondok Indah.

Dalam wawancara seputar protes warga PI terhadap proyek busway, muncul dialog berikut (kira-kira secara ga direkam):

Desy: Jadi warga menolak busway karena belum ada AMDAL atau bagaimana?
Warga: Ada AMDAL atau tidak, kami tetap menolak busway lewat sini.
Desy: Jadi ada AMDAL pun tetap ditolak?
Warga: Ya, karena kami tidak butuh busway. Dulu khan rencananya mau lewat Pondok Ranji. Memang di sana lebih banyak orang yg perlu busway, seperti dari Bintaro, Rempoa, Tanah Kusir. Bukan di sini. Lagipula fasilitas jalan ini milik warga, kami yang bayar tanam pohon di taman dan jalur hijau, kami yg bayar perawatannya, kenapa masih juga diganggu busway???
Desy: *speechless*

Di Koran Tempo 6 Oktober 2007:
Pihak yang pro terhadap pembangunan busway mengatakan bahwa alasan lingkungan yang dikemukakan oleh warga Pondok Indah hanya merupakan kedok. Menurut mereka, sejatinya orang-orang kaya di Pondok Indah, yang sebagian pengguna kendaraan bermotor pribadi, tidak mau terganggu oleh kehadiran transportasi massal.

Memang isu AMDAL yg diusung oleh warga, seperti dikutip di Tempointeraktif (26.10.07):

Menurut wakil ketua Kelompok Peduli dan Tertib Lingkungan Pondok Indah, Louis M Pakaila, gugatan ini diajukan lantaran pemerintah Jakarta telah melanggar Undang-undang nomer 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Menurut Pakaila, setiap kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan, maka wajib memiliki Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan hidup). Menurut Louis, Amdal yang dibuat oleh pemerintah amburadul dan asal-asalan. "Kami sebagai warganya tidak dilibatkan," kata dia ketika dihubungi melalui telepon, Jumat (26/10).

Namun dari ungkapan pernyataan Bapak yg diwawancarai di atas tadi, jelas sekali lebih diwarnai oleh ego kaum urban kelas menengah ke atas, yg memang kental sekali auranya di perumahan mewah ini. Tidak terdengar adanya toleransi sosial tersirat maupun tersurat dalam pernyataan si Bapak tadi, terlepas dari kontroversi soal studi AMDAL yg diduga kuat asal jadi secara cuma sebulan saja penyusunannya, bahkan ada indikasi dibuat saat proyek sudah dimulai.

Terlepas dari isu tersebut, dimana proyek ini berpeluang mengancam keberlangsungan hijaunya sebagian badan jalan secara bakal menebang pepohonan dan membabat rerumputan, yg menurut Bapak tadi mereka yg bayar biayanya, (imho) nampaknya yg penting mereka hidup tenang, orang lain silakan susah!

Si Bapak tidak sadar kali ya secara jalan raya, biar kata di dalam perumahan sekali pun sebenarnya tetap area publik, apalagi kasus seperti Jl. Metro Pondok Indah, yg sudah tahunan digunakan orang untuk melintas dari Lebak Bulus/Ciputat ke Kebayoran/Permata Hijau. Kalau mau protes, kenapa tidak sekalian ditutup saja itu jalan, sekalian pakai palang/portal!!!

Toh kalau merujuk pada opini si Bapak barusan, jalan itu milik warga kok, bukan jalan umum! Hmmm si Bapak rupanya tidak mengerti yg namanya asas hukum pertanahan, yg mana jalan utama yg sudah digunakan untuk jalan umum, ya jadi domain publik. Tak perkara pohon palem itu mereka yg tanam, taman-taman mereka yg rawat *tepatnya bayar tukang untuk ngerawat sih*.

Perkara bayar membayar fasilitas umum, itu ada asasnya kok. Yg mana jalan di depan rumah kita, itu kita yg biayai. Itu sebabnya kenapa harga lahan (bukan tanah ya) lebih mahal per meternya dibandingkan nilainya. Karena meski practically kita bayar lahan yg dipakai untuk jalan, tapi jalan tetap milik publik. Huh! Dasar egois memang warga macam begini.

Terlepas dari itu semua, sudah saatnya pula Pemprov DKI Jakarta, di bawah pimpinan sang ahli tata kota Dr. Ing. Fauzi Bowo, mulai introspeksi diri dan membangun serta menata kota secara benar. Masyarakat urban di Jakarta tidaklah sebodoh yg Anda, para birokrat, duga.

