Ciput's posts with tag: retrospeksi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag retrospeksi
Blog Entry[Renungan] Cukup Sebutir BerasJul 20, '08 12:06 PM
for everyone
Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya. Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara Uni Sovyet. Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, "Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya."

Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras. Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka. Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.

Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.

Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya. Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang tepat. Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil namun dilakukan dengan sepenuh hati. Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat. Maukah kita?

(Kisah di atas diceritakan langsung oleh seorang pengusaha Indonesia yang kerap kali berkunjung ke negara Cina).
==============================================
Tambahan dari gw:
Gw pernah ngayal sekiranya penduduk Indonesia rela ngumpulin seribu perak aja per hari... dalam satu hari bisa terkumpul 200 Milyar! Kalau dana patungan ini dimanfaatin dengan benar dan jujur, utang2 negeri kita ini bisa dibayar tanpa harus narik pajak, naikin harga BBM, dlsb.

Bukan hal yg aneh sebenarnya di negeri kita. Dulu di kampung2 di Jawa (Jateng, DIY, Jatim) ada budaya JIMPITAN. Setiap rumah wajib menyumbang sejumput (sejimpit, Jw) beras, yg diletak di depan pagar rumah. Nanti para petugas ronda/kamling desa mengumpulkannya dan disetor ke Balai Desa. Selanjutnya digunakan u/ menjalankan pemerintahan dan pembangunan desa. Sayang budaya bagus ini hilang, bahkan kalau pun ada yg naruh beras di pagar, salah2 malah diembat maling *hiks*

Percakapan tadi pagi antara ibu mertua dan saya tentang HP saya yg hilang dicopet orang di KFC Ekalokasari Plaza Bogor pada Minggu (20/04/08).

Ibu (I): Emang kenapa HPnya Mas?

Saya (C): Hilang dicopet orang!
I: Yg mana?
C: Dua-duanya!
I: Kok bisa dua-duanya?
C: Soalnya HP saya disimpan dalam satu tas HP yg isinya bisa dua HP sekaligus, gara2 sabuk lepas, jadi digeletakin di kursi sebelah saya dan jadi sasaran copet!
I: Waaaah, sayang amat, emang harga berapaan HPnya?
C: Saya mah ga masalahin harga HPnya Bu, kalau ngga, saya ngga bakal ikhlas HP saya hilang dua-duanya. Apalagi tas kamera Nikon, yg saya taruh di sebelahnya, malah selamat dari jarahan copet.
I: Iya sih.


Ya itu cara saya mengikhlaskan raibnya kedua HP saya di tangan copet. Toh bisa beli lagi, ga perlu yg sama tipenya dengan yg raib kalau tidak mampu. Ga rugi kehilangan data di phonebook? Toh masih bisa di-retrieve lagi dari MS Outlook di laptop.

Padahal sejak punya HP pertama kali pada tahun 1996, saya belum pernah sekalipun kehilangan HP loh. Semua HP yg pernah saya miliki selalu diganti dengan cara dijual second atau hancur/rusak total. Baru sekali-sekalinya ini saya kehilangan HP secara dicopet!

Memang sih saya sedikit mendapat kesibukan tambahan secara harus menghubungi call center Telkomsel dan XL u/ memblokir nomor2 yg hilang, secara itu nomor pasca bayar semua. Lalu Seninnya saya masih harus mendatangi outlet2 layanan pelanggan u/ meminta penggantian kartu baru dan mengaktifkan kembali nomor-nomor yg hilang tersebut. Proses itu mau tidak mau menyita waktu saya barang setengah hari kemarin, termasuk bermacet2 ria di jalan .

Padahal ojek yg biasa mengantar jemput anak2 saya sekolah malah berhalangan karena kecelakaan jatuh dari motornya sampai tulang selangkanya keluar dari sendinya dan harus dirawat selama seminggu! Alhasil ada lagi kegiatan tambahan mengantar jemput anak2 ke sekolah setiap pagi dan siang.

Yah saya cuma berusaha jadi yg ikhlas, terlebih semenjak saya mengikhlaskan kontrak kerja saya tidak diperpanjang per 31 Januari lalu, termasuk mengikhlaskan pembubaran tim kerja saya selama ini dan kembali bekerja secara mandiri di rumah sejak saat itu.

Apalah artinya kehilangan dua buah HP??? Yg ada paling nanti kalau ada yg telpon atau SMS, reply saya akan jadi sangat2 standar: Ini siapa ya? Maaf HP saya hilang, jadi nama Anda belum ada di phonebook saya.

Jadi kalau ada yg nelpon/SMS, tolong sebutkan nama ya, jangan sok akrab, secara saya ga bakalan ingat satu-persatu nomor HP yg belum sempat saya upload ke HP sementara ini. Kalau bisa malah saya mau minta teman-teman u/ mengirim SMS berisikan nama dan nomor telpon, biar bisa saya simpan di phonebook HP saya dan biar ga direply dengan pertanyaan standar di atas .

Selamat Beraktifitas! Have A Good Week!

Blog Entry[Renungan] Tahun Baru Tanpa Kembang ApiJan 9, '08 11:22 AM
for everyone
Senyap, tak ada letusan kembang api membahana, tak ada pula dengungan senandung orang mengaji di ujung gang sana. Aneh! Secara malam ini malam tahun baru juga khan. 1 Muharram 1429 Hijriah.

