Ciput's posts with tag: paradox
Artikel ini saya tulis 3 hari yg lalu, eh kok kebetulan muncul berita seputar raibnya penemu Blue Energy, dimana saya ingin share seputar kisah raibnya Rudolf Diesel, seperti yg pernah diceritakan oleh salah seorang mentor saya dan sudah sering saya share secara offline. Jangan-jangan sejarah memang berulang .
--------------------------------------------------------------------------
Raibnya Rudolf Diesel dan Persaingan Tak Sehat Di Bisnis Energi
M. "Ciput" Putrawidjaja (dari berbagai sumber)
Seperti kita sudah ketahui dari buku-buku sejarah, penemu mesin diesel (mesin minyak aslinya) adalah Rudolf Christian Karl Diesel, seorang insinyur berkebangsaan Jerman yg lahir di Paris 1858. Mesin ciptaannya ini sangat-sangat revolusioner, sudah menggunakan bahan bakar nabati, seperti minyak kacang dan minyak ganja, ketimbang bahan bakar fossil (bensin cs). Padahal jaman itu (akhir abad 19 dan awal abad 20) mana ada orang mikir krisis energi minyak, apalagi global warming. Sedemikian hebatnya itu mesin, membuat pesaing2nya di dunia otomotif gigit jari. Hingga di bulan September 1913, Diesel hilang secara misterius dari kabin kamarnya di kapal SS Dresden saat bepergian dari Jerman ke Inggris. Baru lima hari kemudian mayatnya ditemukan terapung di Sungai Scheldt (Jerman). Tak seorang pun bisa menyibak misteri di balik kematian Diesel tersebut. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1937 di Jepang, berdirilah sebuah pabrik mesin bernama Tokyo Jidosha Kogyo Company yg belakangan berganti nama jadi Isuzu, yg line product-nya adalah Mesin Diesel! Konon salah seorang murid/asisten Diesel berhasil mengcopy seluruh desain rancang bangun mesin tersebut dan mengembangkannya di Jepang atas perintah Kaisar Tenno Haika Hirohito u/ menjalankan mesin perangnya di Asia Pasifik. Selama Perang Dunia II, Jepang membumi hanguskan semua sumur minyak milik kolonial Belanda, Inggris dan Perancis di Asia Tenggara. Namun, di sisi lain, Jepang juga memerintahkan anak jajahannya u/ menanam jarak pagar, yg bijinya diperas u/ dijadikan biodiesel yg menggerakkan tank dan kapal perang mereka. Balatentara Jepang dgn mesin perang bermesin dieselnya nyaris tak terkalahkan oleh Amerika Serikat. Hanya 4 buah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki lah yg mampu menghentikan laju gerak pasukan bersepatu karet tersebut melibas Asia-Pasifik. Sementara Jendral Douglas MacArthur tergopoh-gopoh balik menyerang dengan risiko kekurangan suplai minyak bensin di sepanjang jalur penyerangannya di Pasifik Selatan, yg boleh dibilang mendahulukan merebut sumur-sumur minyak di Papua, Sulawesi dan Kalimantan! Makanya jangan heran kenapa mesin diesel masih berbahan bakar solar (temannya bensin khan), bukan minyak jarak atau minyak kelapa sawit. Semua lantaran pelaku industri minyak tidak mau rugi dan digulung oleh petani kacang, kelapa sawit dan jarak pagar! Pada saat menerima hak paten atas mesin ciptaannya di Pekan Raya Paris 1912, Rudolf Diesel menyampaikan pidato yg sangat-sangat berarti di era Global Warming saat ini: "Der Gebrauch von Pflanzenöl als Krafstoff mag heute unbedeuntend sein. Aber derartige Produkte können im Laufe der Zeit obenso wichtig werden wie Petroleum und diese Kohle-Teer-Produkte von heute." (Pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar untuk saat ini sepertinya tidak berarti, tetapi pada saatnya nanti akan menjadi penting, sebagaimana minyak bumi dan produk tir-batubara saat sekarang).