Now It's time for good governance, yg berfihak pada rakyat dan memerhatikan keberlanjutan lingkungan ruang hidup warga yg sudah semakin serba terbatas dan terus kian menyempit ini.

Gambar dari Kompas.

©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Travelling] E-Ticket vs Perilaku Sosial KitaOct 8, '07 12:39 PM
for everyone
Semua mafhum kalau sekarang sudah jamannya electronic ticket (e-ticket) bila kita hendak bepergian dengan pesawat udara.

Paling tidak dipelopori oleh Garuda pada awal 2000an. Belakangan maskapai swasta juga mulai menerapkan sistem ini, misalnya Lion/Wings Air dan AirAsia.

Banyak keuntungan dari penggunaan tiket ini.
  1. Tidak perlu takut tiket hilang, cukup tunjukkan KTP dan sebut nomor booking (bisa minta di tempat kita beli tiket) dan loket layanan maskapai akan mencetaknya ulang, bebas biaya. Bahkan untuk keperluan laporan keuangan pun mereka siap membantu, asalkan belum terlalu lama dengan saat kita menggunakannya, let say 1 bulan.
  2. Harga yg tertera sangat jelas, well selama tinta printer dot matrix di loket belum kering sih, ga seperti tiket jenis lama yg seringkali ga kebaca tindasannya. Ini bisa mengurangi kemungkinan ditolak reimbursement oleh bendahara kantor
  3. Namanya juga e-ticket, pastinya ga terlalu banyak makan kertas, macam tiket model lama, yg infonya cuma selembar, tapi tindasan, sampul depan-belakang dan info lain yg jarang dibaca pelanggan sudah makan kertas 5-6 kali lebih banyak. Hal ini tentunya lebih disukai oleh pegiat lingkungan, yg paling benci hutan ditebang sekedar u/ tiket pesawat dan mengurangi sampah juga khan.
Ironisnya, kemajuan teknologi ini tidak selalu seiring sejalan dengan perkembangan perilaku sosial masyarakat penggunanya. Perilaku-perilaku berikut masih sering kita dijumpai di sekitar kita.
  1. Banyak orang, terutama boss atau pejabat, yg masih minta dikirimi tiket fisik, akibatnya lembaran cetak e-ticket masih selalu ditunggu untuk diantar oleh kurir agen tiket. Bahkan ujar seorang pejabat di kantor: "Ngga afdol kalau berangkat belum pegang tiket!" *halah*
    Padahal selain boros kertas, perilaku ini juga membebani biaya pengadaan tiket, secara nyuruh kurir khan butuh ongkos (bensin, gaji).
  2. Petugas keamanan bandara, seperti di pintu masuk ruang lapor diri (check-in) terminal 2F Bandara Sukarno Hatta Cengkareng, masih meminta kita menunjukkan tiket saat kita mau masuk ke lobby terminal. Padahal di atas meja check-in selalu bertengger billboard bertuliskan: Tunjukkan Tanda Pengenal Anda/Show Your Photo ID. Namun coba deh kalau lagi iseng, terobos pintu masuk tersebut tanpa tiket, sudah pasti kita diusir *cape deeeh*
Lantas buat apa e-ticket kalau perilaku manusia yg menggunakannya tidak sesuai? Percuma dunk...

gambar dari sini.
©iput 2007 all rights reserved.

Event[Lingkungan] Sudirman-Thamrin Bebas Kendaraan?Sep 19, '07 5:48 PM
for everyone
Start:     Sep 22, '07 06:00a
End:     Sep 22, '07 6:00p
Location:     Sudirman-Thamrin, Jakarta
Diforward dari Tempo Interaktif.
Atau ganti modanya semua sama mobil listrik murmer di foto samping ini.

©iput2007 all rights reserved
didukung oleh: TERUCI
------------------------------------------------------------------------------------------
22 September Jalan Sudirman- Thamrin Bebas Kendaraan
Rabu, 19 September 2007 | 13:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:

Badan Pengelolan Lingkungan Hidup Daerah Propinsi DKI Jakarta akan menerapkan hari bebas kendaraan bermotor atau ''<>b>Car Free Day'' pada hari Sabtu, 22 September 2007. Uji coba itu dilakukan di Jalan Sudirman sampai Jalan Thamrin.