Kenapa saat malam Tahun Baru 1 Januari 2008 M, rumah H. Ahmad Marzuki justru sesak dipenuhi orang yg hadir mengaji hingga menjelang hitungan mundur jam 24.00? Saat itu mobilku pun tak bisa leluasa keluar garasi, secara jalan depan rumah dipenuhi motor-motor yg parkir dan hadirin yg tak muat masuk ke dalam pekarangan juragan penyewaan alat pesta beretnis Betawi asli itu.

Kenapa justru di malam tahun baru umat Islam, umatnya sendiri malah tidak melakukan ritual yg sama? Ah entahlah jaman sudah keblinger, semua serba terbalik, tak ada lagi yg masuk di nalarku yg kadang terlalu skeptik dan pragmatis.

SELAMAT TAHUN BARU 1429 H!

Gambar dari sini.

Blog Entry[Puisi] Kembang Api Sudah MeletusDec 31, '07 10:09 AM
for everyone
Tiga buah kembang api sudah meluncur ke udara
Mengiringi alunan shalawat dari rumah Pak Haji Ahmad Marzuki di ujung jalan
Membelah gerimis hujan yg bak ingin mengganggu keriuhan tahun baruan
Kami berlima pun berdiam di rumah saja, jauh dari keriuhan itu

Ya, sebenarnya tahun baru 2008 tak beda dengan tahun baru tahun-tahun sebelumnya.
Tak ada yg istimewa, tak ada yg dirayakan
Tak ada yg perlu diistimewakan, tak ada yg perlu dirayakan
Yg ada hanyalah perenungan atas apa yang terjadi selama tahun 2007

Banyak sudah peristiwa kualami, banyak aral menghadang
Mulai dari yg menyenangkan sampai yg menyesakkan
Mulai dari yg membuai mimpi sampai yg membuatku terjaga
Semua memberiku peringatan, bahwa aku ini tak lebih dari manusia biasa
  • Danida ESP1-SEA (pekerjaanku)
  • Teri McQueen (mobil pertama yg kubeli dari baru)
  • Muhammad Tegar Danishitama Putra McQueen (anak ketigaku)
  • TeRuCI (klub mobil pertamaku)
Seribu kawan datang, sejuta lawan pun menyerang
Seakan dunia iri pada apa yg bisa kucapai tahun ini
Tapi biarlah, semua jadi pelajaran berharga bagiku
Bahwa di atas langit masih ada ruang angkasa nan maha luas

Ah rupanya ada yg berbeda tahun baru kali ini
Puisi, terserah Anda mau bilang ini puisi atau bukan
Tapi tahun baru kali ini kurayakan dengan sebuah puisi
Sebuah puisi penuh renungan, yg mendorongku menjadi lebih matang

Hujan kembali turun, mudah-mudahan semua ini pertanda baik
Pertanda kesuksesan bakal kembali menyapaku
Pertanda Allah masih sayang sama aku, keluargaku dan sahabat-sahabat terbaikku
SELAMAT TAHUN BARU 2008!

[gambar ngembat dari sini, secara anak2 saya sudah tidur sebelum sempat nyalain kembang api]

©iput2007 all rights reserved.


Blog Entry[Paradox] Kapan Ngumpulnya Nih?Oct 14, '07 2:33 AM
for everyone
Jakarta, Lebaran hari kedua (14 Oktober 2007)

Tidak ada rencana spesifik mau kemana, secara mertua pulkam ke Jogja, dan Papa mau ikutan sepupu-sepupunya berkunjung ke rumah kakak sepupunya yg tertua di Bandung. Pagi-pagi kami berlima sudah bangun dan mandi, untuk menjemput Papa yg minta diantar ke rumah Pakde di Cibubur.

Biasanya kami sekeluarga lengkap pergi ke Pakde-Bude di Cibubur ini pada hari pertama Lebaran, secara beliau yg paling tua di keluarga Papa saya di Jakarta. Setelahnya, baru kami ke rumah Eyang (tantenya Mama) di Tebet Barat dan berakhir di rumah Bude (kakak ipar Mama) di Cipinang Jaya. Ritme acara begini sudah kami jalani sejak 5 tahun terakhir. Namun tahun ini rada kacau secara hari pertama kemarin, saya mengantar Papa-Mama melayat kakak sepupu yg dimakamkan di TPU Tanah Kusir (baca juga ini).

Jam 7.00 pagi kami sudah tiba di rumah Pakde di Cibubur. Di sana sudah ada Pakde kami yg lain, yg tinggal di Lenteng Agung, yg diantar anak-anaknya. Oya, biar ga bingung saya ceritakan sedikit latar belakang keluarga Papa ini.

Di Jakarta, Papa tinggal sendirian, saudara2 kandungnya tidak ada yg berdomisili dekat-dekat sini. Kakak dan adiknya di Surabaya, sementara adik bungsunya di Semarang. Oleh karenanya, Papa selalu berlebaran dengan sepupu2nya, anak dari kakaknya eyang kakung.
Kebetulan pula Papa sewaktu kecil sempat nderek/ngenger dengan keluarga besar Katamsi Wiryowardoyo di Purwokerto antara tahun 1947-1949.