©ciput 2008 all rights reserved. Disarikan dari berbagai sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Rudolf_Diesel http://en.wikipedia.org/wiki/Rudolf_Diesel http://www.sinarharapan.co.id/berita/0611/22/ipt04.html http://www.isuzu.com/company_heritage.jsp
Berita lain terkait: Blue Energy Harus Transparan, Tidak Boleh Disembunyikan Penemu Blue Energy Raib, Alvin Lie Konfirmasi ke Menteri
Baca juga ini: http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/215
Menyebut sederet taman air (water park) yg tersebar di Jabodetabek.- WaterBom Pantai Indah Kapuk (Jakarta Utara)
- The Jungle Bogor Nirwana Resort (Bogor)
- WaterBoom Lippo Cikarang (Bekasi)
- Atlantis Gelanggang Samudera Jaya Ancol (Jakarta Utara)
- Eldorado Water Park Legenda Wisata Cibubur (Jakarta Timur)
- Ocean Park Bumi Serpong Damai (Tangerang)
Tak ketinggalan di kota-kota kecil seperti Ciamis dan Purbalingga pun sekarang ada taman wisata macam ini. Bahkan di Balikpapan (Kaltim) pun ada, padahal yg namanya air PDAM di sana ga jauh beda warnanya dengan air yg mengalir di Kalimalang depan rumah orangtua saya (baca: coklat!) Fenomena apa pula ini?
Di jaman global warming yg mana suhu bumi terasa semakin panas ini, tentunya sangat menarik orang untuk datang berwisata, secara kita dibebaskan bermain air sepuasnya, berlawanan dengan taman-taman hiburan yg kita kenal selama ini. Padahal damage cost (DC) lingkungan yg harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan air sekian ribu (atau mungkin juta) kubik per hari siapa yg bisa menghitung? Saya yakin tak satu pun waterpark tersebut memanfaatkan air produksi PDAM, secara kuantitas dan kualitas air produksi BUMD ini rata-rata kurang dari kebutuhan. Lha wong di rumah mertua di Jakarta Timur saja air baru mengalir kalau malam hari, itu pun kadang airnya keruh.Mengolah air limbah? Saya pikir jauh gantang dari api, secara biaya infrastruktur instalasi pengolahan limbah saja sudah mahal, apalagi untuk mengolah air limbah menjadi air sejernih yg bermuncratan deras di semua waterpark tersebut.
Jadi darimana air tersebut berasal? Ya pastinya dari air tanah atau air mata air lah. Biaya penyedotan air tanah tentunya lebih murah ketimbang kedua pilihan di atas. Apalagi kalau dari mata air, ibarat kata tinggal pasang pipa berfilter, currrrr air sudah tersedia.
Padahal siapa sih yg ngga tahu kalau Pulau Jawa ini mulai krisis air? Krisis lho ya, bukan kekurangan (shortage), secara beberapa bulan terakhir, Jakarta pun bolak-balik kebanjiran, bahkan saat hujan deras sekejap sekalipun, atau lantaran banjir kiriman dari Bogor (hulu). Iya, tapi di musim kemarau, Palyja (PAM Lyonnaise Jaya) dan Aerta (pembeli TPJ/Thames PAM Jaya baru-baru ini), dua perusahaan PMA penyedia air bersih di DKI sekalipun berteriak kekurangan bahan baku air, air kotor sekalipun!
Persoalannya memang lebih ke pengelolaan air (water management). Tidak ada penampungan atau resapan air yg mencukupi untuk menampung air selama bulan-bulan basah untuk digunakan saat bulan-bulan kering. Danau-danau (buatan maupun alami), seperti waduk dan situ, malah diurug untuk pemukiman atau jadi pembuangan sampah! Bahkan Pemda DKI lebih memilih membangun Banjir Kanal Timur (di dekat rumah saya nih) untuk membuang air permukaan ke badan-badan sungai yg berujung ke laut. Sedikit sekali yg diresapkan ke dalam tanah untuk persediaan air tanah, sementara yg disedot/dipompa terus bertambah. Harap maklum saja apabila permukaan tanah di Jakarta diberitakan menurun sekian cm per tahunnya secara rongga-rongga dalam tanah yg tadinya terisi air lantas kosong dan ditekan oleh ribuan ton beton ya ambles lah  Belum terhitung konversi lahan terbuka hijau untuk bangunan-bangunan beton yg tak memberi ruang untuk air menyentuh permukaan tanah. Ini termasuk Taman Menteng, yg mengalihfungsikan lapangan stadion Persija untuk taman, tapi ternyata 30% malah dicor beton!