''Kendaraan pribadi dilarang melalui ruas jalan itu, kecuali kendaraan umum,''kata Kepala BPLHD, Budirama Natakusumah kepada wartawan hari ini. BPLHD telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan penutupan jalan tersebut.

Menurut Budirama, uji coba akan dilaksanakan selama 12 jam, mulai pukul 06.00-18.00 WIB. Tujuannya untuk mengurangai polusi udara dan menambah jumlah hari yang masuk kategori baik di Jakarta.

Berdasarkan data hasil monitoring BPLHD pada tahun 2005, jumlah hari warga Jakarta menikmati udara bersih adalah 28 hari, Tahun 2006 menjadi 45 hari dan sampai Juli 2007 menjadi 54 hari. ''Peningkatan itu salah satunya disebabkan oleh penggunaan bahan bakar gas dan busway,''ujarnya.

Rudy Prasetyo

Blog Entry[Travelling] Toll-Mare (Disorientasi Jilid 2)Sep 14, '07 11:47 AM
for everyone
Kalau dalam episode sebelumnya, gara-gara lift, saya mengalami disorientasi ruang, baik dalam ujud kamar maupun lantai, secara saking seringnya pindah-pindah hotel dari satu kota ke kota lainnya dalam tempo 2 bulan, kejadian pada Rabu 12.09.07 kemarin benar-benar memalukan dan mudah-mudahan ini titik kulminasinya.

Ceritanya, Rabu pagi jam 7.30, saya dan tiga orang teman akan bepergian ke Bandung, dalam rangka menghadiri lokakarya dengan para pakar lingkungan hidup di Hotel Savoy Homann. Pagi itu, si Teri, yang sudah mendekam di garasi selama tiga hari terakhir, secara saya tinggal pergi dinas ke Makassar, sudah siap tempur dan tangki pun penuh terisi bensin.

Setelah menjemput dua orang rekan yg menanti di lobby kantor, kami pun meluncur ke arah Cililitan, dan dengan tenang saya kemudikan si Teri melalui underpass yg melintasi perempatan yg belum terlalu padat dibanding sore hari itu. Keluar dari terowongan, si Teri pun saya belokkan ke arah terowongan yg mengarah ke Jalan Tol Jagorawi.

Begitu Teri melaju di jalur cepat tol yg dibangun tahun 1978 itu *heran yak sampai sekarang kok belum balik modal, malah dinaikin tarifnya* saya baru sadar dan spontan rekan saya yg duduk di belakang bertanya: Lho Put, kok malah ke Jagorawi sih?

Pecahlah tawa ketiga rekan saya. Sobat saya, Thomas Barano, yg notabene baru tiga bulan tinggal di Jakarta setelah belasan tahun bermukim di Merauke dan duduk di sebelah kiri saya pun habis dikatai tidak becus jadi navigator. Salah seorang rekan yg duduk di belakang pun berujar, "Duh susah nih naik mobil sama orang lapangan, ga ngerti jalan di Jakarta ya? Ya sudah, mutar balik di Taman Mini aja."

Saya tak mau kalah gengsi di sini dan berucap: "Ga usah Mba, saya memang mau jajal ruas tol JORR yg baru arah Cilangkap-Cikunir kok!"


Tak lama kami melintas di jalan tol lingkar luar yg kenaikan tarifnya paling gila-gilaan itu, Bapak Direktur, yg bersama sopirnya sedang beristirahat di Setopan Km 57 Cikampek menelpon di HP rekan yg duduk di jok belakang. Saat ditanya kami ada dimana, spontan rekan saya menjawab kalau kami kesasar ke Tol Jagorawi. Saya pun spontan berteriak, "Bukan Pak, bukan kesasar, tapi lagi nyobain tol baru!"

Iya dunk, masak orang lapangan kesasar, yg ada nyoba rute baru toh


Gambar milik tempointeraktif.