Keluarga besar ini ada 9 orang, 5 di antaranya tinggal di Jakarta. Jadilah tiap Lebaran kami berkumpul di rumah Pakde di Cibubur. Lebaran tahun ini rada berbeda, selain lantaran ada perubahan jadwal kemarin, ada gagasan kami untuk mengunjungi Pakde yg tertua di Bandung, yg usianya sudah 90 tahun. Alhasil tadi pagi Papa dan sepupu2nya itu pergi ke Bandung dgn bus sewaan.

Tak semua berkumpul di Cibubur, dua pakde saya yg lebih muda usianya dari Papa, kumat isengnya. Mereka, yg tinggal di Cikunir, Bekasi, nekat menunggu bus mereka di pinggir jalan tol Cilangkap-Cikunir. Kebetulan rumah salah satu dari mereka berbatasan langsung dengan pagar jalan tol baru itu. Namun mengingat usia mereka yg rata-rata sudah di atas 60 tahun, boleh dibilang kelakuan mereka ini cukup pecicilan . Tadi sewaktu saya pulang dari Cibubur via tol baru itu, saya sempat menepi dan menyapa kedua pakde saya itu, yg sedang kepanasan nyender di pagar tol... ckckckck...

Nah, melihat kekompakan keluarga besar ini membuat saya sedih. Membandingkannya dengan generasi kami, yg jauh lebih muda, terutama keluarga dari pihak istri saya.

Keluarga istri saya ini rada-rada susah berkumpul di hari yg fitri ini. Tak setiap tahun mertua saya pulkam ke Wates (Kulon Progo, DIY) secara Simbah putri masih sehat walafiat di sana. Namun yg nyebelin itu malah kakak2 istri saya.

Sepanjang 9 tahun pernikahan kami,
mereka masing-masing baru sekali berkumpul di Jakarta, itu pun tidak bersamaan. Kakak laki-laki tertua baru sekali tidak pulkam ke mertuanya di Sleman (DIY), demikian pula halnya kakak laki-laki nomor dua yg baru sekali tidak pulkam ke nenek istrinya di Bandung. Alhasil kami seringkali jadi anak tertua setiap kali Lebaran di Jakarta.

Namun tahun ini merupakan Lebaran terparah. Mertua pulkam ke Jogja,
kakak2 ipar saya pun demikian adanya. Lantas adik2 ipar kami pun tak berkunjung ke rumah, bahkan menelpon/SMS pun belum. Padahal si bungsu, satu-satunya yg masih bujangan, cuma jaga rumah mertua yg jaraknya cuma 2 km dari rumah kami.

Ah sutralah... toh di keluarga saya juga Lebaran tahun ini juga agak kurang berkesan secara adik laki-laki saya lagi pulkam ke mertuanya di Bojonegoro, sedangkan adik perempuan saya yg bungsu sibuk sendiri di rumahnya di Jatiwaringin.
So, di Lebaran hari kedua ini saya dan istri malah terkapar di rumah, kena flu!

Di hari yg fitri ini, katanya sebaiknya jangan berharap terlalu banyak... makdarit saya sudah ikhlas
adik2 saya tidak berkunjung ke saya. Toh di lain hari mereka masih menyempatkan berkunjung kok dan Lebaran pun tak perlu diistimewakan karenanya...

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Udah lama ga baca (beli juga) majalah Intisari, begitu kepingin beli edisi September ini kok sampul depannya malah Ustadz Ahmad Al-Habsyi, yg paling saya males dengerin ceramahnya, secara dialeknya gaya Arab Pekojan gitu.

Well, bukan mau ngomongin si Ustadz apalagi mereview majalah ini, tapi kebetulan sekali di rubrik pembukanya (Dari Kami) ada quotation kata-kata bijak, yg menurut saya sih pas banget dengan hasil perenungan selama bersliweran di Aceh di tahun 2005-2006 lalu:

"Tidak ada yg salah dalam sebuah keputusan, yg ada kita tidak siap akan konsekuensinya"

Nah kata-kata bijak yg saya maksud di Intisari ini, konon diucapkan oleh JFK, presiden AS ke 35 (1961-1963) yg terbunuh di Dallas (Texas) pada tahun 1963, meski saya yakin bukan dia yg mikir sih, melainkan penulis naskah pidatonya :

"Masalah kita adalah ciptaan manusia, maka pasti dapat dipecahkan oleh manusia. Tidak ada satu pun masalah yg berkaitan dengan tujuan hidup manusia berada di luar jangkauan manusia"

[dedicated to my passionate, rush, intellect, tough, honest and very close friend, who deal with problems and problems, including mine ]

Keterangan gambar ilustrasi:
gambar 1 dari sini.

gambar 2 dari sini.

©iput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Retrospeksi] Gw Ga Suka Dia Secara ....Jul 13, '07 11:26 AM
for everyone
[Scene 1] Obrolan pas makan siang di luar kantor:
A: Aq kok ga suka sama dia sih.
B: Kenapa?
A: Ya ga suka aja ngeliat lagak lagunya yang sok bla... bla... bla... (sila isi sendiri deh, tar kalo saya isi ada yang ngerasa lageeee...)
B: Emang kamu pernah ada masalah sama dia? Ada alasan yang lebih rasional?
A: Ga sih, dan ga ada alasan apa-apa, cuma jangan sampe deh dia bikin gara-gara sama aq!
B: Aneh???