Nah kembali ke topik di atas soal waterpark. Apakah para pemilik usaha taman wisata tersebut berpikir panjang soal ketersediaan air? Seharusnya iya, tapi apakah mereka mau menanamkan uangnya untuk membangun instalasi pengolahan air limbah atau air asin? Saya kok ga terlalu yakin deh.
Padahal di negara lain, krisis air bisa menyebabkan konflik horisontal, seperti yg terjadi di India baru-baru ini, dimana warga sebuah kota industri *saya lupa namanya* berdemonstrasi di kantor walikota secara distrik-distrik di hulu sungai yg menjadi sumber bahan baku air kota tersebut membendung aliran air yg masuk ke kota itu, lantaran kompensasi biaya yg mereka terima tidak sepadan dibandingkan dengan PDRB kota industri tersebut yg tentunya sangat tinggi.
Di Indonesia bukannya tidak ada masalah serupa. Di kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) misalnya, studi kasus yg dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2000 mencatat terjadinya konflik pemanfaatan air di kawasan padat penduduk dan sarat pertanian dan industri.
Untungnya penyelesaian konflik antar 5 kabupaten dan 1 kota di Propinsi Jawa Barat ini tidak berujung sampai ke aksi demo jalanan seperti yg terjadi di India tersebut, lantaran para anggota dewan di sana sepakat membentuk kaukus lingkungan, yg isu pokoknya ya pengelolaan air secara bersama tersebut. Di forum tersebut, kesemua pemerintahan daerah di kawasan tersebut sudah mulai berembug mengenai bagaimana air ini dikelola bersama, berapa besar kontribusinya dari pihak pemakai kepada pihak produsen, dan segala rupa kesepakatan ikutan di dalamnya.
Nah Jabodetabek apakah sudah ada inisiatif seperti itu? Jangan muluk-muluk berharap para pemilik waterpark berpikir mengelola air secara bersama, kalau pemerintah daerah sekalipun ga sanggup mikirnya, padahal katanya DKI itu gudangnya para ahli .
SELAMAT HARI BUMI 22 APRIL 2008! *nyaris telat euy*
Foto 1 & 3: koleksi pribadi yg dijepret di The Jungle, Bogor. Itu khan sama aja bikin kali/sungai buatan, jadi kita dikibulin berasa mandi di kali yg jernih  Foto 2: Jl. Abdullah Syafe'i (Casablanca) Jakarta saat banjir 2 Februari 2007 (koleksi pribadi)
*hasil perenungan selama berwisata di The Jungle, Bogor Minggu (20/04/08)* ©ciput 2008 all rights reserved.
 Skenarionya ada dua orang sedang naik mobil mewah (sebut saja Mercy) di jalanan. Terus salah seorang yg berpakaian jas meledek temannya yg berbaju kemeja berdasi (mungkin boss dan staffnya).
Boss: "Ngapain bayar pajak?" Staf: "Kalau begitu, Bapak jadi Superman aja! Biar bisa terbang!" Boss: "Lho kenapa?" Staff: "Iya, khan jalanan ini, fasilitas lalulintasnya dan listrik yg meneranginya dibayar dari pajak yg kita bayar"
Tahu-tahu si boss sudah melompat keluar mobil dan berteriak "Apa kata dunia?"
Menyimak iklan layanan masyarakat tentang pajak ini kok rasanya jadi lucu. Pertama, tagline yg digunakan itu looh. Itu bukannya kata-kata yg pertama kali dipopulerkan oleh film Nagabonar (1987) yg diperankan oleh Deddy Miswar dan Nurul Arifin? Mbok kalo cari tagline jangan yg out of date gitu loch? Apa lantaran film Nagabonar jadi 2 (2006) kembali memopulerkan kata-kata itu lantas orang jadi ingat bayar pajak? Ya ngga nyambung lah...