[Catatan redaksi: Jangan mau ketinggalan ikut petisi class action menentang kenaikan tarif tol, selengkapnya klik di sini]

©iput2007 all rights reserved


Blog Entry[Travelling] Kirain Udah Selesai, Ternyata...Sep 9, '07 10:45 AM
for everyone
Setelah melakukan serangkaian perjalanan dari satu kota ke kota lain di 5 pulau besar *saat ini saya sedang di Makassar*, saya pikir semua perjalanan ini bakal usai sehari menjelang bulan Puasa, sebagaimana kebiasaan kantor-kantor di negeri ini. Ternyata... dugaan saya itu salah besar, secara Jumat sore saya buka email dan ada request untuk pergi ke Padang pada 18 s/d 21 September.

Sigh! Padahal tanggal 21-23 tersebut saya masih harus konsinyasi pekerjaan dengan para tenaga ahli di Hotel Plaza Kota Bukit Indah Cikampek!  Padahal juga seminggu setelah Lebaran, tiket ke Denmark sudah dibook!
Duuuh kapan sih selesainya gaya hidup nomaden begini.

Anak-anak saya jadi terbiasa, menyaksikan Ayahnya pergi naik bajaj dengan 1 tas ransel laptop di punggung dan 1 tas trolley diseret meluncur ke terminal Damri Rawamangun setiap Minggu siang atau sore dan kembali ke rumah 2-3 hari kemudian. Mudah-mudahan mereka tidak marah ya, secara Selasa malam saya baru pulang dan Rabu paginya sudah ngebut ke Bandung for 1 day workshop.

Lama-lama saya pun jadi terbiasa, menunggu dan menunggu di ruang tunggu bandara seperti tadi siang saat Wings Air IW 8552 saya di-delay selama 2 jam! Ruang tunggu A3 pun penuh sesak bak terminal bus Pulogadung atau Stasiun KA Pasarsenen di kala musim mudik Lebaran.

Air liur yg sempat menetes membayangkan Sop Konro Karebosi musti sejenak ditahan dan diganjal soto ayam tak enak tapi mahal di Dapur Pasundan Terminal 1A . Untung waktu belum terlalu malam saat saya mendarat di Bandara Hasanuddin Maros, sehingga sempat menyantap sop konro yg hangat dan lezat itu sebelum berurusan lagi dengan smartkey yg macet dan tak bisa masuk ke kamar di lantai 4 Hotel Horison Makassar sekitar 1 jam lebih!

Duuh! Suara gaduh musik GiGi tembus di kamarku pula... Ah untung jam 10 nanti sudah usai, kata bellboy yg mengantar bagasiku ke kamar.

gambar dipinjem dari sini.

Blog Entry[Travelling] Delayed by the Wagub Jateng :((Sep 2, '07 1:29 PM
for everyone
Setelah ter-cancel by the system tadi sore (02.09.07), saya akhirnya boarding di Mandala Air RI 292 pada pukul 20.05! Ya, delay lagi 20 menit dari jadwal sebelumnya (19.45) yg sebenarnya pun sudah delay dari jadwal aslinya (18.40)

Pesawat B737-200 itu pun penuh sesak penumpang. Entah ada apa gerangan hari ini semua penerbangan full. Pendingin ruangan pun nyaris tak berguna, secara udara tetap pengap dan bau pun bercampur aduk bak di dalam bis kota saja.

Tunggu punya tunggu, semua penumpang sudah duduk manis di bangku yg sempit, kok pesawat belum ada tanda-tanda berangkat (take off). Jangankan berangkat, lha pintu pesawat pun belum ditutup je. Ada apa ini ada apa?

Salah seorang penumpang pun berteriak: "Wooooy, berangkat yoooo! Udah hampir jam setengah sembilan nih!" Ya, arloji Timexku sudah menunjuk jam 20.25 rupanya.

Seorang pramugari meraih pengeras suara dan berbicara dengan suara lembut:

"Penumpang Mandala yang terhormat, mohon maaf penerbangan ini sedikit tertunda karena kami masih menunggu rombongan Wagub Semarang"

Gubrakz! Spontan konser huuuuuuuuuuuuuuuuuuuu pun membahana dari seluruh penjuru kabin. Ya iya lah gimana ga protes, secara tahu kalau alasannya bukan teknis penerbangan, tapi kelakuan ga jelas dari seorang pejabat. Lagipula si pramugari bego amat yak, mana ada lagi Wagub Semarang, yg ada tuh Wagub Jawa Tengah atau Walikota Semarang. Jangan digabung, malah kleru Mbakyu!