[Scene 2] Di sebuah seminar:
Frame 1:
A: Your friend is a very good
intepreter!
B: Thank you.
A: But can you ask him to eat some peppermint?
B: Why?
A: Coz his mouth smell badly!
B: *gubrakz*

Frame 2:
A: Bapak X benar-benar pembicara yang baik...
B: Hmmm...
A: Cuma brewoknya itu looh syereeem! (ctt red: brewok beda sama jenggot yak )
B: *pingsan*

Yah begitulah rupanya interaksi sosial manusia. Ada suka (like) dan tidak suka (dislike).
Namun memang kadang yang bikin puyeng itu alasannya yang kadang tidak rasional, well paling tidak di benak saya lah, secara tar dibilang ga valid diklaim sebagai kenyataan massal (common sense).

Alasannya selain terlalu subyektif, seringkali dilandasi oleh persepsi atas penampakan sekilas (brief profile) yang bisa jadi menyesatkan (mislead). Kadang juga berdasarkan praduga bersalah *nyoba nyiptain terjemahan untuk su'udzon neh*.

Nah kalau orang yang tidak kita sukai tanpa alasan yang rasional tadi terima? Kalau tidak? Bisa-bisa malah jadi ontran-ontran (keriuhan, Jw.). Syukur-syukur tidak menimbulkan fitnah atau pencemaran nama baik.

Padahal hak asasi masing-masing mau bertingkah polah seperti apa juga, mau sok kece kek, mo sok seleb kek, mo sok ngetop kek, mo sok kaya kek, selama tidak merugikan atau menyakiti hati orang lain. Meski
hak asasi manusia itu sendiri tidak hanya tiga (hidup, mencari penghidupan dan berekspresi), namun ada hak keempat, yaitu hak asasi orang lain, yang justru jadi pagar pembatas kebebasan hak asasi individu.

Jujur, hati saya pernah sakit sekali dikatain orang kaya baru yang sok pamer! Dada saya pun sesak ketika seseorang yang tak pernah saya kenal sekonyong-konyong menghujat saya tukang fitnah! Telinga saya pun meradang saat ada yang memertanyakan hubungan pertemanan saya yang sedikit istimewa dengan seorang teman...

Ketimbang kepancing balik menghujat, mending buru-buru minta maaf kalau ada yang terganggu dengan polah saya itu. Meski terkesan saya kalah bertarung, tapi buat apa juga bertarung untuk hal yang ga penting (edited )


Blweeh ngomong apa sih saya, kok jadi sok tuwir dan sok nasehatin begini. Mudah-mudahan ontran-ontran barusan ini tak membuat satu pihak merasa kalah dan pihak lain merasa menang, tapi menjadi hikmah buat semuah... dan membuat kita semua makin dewasa dalam bergaul di dunia MP yang 'katanya' penuh intrik dan konflik ini *kayak sinetron aja yak*

= lanjutan dari jurnal sebelumnya =

QOTD: Life is a choice, not a competition, whichever you take, it's better to prepare its consequences *karangan sendiri nih*

©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Retrospeksi] Jadi Supir Boss, Malah Mau DibunuhJun 15, '07 12:02 PM
for everyone
Suatu hari di bulan Juni 2001, saya sedang transit di Bandara Hasanuddin, Makassar dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari Manado. Sembari menunggu, saya membaca-baca sebuah buku yang saya beli di kios buku di bandara itu, yang terkenal dengan koleksi Periplus tapi harga lokal (alias murah banget).

Selagi asyik membaca, seseorang lelaki mendekat dan menegur saya. Saya menegakkkan wajah dan di depan saya berdiri seorang teman lama, seorang teknisi PT. Lintas Artha yang pernah ditugaskan memasang perangkat VSat di kantor saya di Jayapura. Sebut saja namanya K.

Setelah bertukar kabar, tiba-tiba K berkata: "Put, tau ga loe, kalo elo dulu hampir dibunuh oleh Oom F?" sembari menyebut nama seorang kolega saya di sana. Wajah saya terkesiap tak percaya mendengarnya. Setelah agak tenang, saya bertanya lagi: "Maksud elo?" Rentetan kisah berikutnya semakin membuat saya terpana mendengarnya. K bilang kalau saya pernah nyaris dibunuh oleh F, yang warga asli Papua, hanya lantaran saya dikasih fasilitas mobil oleh boss kami. Waks!!!

Ingatan saya kembali ke pertengahan 1999, saat saya baru 3 bulan dimutasi ke kantor regional Indonesia Timur di Jayapura. Saat itu di kantor sedang ada raker tahunan dengan mengundang perwakilan dari proyek-proyek (ada 6) di seantero Maluku dan Papua. Saat itu pula saya sedang siaga satu menanti kelahiran Vito, anak pertama saya di kota yang kalau malam suasananya mirip Hong Kong itu.

Oleh Pak Direktur, yang orang Biak, saya diberi fasilitas mobil dinas secara boss kasihan lihat istri saya yang hamil tua harus membonceng Honda GLPro dinas sementara jalanan di kota itu berbukit-bukit dan keluar masuk hutan. Sebenarnya kalau dibilang fasilitas juga tidak sih, secara saya harus mengantar-jemput boss pulang pergi kantor, alias jadi supir pribadi. Padahal rumah boss di Waena itu letaknya lebih jauh 2 kali lipat dari jarak dari rumah di Entrop ke kantor di Angkasa. Singkatnya rumah saya justru di tengah-tengah.