Kedua, muatannya. Khan disebut pajak membayari pembangunan jalan, fasilitas lalu lintas dan listrik penerangan jalan. Kok kita masih bayar tol, yg baru-baru ini justru dinaikkan tanpa memikirkan dampak terhadap orang banyak? Kok kita masih bayar listrik penerangan jalan?
Kalau dibandingkan dengan negara lain, yg namanya jalan itu bukan makin mahal biaya yg dibebankan ke masyarakat. Contoh di Amerika Serikat. Yg namanya jalan tol itu lama-kelamaan gratis, bukannya malah dinaikkan! Secara dalam ilmu ekonomi, ada yg namanya depresiasi nilai atas barang. Jadi jalan tol Jagorawi itu bukannya dinaikkan tarifnya malah digratiskan, meski masih harus dilarang u/ kendaraan selain roda empat atau lebih.
Biaya pemeliharaan? Ah itu bukan alasan, secara setiap tahun Departemen PU dan DPU Kabupaten/Kota/Propinsi mengajukan APBN dan APBD dengan menyediakan alokasi khusus anggaran pemeliharaan jalan, yang dananya berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor, yg kita bayar setiap kali mengurus STNK di Samsat.
Jadi kalau Jasa Marga atau provider jalan tol lainnya sudah habis masa kontraknya, seharusnya ya dikembalikan ke pemerintah dan biar pemerintah yg merawat dengan mengalokasikan anggaran dari PKB. Jadi ngapain masih bayar tol?
Sekarang bicara listrik penerangan jalan. Saat membayar listrik setiap bulan, coba perhatikan di bukti pembayarannya. Ada item penerangan jalan khan? Nah itu berarti sudah dipungut oleh PLN khan? Kok masih dihimbau bayar pajak lagi?
Jadi pertanyaannya meluas nih. Itu iklan ditujukan buat siapa? Saya rasa siapapun yg memiliki kendaraan, dan/atau menggunakan jalan tol pasti sudah memenuhi kewajibannya. Demikian pula dengan lampu jalan. Setiap orang yg pasang listrik di rumahnya pasti sudah bayar khan? Nah!
Mbok kalo bikin iklan ya cari muatan yg lebih berbobot gitu loh... Kenapa ga pakai muatan yg menceritakan kegiatan layanan publik seperti rumah sakit umum/puskesmas, sekolah negeri, kepolisian, pertahanan keamanan, telekomunikasi. Eh tar dulu, bukannya semua layanan publik itu sekarang malah bayar dan semakin mahal ya???
Siapa sih yg ga tau betapa mahalnya masuk sekolah negeri sekarang ini? Siapa sih yg ga tau kalau masuk RSU kita harus bayar biaya yg tidak sedikit? Siapa sih yg ga pernah berurusan dgn polisi yg ujung2nya minta duit? Siapa sih yg peduli ngapain tentara kita itu, secara pulau2 kita tetap aja diserobot negara tetangga? Siapa sih yg ga tekor bayar pulsa?
Lantas buat apa bayar pajak, kalau lantas semua masih harus bayar lagi dan bayar lagi... Ga usah ditanya kemana larinya uang pajak khan?
Hmmm kalau mau nambah ruwet, nih satu lagi isu buat bikin tambah sebel.
Kita tahu kalau pasang iklan di TV itu luar biasa mahal, secara masuk jenis ATL (Above The Line) publication, alias tipe publikasi yg butuh biaya besar. Kalau ga salah, penayangan 30 detik bisa habis 30 juta per penayangan (belum termasuk PPN). Nah bayangin aja kalau biaya reklame saja sudah segitu mahal, dan ingat itu dikutip dari pajak yg kita bayar, berarti khan malah terjadi pemborosan biaya negara dari pajak dunk.