Tak lama kemudian, tiga orang pria berbaju safari coklat masuk ke kabin dan duduk di deret paling depan di pesawat yg seluruhnya kelas ekonomi ini. Daaaan... sudah bisa diduga, konser huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu pun kembali membahana.

Begitu sang Wagub duduk, pintu pesawat pun ditutup dan pesawat mulai bergerak ke arah landas pacu (runway). Arloji saya sudah menunjuk pukul 20.30.

Akhirnya setelah terbang selama 45 menit, saya pun mendarat di bandara Ahmad Yani Kalibanteng Semarang. Di lobby kedatangan sudah menunggu dengan setia *halah* ibu sekretaris dan sang travel agent, yg pasang muka takut aku semprot secara sudah bikin kesalahan telat mengissued tiket Sabtu lalu. *grin*

Semarang ini sebenarnya bukanlah kota yang asing bagi saya. Semasa bayi, saya pernah tinggal di rumah Eyang di Wonodri Baru (seberang Pasar Peterongan). Terus 5,5 tahun saya kuliah di kota ini antara 1988-1993. Bahkan sebagian keluarga saya pun banyak yg dimakamkan di TPU Bergota dan ada yg masih beredar di kota Wingko dan Lumpia ini.

Namun, jujurly baru kali ini saya datang via udara! Bahkan baru kali ini saya injakkan kaki di bandara Ahmad Yani, yg notabene cuma berjarak 2,5 km dari rumah Oom yg pernah saya tinggal di bulan-bulan terakhir kuliah saya di Undip, yaitu di Puspowarno (belakang Pasar Karangayu).

Kalo orang Semarang bilang "Kok le ngimut!" Sekali-kalinya pulkam naik pesawat, kok yo apes gene sih! Kalau gitu jangan sampai deh ke Jogja atau Solo naik pesawat, secara belum pernah, nanti malah keleleran kayak gini lagi deh. Capeee deeeeh

foto ilustrasi dipinjem dari Kompas.

©iput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Travelling] Cancelled by the System :(Sep 2, '07 7:06 AM
for everyone
Sebenarnya perjalanan hari ini adalah yg kesekian terhitung sejak Juli lalu, tapi hambatan selalu saja muncul dan sebagian besar memang human error. Namun kali ini sedikit beda, secara yg bikin ulah malah sistem, tepatnya booking system dari perusahaan penerbangan milik negara kita tercinta (baca: GARUDA).

Kalau di perjalanan terakhir, saya dan teman-teman ketinggalan pesawat, kali ini giliran saya tidak bisa naik ke pesawat tujuan Semarang. Gara-garanya Sabtu (01.09.07) kemarin, travel agent saya keliru lihat jam, sehingga dia telat meng-issued tiket dan alhasil tiket saya di GA 242  jam 17.10 malah ter-cancel otomatis oleh sistem, secara sudah terkena batas waktu akhir konfirmasi tiket. Terpaksa rebooking dan sialnya statusnya yg tadinya OK/Confirmed, malah turun jadi WAITING LIST!

Travel agent saya bilang kalau nanti di check-in counter di bandara, semuanya bisa diatur. Nyatanya? Saat posting ini (02.09.07 18.10 WIB) saya masih terduduk di bandara secara ga kebagian seat!

Namun secara sudah komitmen hadir di Semarang malam ini, kalau nekat berangkat pakai flight pertama besok pagi bakalan dicemberutin orang sekampung, alhasil saya coba cari tiket penerbangan lain dan Alhamdulillah dapat seat di Mandala RI 292, meski harus ganti nama jadi Hengky Ongko *gubrakz *

Merasa sudah tenang bakal berangkat jam 18.40 nanti, saya pun jalan santai masuk ke ruang tunggu boarding di Terminal 1C. Maklum nama di tiket bukan nama saya dan khawatir tidak tembus sekuriti Bandara Sukarno-Hatta. Alhamdulillah penjagaan di terminal ini rada longgar, tak seperti di Terminal 2F, yg mana Mas Sabri pernah nyaris batal berangkat ke Batam tempo hari dan terpaksa issued tiket baru atas namanya, secara sekuriti dekat ruang tunggu boarding ga kasih dia masuk.