Pagi-pagi buta saya harus menyupir Kijang Super 1993 ke arah Waena sejauh 15 km, setelah jemput boss lalu balik arah ke kantor, melintasi muka rumah menuju kantor sejauh 30 km. Begitu pula sebaliknya. Jadi total sehari saya harus jadi supir sejauh 90 km! Dan baru usai jam 19.00 WIB, padahal jalanan di kota itu tak kenal namanya macet kecuali di tengah kota pada Malam Minggu. Dan itu saya lalui selama kurang lebih 2 bulanan. Itu pun 2 hari setelah Vito lahir, Vito lahir Sabtu, mobil itu langsung ditarik dan saya harus mencarter taksi *istilah lokal u/ angkot bobrok* untuk menjemput Vito pulang ke rumah kontrakan di kaki Peg. Cycloop, 15 km dari RST Marthen Indey di Kloefkamp.

Meski sempat dengar gossip-gossip kalau ada sebagian teman yang ngiri.com dengan fasilitas yang saya dapat itu, tapi saya cuek secara yang kasih boss langsung dan atas dasar belas kasihan, bukan favoritisme alias pilih kasih. Tapi yang namanya orang dengki mah ada aja pembenarannya. Ada yang iri secara saya warga pendatang yang tergolong sangat cepat kariernya di kantor, ada yang bilang saya pintar carmuk lah... dan segala rupa tuduhan tak berdasar lainnya. Padahal saat itu saya justru sedang di-nonjob-kan secara dalam status waiting list beasiswa ke Amerika.


Saya pikir juga semuanya just a gossip. Nyatanya saya salah besar.

Suatu siang, saya sedang berjalan keluar gedung utama *ruang kerja saya di paviliun* setelah makan siang di lobby utama. Sekonyong-konyong sebuah jip hardtop meluncur kencang, melompat menerjang polisi tidur di depan gerbang dan berdecit remnya dengan keras, berhenti di depan saya yang hanya melongo dibuatnya. Di dalamnya Oom F, yang masih paman Gubernur Papua sekarang (Barnabas Suebu), mukanya merah padam menahan amarah tapi ga jelas sama siapa.

Saya pun melanjutkan perjalanan saya tanpa memerdulikan kejadian barusan. Belum jauh, tiba-tiba terdengar suara barang dibanting dari lobby. Saya pun balik arah dan begitu sampai di depan pintu, saya lihat main switchboard telpon hunting sudah berantakan di lantai dan Bu R, sekretaris boss dan main receptionist sudah berdiri tegang di sudut belakang meja. Jauh di dalam, Oom F terlihat marah-marah dan membanting semua barang yang ada di meja meeting dan menjungkir balikkan kursi-kursi. Saya pun urung maju mencegahnya berbuat lebih parah secara saya lihat beberapa rekan sudah lebih dahulu memegangi Oom F.

Kembali ke si K, yang masih duduk di depan saya dan menegaskan bahwa kejadian itulah yang dimaksud upaya pembunuhan saya. Dia mengaku mendengar langsung Oom F mengumpat-umpat ingin menghabisi nyawa saya, hanya lantaran dirinya tak diijinkan memakai mobil dinas, yg sebelumnya sering saya supiri tersebut, oleh Boss!

Padahal dulunya Oom F ini asisten saya dalam pemetaan laut dan pesisir di Sorong dan Manokwari. Bahkan kami pernah pergi berdua masuk hutan saat menyurvei kawasan peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Sorong selama 1 bulan lebih! Dan Oom F pernah belajar caranya cari beasiswa ke LN sama saya secara beliau bilang kalau kagum sama semangat saya mengejar cita-cita. Dan saya pun kagum sama kharismanya sebagai kepala suku (Ondoafi) di desa di dekat Bandara Sentani sana.

Yah... siapa sih bisa nebak isi hati orang??? Dulunya saling kagum mengagumi, gara-gara soal sepele *mobil pinjaman pula* dirinya berubah menjadi dengki tak beralasan gitu...

Sebenarnya pun, sehari sesudah Vito pulang ke rumah, saya pun langsung beli mobil sendiri, biar butut sekalipun (lihat gambar). Sekedar agar anak-istri saya tak harus kanginan dan kehujanan di jalanan kota yang hari hujan cuma kalah sama Bogor itu.

= masa lalu memang indah untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk disesali, apalagi menghambat masa depan =

©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Paradox] Kenapa Masjid Mbludak Tiap Jumat?Jun 1, '07 9:13 AM
for everyone
Karena ummat Islam bertambah? Bisa jadi, stat pleaseee...

Karena Muslim banyak yg shalatnya cuma Jumatan doang? Ya gitu deh...

Karena luas mesjid terlalu sempit? Ngga juga tuh, secara banyak mesjid sudah direnovasi jadi lebih luas khan.

Lantas kenapa dunk?

Coba perhatikan baik-baik di tegak lurus shaf-shaf di depan Anda. Ada jeda antar bahu ngga? Pasti ada, saya yakin!

Nah itu nampaknya sebab musabab masjid kita selalu terlihat penuh dan kalau Jumatan seringkali meluber sampai ke halaman dan jalan mobil di depannya. Semua terjadi lantaran Muslimin Indonesia senangnya menguasai lahan seluas sajadah yang mereka gelar, bukan seluas bahunya!