Eh jangan-jangan secara itu ILM (Iklan Layanan Masyarakat) malah ga bayar PPN kali ya? Atau malah ada pengurangan beban pajak kepada perusahaan televisi yg mau menayangkannya (tax holiday). Hmmm... kebijakan yg aneh!
Lagi-lagi yg ditampilkan ternyata paradoks sebuah negeri bernama Indonesia.
Cape deeeeh...
gambar dipinjam dari sini. ©ciput 2007 all rights reserved 
Ribut-ribut seputar klaim lagu daerah Maluku "Rasa Sayange" yg dipatenkan menjadi Lagu Resmi Pariwisata Malaysia belakangan ini, membuat saya teringat sebuah obrolan dengan seorang teman, yg postgraduate student di kampusku di awal tahun 2005 yg lalu.
Saya (C): Enak ya awak ni, sekolah dibayari negara, pulang pun ada jaminan pekerjaan yg sesuai pula. Teman (M): Enak memang, tapi saye tak bebas bicare seperti orang Indonesia. C: Maksudnya? M: Ya, kami ini boleh pergi sekolah percuma (gratis) di luar negeri, kerajaan yg bayar tuition (spp, red.), tapi kami ini bisa-bisa dilaporkan ke polis kerajaan kalau kami cakap tak baik tentang negare kami. C: Siapa yg laporkan? M: Ya teman kami sendiri lah.
Ooo begitu rupanya, kehidupan WN Malaysia yg belajar di luar negeri. Mereka dijamin bisa bersekolah sesuai dengan minat hingga ke luar negeri. Persis sama dengan Indonesia 20 tahun yang lalu. Saat jaya-jayanya Prof. Dipl.Eng BJ Habibie yg banyak menyekolahkan putra-putri Indonesia ke luar negeri dan dijanjikan bakal bekerja di BPPT/LIPI sebagai peneliti. Tak kurang teman SMA saya banyak yg mengambil peluang ini dan sekarang justru tak hanya bertebaran di dalam negeri, tapi banyak juga yg bekerja di luar negeri, sebagai EXPAT!
Namun di sisi lain, suara mereka tidak bisa vokal, secara dikekang oleh pemerintah kerajaan yg dikuasai oleh UMNO dan Barisan Nasionalnya. Persis sama dengan Indonesia 20an tahun yl. Saat masa jaya-jayanya Keluarga Cendana dengan Golkar-nya, yg banyak membungkam suara vokal mahasiswa dan aktivis dengan kekerasan, bahkan sampai menghilangkan nyawa segala 
Sekarang bicara soal kesejahteraan. Siapa orang Indon tak silau dengan gemerlapnya Malaysia. KL makin indah dengan berdirinya Menara Petronas, salah satu gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Orang Malaysia memiliki rumah yg cozy dan mobil yg mewah-mewah u/ ukuran orang Indon yg mereka beli dengan harga terjangkau. Dua puluh tahun yl, kita pun demikian. KPR begitu mudah diperoleh, mobil pun bisa dibeli dengan enteng, meski harganya jauh lebih mahal dari harga di Malaysia. Menara 46 (BNI) pun sanggup kita bangun menjulang tinggi, tertinggi di Asia Tenggara saat itu.
Petronas? Apa bedanya dengan Pertamina? BUMN yg konon dibangun dengan jasa baik orang-orang Pertamina 20 tahun yl ini merajalela di berbagai bidang, dari hulu ke hilir, persis seperti induk semangnya. Bedanya cuma Petronas sudah ekspansi ke luar negeri, sementara Pertamina terjebak jadi tuan tanah yg arogan dan terlena jadi penyalur BBM produksi perusahaan-perusahaan minyak asing.
Barisan Nasional? Apa bedanya dengan Golkar? Sama persis, meski Barisan Nasional lebih bersifat koalisi partai-partai politik, sementara Golkar katanya gabungan dari organisasi-organisasi massa dan politik di masa-masa awal Orde Baru. Namun dua-duanya sama-sama menguasai 99% politik dalam negeri Malaysia, hingga hanya menyisakan PAS (Partai Islam Se Malaysia) yg menguasai Negara Bagian Trengganu, yg diabaikan dari pembangunan. Dulu PPP dan PDI cukup jadi peraih suara terbanyak kedua pun sudah bangga setengah hidup.