Begitu sampai di boarding lounge C1, saya baca tulisan tangan di counter yang bertuliskan:

RI-292 ETD (estimated time departure) 19.45.
Mohon maaf atas keterlambatan ini.
Ttd,
Mandala Airlines


Gubrakz! Berarti saya masih harus ngendon lebih lama di ruang tunggu boarding terminal 1C. Padahal ibu sekretaris dan teman-teman serombongan saya, yang naik GA 242 (17.10) dan GA 244 (18.10) sudah check-in di Hotel Santika Semarang!

Sabar, sabar ya Put... masih ada minimal 1 perjalanan lagi ke Makassar Minggu (09.09.07) yad... irit-irit itu energi, biar ga jadi negatif semua. Mending posting aja di MP, biar uneg-uneg keluar semua dan pikiran tenang *ngehibur diri sendiri* Lagian dua tiket yg batal dipakai hari ini bisa direroute ke Makassar ini khan, jadi ga rugi-rugi amat tho.

gambar diunduh dari sini.
©iput 2007 all rights reserved.

Category:Other
Sewaktu ada anjuran tidak menggunakan perusahaan penerbangan Indonesia dari Komisi Uni Eropa mulai 6 Juli 2007, termasuk Garuda Indonesia, saya sempat bertanya-tanya ada apa gerangan. Jangan-jangan ini black campaign dari perusahaan pembikin pesawat di Eropa sana untuk memaksa perusahaan-perusahaan ini, yg citranya sudah babak belur dengan banyaknya kecelakaan belakangan ini, untuk membeli pesawat baru dari mereka.

Awalnya saya pun tak ambil pusing, secara pengalaman saya selama ini layanan Garuda Indonesia masih boleh dibilang lebih baik dari perusahaan sejenis di negeri ini. Apalagi saya memang mau tidak mau harus terbang dengan mereka ke Denpasar pada 23 dan 26 Juli lalu.

Nyatanya memang banyak kekacauan selama perjalanan saya dengan penerbangan resmi (flag carrier) Indonesia ini.

Pertama, sewaktu berangkat pada 23 Juli 2007 dari terminal 2F Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng. Sewaktu check-in, yang mana kami melakukan perjalanan secara berkelompok (group traveling), kami check-in bareng. Namun pas menunggu print-out boarding pass, kami baru tahu kalau sebagian (8) dari tiket kami mengalami double booking dan dua kali pembayaran airport tax.

Ceritanya salah seorang rekan kami berinisiatif melakukan check-in terlebih dahulu di City Check-in Counter di Senayan. Dia membawa 8 lembar tiket, yg bentuknya e-tiket, ke sana dan melakukan check-in sehari sebelum keberangkatan. Setiba di bandara, dia langsung membayar airport tax di ruang tunggu keberangkatan (departure lobby) Gate 16. Pada saat yg bersamaan, kami pun check-in bareng ber-14 dan bayar 14 lembar airport tax di check-in counter, tanpa mengetahui kalau 8 dari 15 tiket sudah check-in duluan.

Herannya kenapa sistem tidak menutup otomatis pada saat check-in pertama. Kenapa nama ke-8 penumpang masih berstatus belum check-in pada saat kami check ini lagi.

Kedua, pada saat kami akan kembali ke Jakarta pada Kamis (26/07). Terjadi penundaan (delay) pada hampir semua penerbangan yang digunakan oleh anggota rombongan kami. Memang jadwal kepulangan kami tidaklah berbarengan lagi, secara ada sebagian dari kami yg memiliki keperluan mendesak dan perlu pulang lebih dini, sementara saya dan beberapa rekan memilih pulang terakhir pada Kamis malam untuk jeda sejenak dari rutinitas kerja (baca: piknik murmer :D) selain harus membereskan urusan-urusan tetek bengek yg tersisa dengan pihak hotel dan agen perjalanan/event organiser.

Penerbangan rekan kami yg dijadwalkan pada jam 8.00 WITA ditunda hingga jam 15.30! Secara penumpang protes harus nunggu sebegitu lama, alhasil pihak Garuda mengembalikan tiket (refund dan memindahkan penumpang ke Adam Air pada jam 10.00 :(

Penerbangan kami pun, yg semula dijadwalkan pada pukul 18.05 WITA ditunda ke jam 21.15! Untung kami sudah tahu sejak pagi harinya, sehingga kami tak perlu buru2 datang ke bandara Ngurah Rai. Tapi sebel khan secara kami baru sampai rumah pada pukul 23.30 WIB! Padahal kalau tidak delay, mungkin saya masih sempat ketemu anak-anak saya, yg mulai jarang ketemu Ayahnya ini :(

Itu pun pas check-in, kami harus menunggu lama hanya lantaran sistem informasi tiket sulit diakses oleh petugas hanya lantaran ga ada nomor tiket yg bisa dimasukkan ke dalam sistem di komputer :(

Bahkan penerbangan yg berisikan pejabat tinggi negara ini pun mengalami delay, dan lebih sedih lagi delaynya terjadi pada penerbangan dari dan ke salah satu daerah tujuan wisata terpopuler di dunia. Sigh...