Pengalaman saya shalat Jumat di berbagai negara (Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Saudi Arabia), saya kadang kejepit di antara Muslimin yang badannya bongsor-bongsor. Bahkan terkadang tidak sanggup duduk tahiyat akhir yang kalau di negeri kita selalu duduk miring dengan posisi (maaf) pantat menyentuh lantai. Di masjid-masjid yang saya pernah berkesempatan singgahi di negara-negara itu, duduk tahiyat akhir tak ada beda posisinya dengan duduk tahiyat awal, secara saking sempitnya lahan yang bisa kita okupasi.

Terus maknanya apa? Ya ini nampaknya implikasi dari kesewenang-wenangan Muslimin Indonesia, sampai-sampai berbagi lahan untuk jama'ah lain yang datang belakangan dan tak dapat lahan untuk shalat saja tidak mau.

Saya bukanlah orang yang puaham puoll soal agama, tapi kalau ga salah ada hadist-nya yang mengatakan kalau shalat harus saling bersentuhan bahu antar jama'ah. Katanya sih untuk menghindari setan bisa melintasinya.

Tapi saya coba dari perspektif nalar saja lah, secara ga hafal yang mana hadist-nya. Coba gelar 2 lembar sajadah, lantas berdirilah di atasnya bersama 2 orang dewasa lainnya. Pasti cukup khan!

Nah kalau begitu alasan sebenarnya adalah kegedean sajadah!

Lantas kita kudu nyalahin produsen sajadah gitu? Ya ga juga? Kita introspeksi diri saja lah, kenapa juga kita beli sajadah yang lebar-lebar. Kenapa ga yang berukuran pas selebar badan kita? Produsen mah ngikut maunya pasar aja, secara saya perhatikan sajadah kita kebanyakan produksi negeri-negeri yang setahu saya jama'ahnya ga butuh lahan seluas kita kalau shalat tuh, seperti Turki dan Pakistan.

Berarti nyata kita lah yang terlalu egois khan?

gambar
(catatan ga penting: pas googling cari ilustrasi, duluan ketemunya malah sampul depan majalah Playboy )

©ciput 2007 all rights reserved.

Kebetulan lagi sibuk di depan laptop dan mendengarkan acara Empat Mata-nya Tukul, yang tajuknya malam ini (17/05/07) adalah Hobby Yang Memacu Adrenalin dengan bintang tamu tiga orang pehobi pemacu adrenalin. Kalau yang kakak beradik memang pembalap muda ternama, yang jelas-jelas hobinya memicu adrenalin, nah kalau yang satu orang lagi pemburu gaek, yang buat saya tak terlalu memacu adrenalin lah.

Lantas saya jadi ingat perbincangan saya, ibu sekretaris, Mas Arko dan satu orang teman dari bagian akunting pas keluar makan siang Selasa (15/05/07) lalu. Di mobil, saat dalam perjalanan menuju sebuah warung makan Gudeg Yogya di Matraman Raya itu, terjadi dialog berikut.

Ibu Sekretaris (IS): Bisa ga sih dari Lombok ke Bali naik kapal?
Saya (S): Bisa, naik ferry dari Lembar ke Padangbaai.
IS: Lama tak?
S: Lama, sekitar 4 jam-an gitu, yang jelas aq ga pernah bisa selesai berenang nyeberanginnya 15 tahun lalu.
IS:
Bentar-bentar, apa barusan kamu bilang boss? Berenang?
S: Iya, berenang pakai fin (sepatu katak, red.). Aq khan emang dulu sewaktu masih SMA/kuliah khan sering ikutan lomba renang menyeberangi selat.
Arko (A): Put, elo ga ada hobby yang waras lagi? Hobby sih berenang nyebrangin selat! Emang naik kapal udah ga menantang lagi apa?
IS: Iya nih, hobby yang aneh!

Memang betul, dulu sewaktu masih di bangku SMA hingga kuliah di Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP, saya punya hobby berenang dan menyelam SCUBA. Secara menyelam itu harus melalui ujian sertifikasi POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) yang menerapkan standar KOPASKA (Komando Pasukan Katak) TNI-AL, saya harus melahap menu latihan rutin mingguan seperti renang tanpa alat 2000 m, renang pakai alat 5000 m dan water trappen 1 jam!

Tak hanya saat latihan di kolam renang GOR Karang Rejo di Jatingaleh, Semarang saja, sesekali instruktur kami *yg memang anggota Kopaska Marinir Lanal Semarang* membawa kami ke laut. Kami diajak naik perahu nelayan ke tengah dan disuruh berenang kembali ke pantai. Entah berapa jaraknya, tapi kapal-kapal yang sandar di pelabuhan Tanjung Emas sana terlihat hanya sebesar kotak CD lah.

Belakangan, kami juga diajak untuk ikut lomba, ya lomba renang menyeberangi selat tadi lah. Pertama kali kami (saya dan 5 orang teman) ikut lomba renang lintas Selat Madura dalam rangka Hari Armada 5 Desember 1992 di Surabaya. Start dari pelabuhan Kamal dan finish di dermaga Lantamal di Ujung. Jarak tempuh tidak dihitung dalam satuan mil laut atau km, tapi sekian jam berenang! Waktu itu kami berenam hanya masuk 10 besar dengan waktu tempuh 6 jam! Bandingkan dengan waktu tempuh ferrry yang cuma 30 menitan!