Proton? Apa bedanya sama Timor? Bedanya cuma satu, bisa bertahan lebih lama, meski sekarang juga kembang kempis, hanya lantaran tak ada seorang Tommy Soeharto yg jadi backing-nya saja.
Pelajar di luar negeri menyelundupkan mobil mewah saat pulang kampung? Di Indonesia, dua puluh tahun yl juga sama, pelajar di luar negeri boleh membawa pulang mobil built-up saat pulkam, bebas pajak bea masuk pula. Hanya bedanya, sesampai di Indonesia, mobil-mobil itu sudah ada penampungnya, sementara di Malaysia kebanyakan dipakai sendiri, meski penampungnya tetap ada, tapi tidak dikuasai kartel mobil impor.
Jargon-jargon kampanye pariwisata? Ah jaman Pak Joop Ave dan Susilo Sudarman jadi Menteri Pariwisata pun Indonesia melakukan hal yg sama. Ingat program Visit Indonesia Year? Yg diikuti oleh propinsi dengan jargon-jargon yg sama...
Pelajar Indonesia banyak sekolah di Malaysia? Dulu pelajar-pelajar Malaysia juga banyak yg berkeliaran di UI, IPB, ITB dan masih banyak lainnya.
So? Jangan-jangan Malaysia 20 tahun lagi persis seperti apa yg kita alami sekarang ini? Kalau mikir dendam kesumat sama tetangga satu ini sih, ujar saya pasti: RASAKNO! BEN KAPOK!
Tapi dosa khan mendoakan saudara sepupu kayak gitu 
Mudah-mudahan sepupu jauh kita ini segera disadarkan agar tidak riya' dan tidak arogan bin jumawa... agar jauh dari azab dunia, seperti yg bolak-balik kita alami. Cukup sudah saudara tua ini yg alami, tak perlu terulang dua kali coz no donkey falls in the same pitfall, bro!
SADARLAH MALAYSIA! YOU'RE NO ONE BUT STILL HUMAN BEING! gambar dari sini. ©iput 2007 all rights reserved.
 Sejak tanggal 6 Agustus yang lalu, Bank Mandiri bikin promo Debit Mandiri di beberapa SPBU tertentu. Syarat dan kondisinya begini: - belanja BBM tipe Premium Rp 100,000 dapat tambahan 10 liter! - promo berlaku untuk tanggal 6, 9 dan 11 Agustus antara jam 17-19.
Sebenarnya saya kurang gemar mengejar promo-promoan macam begini, tapi secara adik ipar saya yang CS di Bank Mandiri aktif ngomporin dan istri saya minjemin ATM/Debit Mandirinya, dan kebetulan pula salah satu SPBU yg ada promonya ini terletak tepat di jalur perjalanan saya dari/ke kantor, dan kejebak macet antrian mobil di SPBU Basuki Rahmat Cipinang Besar Selatan, alhasil sore tadi saya pun ikutan ngantri!
Setengah jam lebih ngantri di SPBU langganan saya, secara bisa beli BBM pake Debit BCA, akhirnya tiba giliran lubang asupan BBM Bung Teri disogok pake nozzle berwarna kuning. Baru mengalir beberapa liter, si petugas meminta kartu Debit Mandiri yg sedari tadi sudah saya pegang. Begitu melihat foto yg nyempil di pojokan kartu berwarna putih-biru itu, sang petugas pun berujar: "Maaf Pak, harus pemilik kartu ini yang belanja"
Yeeee, meneketehe kalau istri, yg nama dan fotonya tertera di kartu, yg harus beli. Setahu saya asal kita tahu kombinasi nomor PIN, seperti kartu debit lainnya, seharusnya tidak ada masalah. Saya pun menjawab: "Ini kartu istri saya dan saya tahu PIN-nya kok!" *mulai kesal*
Petugas Bank Mandiri mendekat dan menjelaskan bahwa program promo Debit Mandiri ini tidak perlu pakai PIN, cukup yg punya kartu yg beli! Aneh, pikir saya. Saya belanja BBM di SPBU ini nyaris tiap 3 hari sekali dan selalu pakai Debit BCA yg tinggal gesek dan pijit nomor PIN, nah ini kok ga pake PIN???