Yah kalau sudah begini kasusnya, saya jadi setuju deh sama rekomendasi Komisi Uni Eropa tadi. Ya iyalah siapa juga ga bete kalau agenda atau jadwal perjalananan yg sudah kita atur sedemikian rupa bisa jadi berantakan :((

©ciput 2007 all rights reserved.


Blog Entry[Busway] Kudu Hamil Dulu, Baru Dikasih DudukMay 20, '07 5:21 AM
for everyone
Di hari terakhir long-wiken ini saya kebagian tugas babysitting anak-anak saya sendiri, secara Bunda lagi super duper sibuk.

Sabtu (19/05/07) beliau ikut seminar
Kumon tentang pola pengasuhan anak yang tepat dalam keluarga di Hotel Gran Melia Kuningan. Lalu, hari ini dia ada mengantar foto Mbah Kakung pemilik rumah yang kami kontrak ini ke pengobatan alternatif Ibu Sulistin di Jl. Buncit Raya dan pulangnya singgah ambil pesanan di grosir sprei di Pondok Kelapa.

Tuh khan benar-benar hari yang sibuk, apalagi saya selain babysitting harus mengawasi pekerjaan terjemahan dokumen kantor (dan ada yg kerjaan sambilan juga sih) sebanyak 4 dokumen sekaligus! Lengkap sudah penderitaan... mana kedua jendral kancil saya ini super duper jahil semuah! :((

Selagi asyik mengedit dokumen yang diterjemahkan oleh ibu sekretaris dan melayani konsultasi terjemahan dari salah satu penerjemah yang saya hire (Ibu Dina Amallia), sebuah SMS masuk ke HP saya.

Dari Bunda (0817*******):

"Enak euy jadi org hamil, biar busway penuh tetep duduk :) bla... bla... bla... (disensor secara isinya pesan sponsor untuk saya)"

Ini bukan kali pertama, secara sudah beberapa hari belakangan ini Bunda sering bepergian naik busway. Selain dibantu oleh petugas Transjakarta yang menjaga pintu masuk/keluar untuk dapat tempat duduk, kadangkala ada pula penumpang yang sedang duduk ikhlas memberikan tempat duduknya untuk Bunda.

Well, selain membuktikan kalau rambu himbauan untuk penumpang mulai dihiraukan oleh sebagian penumpang, ini salah satu bukti kecil kalau sebagian orang Jakarta ternyata masih punya nurani. Meski kudu hamil segala dulu, baru dapat perlakuan yang manusiawi ini :D.

Semoga fenomena ini terus berlanjut dan berkembang meluas ke anggota masyarakat lainnya dan akhirnya Indonesia (khususnya Jakarta) jadi lebih baik... AMIIIIIIIIIIINNNN!

gambar dari salah satu jurnalnya Bang Latief.

©ciput2007 all rights reserved.

Dalam 2,5 bulan terakhir, telah terjadi 3 kali kecelakaan pesawat terbang di negeri ini. Mulai dari yang cuma bisa diduga-duga lokasi jatuhnya, yang rusak berat (baca: patah) saat mendarat tanpa ada satu pun korban jiwa sampai yang terbakar habis di ujung landas pacu dan merenggut 21 nyawa.

Dari kesemua kecelakaan itu, pemerintah telah menurunkan tim KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk menyelidiki sebab-musabab kecelakaan. Salah satunya dengan mendengarkan isi blackbox a.k.a. flight data recorder, yang berisikan informasi suara dan data pesawat selama penerbangan.