Kompetisi kedua di Selat Sunda dengan start di Ketapang (Lampung) dan finish di Cilegon (Banten). Waktu tempuh lebih gila, 10 jam! Udah gitu renangnya bersisian dengan ferry-ferry RORO yang besar-besar itu. Untung aja ga kesedot pusaran air di dekat baling-baling tuh, pikir saya sekarang ini kalau ingat hobby saya yang satu ini.

Setelah itu sempat ikutan lintas Selat Bali dan Selat Lombok pada 1992-1993, tapi khusus yang Selat Lombok tak pernah sampai finish secara tenaga habis-habisan setelah berenang selama 12 jam dan pulau Bali masih terlihat hijau samar-samar di cakrawala. Tangan pun saya angkat, tanda minta dijemput oleh perahu SAR. Itulah akhir karier saya di dunia renang selat yang buat banyak orang sangat tidak waras itu.

Well, sekarang kalau ingat masa-masa itu, kadang saya tak habis pikir, kemana ya rasa takut saya??? Kalau sekarang, mungkin saya berpikir seribu kali untuk bertingkah edan begitu, apalagi udah punya buntut bakal tiga dalam 4 bulan ke depan.

Cuma ajaibnya, kedua jendral kancil saya di rumah, malah penakut semuah! Jangankan renang selat, saat renang di Ocean Park tadi siang (17/05/07) aja pada takut diajak berseluncur di prosotan spiral yang tingginya 20 meter-an itu. Apalagi si McQueen (Dito, red.) yang panik saat main di kolam ombak.

Sangkalan istri: Mereka khan masih kecil-kecil Yah, tar kalau sudah gede juga bakal pemberani seperti Ayahnya laaaah...

gambar: brevet renang selat Korps Marinir TNI-AL (diambil dari sini).

©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Retrospeksi] Seleb Itu Muncul Di Samping MejakuMay 12, '07 12:30 PM
for everyone
Kejadian ini sudah agak lama, kira-kira akhir bulan April lalu. Saat itu, my big boss sedang sibuk kejar tayang secara dia akan cuti pulang kampung ke Denmark dalam 1 pekan ke depan (awal Mei). Saat itu dia sedang banyak sekali terima tamu, yang sebagian besar calon-calon konsultan yang akan mengerjakan proyek lain di dalam program hibah dimana proyek saya menjadi salah satu bagiannya.

Sebagai tetangga sebelah meja, saya sebenarnya rada terganggu juga dengan kehadiran para tenaga ahli yang berasal dari berbagai kalangan ini. Ada yang aktifis LSM, ada yang memang konsultan profesional, ada yang PNS, ada yang dosen, dan ada juga yang selebritis! Hmmmm...

Yang selebritis ini *ah lebih baik tak perlu saya sebut namanya, takut dibilang fitnah nanti* muncul tiba-tiba di sebelah meja saya yang memang terletak di antara meja my big boss dengan pintu masuk ke kubikul kami berdua.

Tak ada salam, secara saya tahu dia salah satu cendekiawan Muslim ternama yang sering muncul di layar kaca di rumah saya. Sempat terkesima sejenak, namun saya sadar saya ini siapa, ya saya duluan yang mengucap salam dan menjabat tangannya. Belum sempat dirinya menyebut namanya, sudah saya tebak duluan: Pak E** ya? Silakan duduk Pak.

Saya sudah lama dengar bahwa pengamat politik kenamaan ini bakal terlibat dalam proyek tersebut, meski saya sendiri tidak terlibat langsung di dalamnya. Yah namanya juga duduk di sebelah big boss gitu looh, segala macam kabar kabur seputar program pasti sampai di telinga saya secara si big boss ini orangnya memang out spoken (bahasa Indonesianya: ember bocor) .

Bukan cuma sekedar nama-nama kandidat konsultan yang saya dengar, tapi juga besaran upah yang diusulkan oleh penanggung jawab proyek. Besarannya itu yang bikin saya kaget, secara sangat rendah,
kira-kira cuma 60 persen saja, bila dibandingkan upah yang bakal diterima oleh anggota tim konsultan saya.

Kalau ditinjau dari ngetopnya nama si pakar yang punya istri kedua mantan penyiar di stasiun televisi khusus berita ini, saya kok agak miris membayangkan kok sebegitunya beliau mau kerja dengan gaji cuma segitu. Saya lantas jahil saja berpikir jangan-jangan beliau betul-betul butuh uang untuk menghidupi istri keduanya yang sama terkenalnya dengan dirinya itu. Hmmm... makanya boss, kalau mau kawin lagi mikir-mikir dulu dah *restrospeksi diri nih*... jangan-jangan tar besar pasak daripada tiang.

mau tau siapa dia? klik aja di sini.

gambar dikutip dari sini.

©ciput 2007 all rights reserved.

[disclaimer: meski berdasar kisah nyata, kisah di bawah ini sepenuhnya fiksi, maaf bila ada kesamaan nama, lokasi dan waktu , karena memang disengaja biar lucu aja]

Kemarin sore, menjelang pulang, seorang teman karib saya *sempat musuhan sekali sih* mem-buzz di YM! Sudah lama juga kami tak saling sapa secara ybs sedang diet ketat *lho apa hubungannya coba?*.