Si petugas Bank Mandiri malah menyarankan saya pakai saja Debit BCA saya sembari menambahkan kalau pakai kartu itu tidak bakal bisa ikut program promo ini. Ya iya lah, semua juga tahu kalau soal itu, memangnya saya anak kecil! :p
Kesal, secara udah terlanjur beli tapi ga bisa dapat promonya, saya mengucap beberapa kata: "Well Bung, keluarga saya banyak yang di Bank Mandiri, termasuk adik saya ini", sembari menunjuk adik ipar saya yg antri dua mobil di belakang saya. "Tapi saya kecewa berat, secara rasanya saya dibohongi begini. Kalau tahu istri saya harus ikut, ngapain juga saya tadi bermacet-macet ria begini. Ya sudah, saya akan tulis surat pembaca saja lah!", ujar saya sambil masuk ke dalam mobil dan tancap gas pulang.
So far, tak ada kata maaf dari pihak petugas Bank Mandiri, malah ada petugas cewek yg nyolot: "Ya balik lagi aja Pak, istrinya dibawa" Set dah, ini orang kalau tahu istri saya lagi hamil tua dan saya pan baru pulang dari kantor, pasti ga bakal ngomong begitu. Huh!
Sial! Yg ada saya dihadang macet di dua arah Jl. Basuki Rahmat (Casablanca). Jarak SPBU ke rumah yg cuma 1.5 km saya harus tempuh selama 45 menit! Lebih cepet jalan kaki kaleeeee... Padahal istri sudah nunggu di rumah, minta dianter ke Kelapa Gading, mengantar sprei dan bedcover pesanan Mba Ari Peach, yg mau balik ke US Rabu mendatang.
Di jalan macet itu, saya sempat sms adik ipar saya yg satu lagi (kakaknya yg antri tadi): Promo BBM Debit Mandiri cuma bikin macet doank! Yg ada gw ditolak secara Mbakyumu ga ikutan belanja! Huh! >:< Eh apa coba jawabannya: Ya jelas pemegang rekening yg boleh belanja. Logika donk!
Set dah, ini adik satu ga nyadar apa kalau saya ini khan termasuk kastemer dan dia CS officer??? Bukannya memberi jawaban yg menyejukkan, malah balas memaki.
Ya sudah, secara masih esmosi, saya jawab aja: Eh Bu, coba itung berapa yg rugi kena macet? Banyakan mana sama yg jadi kastemer elo? Yg ga logis siapa coba? Ya udah gw tulis surat pembaca aja dah kalo cara kalian kayak gini!
Memang promo itu baik, tapi kalau merugikan orang lain khan jadi ga bener namanya. Itu baru bicara kerugian waktu, biaya dan bahan bakar akibat terhadang macet, yg saya yakin sudah mengular jauh ke mana-mana, mungkin sampai Kuningan - Pondok Bambu - Bypass, secara jalur tersebut merupakan jalur padat pada jam-jam segitu.
Belum lagi bicara emisi gas buang yang bakal mencemari udara. Kendaraan macet jelas mengeluarkan emisi yg terkonsentrasi di seputar lokasi macet khan?Worthed kah untuk keuntungan sesaat, bagi segelintir kastemer.
Udah gitu iklannya ga menjelaskan kalau musti pemegang rekening yg belanja. Dimana-mana itu asal bisa pijit nomor PIN, urusan beres. Biar kata kartu Debit dicopet orang, teteup aja ga bisa dipakai sembarangan kalau ga tau nomor PIN-nya. Kalau pakai teknologi masih nanggung gini, mending ga usah deh... daripada ngecewain saya, yg justru bagian dari keluarga bank pemerintah terbesar ini secara istri saya dulunya bekerja di Bank Bumi Daya, salah satu pilar pembentuk bank dimana 2 orang adiknya bekerja saat ini.