Untuk membongkar isinya, kotak yang ternyata berwarna oranye itu selalu dikirim ke luar negeri seperti ke AS atau Australia (kasus GA 200 Rabu 7 Maret 2007 lalu). Pertanyaan yang selalu mengganjal di benak saya: Kenapa harus dikirim ke luar negeri segala? Kenapa tidak beli sendiri? Memangnya mahal?

Kalau mahal, seberapa mahal sih dibandingkan harga yang harus dibayar para korban? Saya pikir sudah tidak ada alasan lagi bagi pemerintah, khususnya Departemen Perhubungan, untuk tidak membeli teknologi yang bisa membantu penyempurnaan layanan industri transportasi, khususnya industri penerbangan ini.

Memang negeri yang aneh. Yang selalu diributin yang ga penting melulu...

gambar: blackbox Egypt Air EA990 yang hancur (diunduh dari sini)
©iput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Pesawat] Memang Butuh Pilot?Mar 8, '07 10:17 AM
for everyone
Saat saya bermukim di Nabire (Papua) sekitar 1997-1999, saya seringkali terpaksa transit dan menginap di Biak secara pesawat belum tentu direct-connecting. Dari Nabire, saya tak punya pilihan harus naik Fokker F-27 Merpati dan turun di bandara Frans Kaisiepo.

Lalu di Biak, kalau beruntung, saya bisa kejar pesawat tujuan Jakarta, biasanya Boeing 737-200 Merpati atau 737-400 Garuda. Kalau tidak beruntung, lantas saya terpaksa harus menginap di kota yang pernah menjadi pangkalan utama Kaigun (AL Dai Nippon) dan punya tugu peringatan Jendral Douglas McArthur ini.

Saking seringnya saya transit di kota ini, tidak hanya kalau dalam perjalanan dari/ke Jakarta, tapi juga dari Sorong, Manokwari, Serui atau Jayapura, lama kelamaan saya kenal orang-orang yang bekerja di bandara internasional yang nyaris tak pernah lagi didarati penerbangan luar negeri sejak ditutupnya penerbangan komersial DC-10 Garuda Denpasar – Los Angeles pada 1990 itu.

Mulai dari porter sampai kepala bandara, mulai dari supir taksi sampai pilot. Salah satunya adalah Mas Kus, yang saat itu menjadi Kepala Distrik Merpati Biak. Seringkali pula saya ditawari menginap di rumahnya, yang tak jauh dari landasan pacu (runway) bila hotel/losmen di Biak fully-booked.

Suatu sore di pertengahan 1998, saya bercengkrama dengan Mas Kus di teras rumahnya. Cerita punya cerita, Mas Kus menceritakan tentang berbagai fasilitas yang ada di bandara yang saking panjangnya sampai tak ada satu pesawatpun yang mendarat sampai pernah menghabiskan seluruh panjang landasan ini.

Salah satu fasilitas yang diceritakan lelaki asal Jakarta ini adalah fasilitas auto pilot yang terdapat di tower ATC (Air Traffic Control). Fasilitas ini memungkinkan pesawat modern yang sudah diperlengkapi dengan teknologi fly-by-wire bisa dipiloti dari darat, mirip-mirip pesawat aeromodelling.

Dengan alat ini pesawat bisa dipiloti dari darat selama masih dalam jangkauan radar, mulai dari sejak lepas landas (take-off), selama terbang, mendarat (landing) sampai parkir (taxi) di apron. Namun memang yang berhak memakai perangkat ini hanyalah mereka yang berlisensi pilot, minimal PPL (Private Pilot Lisence).

Pertanyaan saya: apakah memang pesawat yang mendarat harus selalu dengan pilot? Jawaban Mas Kus: tidak mesti, terutama bila keadaan darurat, dimana pilot atau copilot tidak ada (sakit, pingsan, meninggal). Kalau pesawat Indonesia semua dipegang langsung oleh pilot, lebih karena jarang terjadi kejadian pilot/copilot tak bisa bertugas seperti di film-film Holywood.

Jadi kata Mas Kus, film-film Barat dimana penumpang ada yang terpaksa jadi pilot dadakan di atas Boeing 747 itu bohong belaka. Cukup putar switch autopilot, pesawat pun bisa disetir dari darat. Lha lantas kenapa pesawat GA-200 jatuh di Jogja? Ya tentunya faktor kesalahan manusia yang lebih berperan di sini. Benar tidaknya, wallahualam.

gambar dari sini.

©iput 2007 all rights reserved.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help