Teman saya ini bertanya berapa lama saya indent mobil Daihatsu Terios. Saya sempat kaget kok dia bisa tahu padahal saya sudah lama tak chatting sama dia dan saya tahu persis dia sudah lama tidak jenguk blog multiply saya juga. Ternyata dia dengar dari seorang teman kami yang lain *ooo pantes*

Ternyata teman saya, yang masih capeg di sebuah kementerian yang menterinya barusan direshuffle ini, juga sedang indent sejak 1 Maret yang lalu. Saya rada bingung, secara saya tahu persis berapa gaji seorang capeg PNS yang belum satu tahun bekerja. Terus dia bilang kalau dia jual mobilnya yang lama, ditambah tabungan yang cukup lumayan jumlahnya, dia hitung-hitung cukuplah buat kredit Terios. Begitu kira-kira kalkulasinya.

Namun saya masih penasaran juga, dan akhirnya dirinya mengaku kalau sebagai asisten staf khusus menteri, ada tunjangan yang cukuplah buat mengangsur cicilan mobil berbandrol termurah 122 juta itu, tipe yang memang disasarnya.

Tapi semenjak atasannya tersebut direshuffle oleh SBY beberapa hari lalu, otomatis teman saya pun ikut ter-reshuffle dan demosi *lawan kata promosi* menjadi staf biasa, yang notabene berarti hilanglah tunjangan yang selama ini dia terima. Dan alhasil tentunya ada lah kekhawatiran tidak bisa mencicil dengan mudah.

Alhasil si teman makin ketat diet-nya... nah lho? *yang ini asli ledekan saya ke dia sih* sampai saya bilang kenapa ga sekalian melamar jadi Energen-Men 2008 *plesetannya L-Men 2008 :D*

catatan: reshuffle = mengubah susunan atau mengocok kembali (kartu), jadi ibarat kartu, kabinet pun bisa dikocok-kocok ternyata.

gambar dari sini.


Blog Entry[My Life] YMT: Yang Membawakan Tas!May 4, '07 1:21 PM
for everyone
Gw pikir elo lulusan UI, IPB atau ITB gitu...

Ungkapan tersebut seringkali saya temui dalam perjalanan karier saya yang sudah menginjak tahun ke 13! Secara saya lebih banyak berinteraksi dengan alumnus dari perguruan tinggi ternama di negeri ini, seperti UI, IPB, ITB, UGM dan Unpad. Tak hanya di tempat kerja, di kalangan teman gaul pun demikian. Sebagian besar teman-teman SMA dulu (di SMANDEL Jakarta) pun lebih banyak yang berkuliah di kelima universitas tersebut, selain ada juga yang masuk AKABRI, STAN, IPDN dlsb.

Jarang yang senasib dengan saya dan segelintir teman yang nyasar ke Semarang, dan belakangan ke Jepara, lokasi laboratorium lapangan jurusan kelautan.

Lepas dari kampus, saya nekat terjun bebas ke dunia lingkungan, yang didominasi oleh para alumnus sekolah-sekolah terpandang tersebut. Pandangan penuh tanda tanya sering saya jumpai saat interview, Soal ditanya Undip itu dimana mah biasa, ditanya Undip itu universitas negeri apa swasta aja pernah! *gubrakz*

Alhasil sekian tahun lamanya saya jadi anak buah para alumnus sekolah-sekolah tersebut. Tak hanya jadi anak buah, tapi juga YMT, Yang Membawakan Tas! Yup, asli membawakan tas, secara para konsultan senior itu rata-rata sudah pejabat atau dosen senior di kampusnya, jadi ga mungkin lah blusukan di hutan gendong ransel. Siapa yang bawa ransel dan kotak-kotak peralatan? Ya saya lah si adik bungsu!

Sekian belas tahun berkelana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota lain (negara juga), dari satu kampus ke kampus lain, akhirnya sampailah saya di posisi saya yang sekarang.

Saya masih dikelilingi oleh para alumnus tersebut. Namun yang bikin saya puas dan bangga, ternyata sebagian dari konsultan senior yang dulu saya bawakan tasnya itu ada yang jadi anggota tim tenaga ahli yang saya kelola. Well, technically mereka memang bukan jadi anak buah sih, tapi gajinya saya yang tanda tangan sekarang.

Meski demikian, saya kadang suka iri sama Mas Arko, sahabat saya yang juga jadi salah satu anggota tim tenaga ahli di proyek saya ini. Dimana-mana beliau ketemu sama teman kuliah (UI atau Australia) lah, teman SMA lah, teman main lah, teman kecil lah. Sementara saya? Seringnya malah dikenal-kenalin sama Mas Arko ke teman-temannya dan tidak sebaliknya, secara jarang teman-teman sekolah saya yang berkecimpung di dunia profesi yang saya geluti saat ini.

Well, Alhamdulillah saya sampai hari ini masih bisa bertahan (survive) di belantara asing (out of league)... tanpa harus menyakiti orang lain, justru membantu orang lain.

Quote: Life is a choice, whichever you take, better you prepare for its consequences.

gambar logo Universitas Diponegoro dikutip dari situs resminya *yang tampilannya pun tak kalah ancur sama reputasinya*

©ciput2007 all rights reserved.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help