Yah semoga saja pihak pemerintah daerah membuat ketegasan atas praktek-praktek promosi yg (imho) lebih menimbulkan mudarat ketimbang manfaat macam begini lah.
gambar dicomot dari sini ©iput2007 all rights reserved. 
Aslinya dalam bahasa Jawa: "Put, nek wis gede kowe ojo dadi pulisi yo".
Begitulah kira-kira pesan terakhir Eyang Kakung sesaat sebelum beliau meninggal 24 tahun yang lalu. Saat itu saya baru kelas 1 SMP dan kalau ditanya apa cita-citanya, sudah pasti jawabannya kalau tidak dokter, pilot ya polisi. Apalagi saya saat itu sedang giat-giatnya ikutan PKS, gara-gara mengagumi penampilan Eyang yang gagah kalau lagi pakai seragam. (catatan: PKS-nya bukan partainya cagub DKI yang polisi bintang 3, tapi Patroli Keamanan Sekolah)
Padahal Eyang Kakung saya itu seorang purnawirawan Komisaris Besar Polisi era Orla dan salah seorang anaknya (Pakde saya) pun menjadi polisi hingga pangkat Kolonel (setara Komisaris Besar), bahkan istri Pakde saya pun pernah jadi anggota DPR-RI jaman Orba dengan pangkat terakhir Kolonel.
Sampai sekarang saya ngga pernah mengerti apa alasan Eyang Kakung melarang saya, cucunya yang paling bengal ini, untuk jadi polisi. Saya terkenang pesan terakhir Eyang Kakung saat menyimak salah satu pernyataan Cagub DKI No. 1 dalam debat di salah satu stasiun TV swasta.
Di acara itu, AD (inisial) menanggapi pertanyaan salah seorang peserta, yang pengusaha hiburan malam, yang bertanya apakah bila terpilih nanti akan menghapus adanya hiburan malam. Beliau dengan tegas menjawab: TIDAK, hanya akan dibina... bla.. bla.. bla... *ga inget persis ucapannya*
Bagaimana bisa Pak? Pencalonan Anda khan didukung oleh partai yang berbasis syari'ah dan dikenal paling 'radikal' dan konsisten dalam menegakkan ajaran Islam (cmiiw)!
Belakangan muncul sanggahan tim sukses beliau bahwa industri hiburan malam di Jakarta bakal dibina *bahasanya polisi banget yak* menjadi hiburan malam yang sesuai syari'ah. Halooooo... hiburan malam kayak apa tuh yang sesuai syari'ah? Nasyid di kafe? Marawis di klub malam/diskotek?
Yang bener aja donk Oom kalo ngomong... Biar kata otak saya cetek soal agama, tapi siapa pun tau kayak apa itu hiburan malam. Dan siapa pun mafhum kenapa hiburan malam bisa survive di Jakarta, yang belakangan makin banyak yang bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Apalagi alasannya kalau bukan bekingan polisi (dan militer)! Benar tak?
Sutralah, dua hari lagi saya dan jutaan warga DKI bakal milih siapa yang bakal memimpin kota kelahiran saya yang kian tak ramah sama penghuninya ini. Pilihan terserah pada Anda, jangan terpengaruh pada opini saya di atas, apalagi jago saya pun jelas-jelas batal maju dan terus terganjal peraturan KPUD DKI tentang calon perorangan yang katanya sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (baca: netral).
MASA DEPAN JAKARTA ADA DI TANGAN ANDA... BUKAN DI TANGAN PARTAI, APALAGI TANGAN CALON GUBERNUR! SELAMAT MENCOBLOS!
[disclaimer: ini bukan jurnal politik looh, hanya sekedar membantu meningkatkan awareness warga akan hak-hak politiknya]
PS: Kantor gw libur dunk... tanggal 8 !
foto ilustrasi diembat dari sini. ©iput 2007 all rights reserved.
Sekian hari ga sempet baca koran, secara ke luar kota mulu during wiken dan cuma sempat di rumah/kantor setengah hari Selasa kemarin... begitu baca koran Kompas, kok ndilalah nemu kejanggalan isi berita. Tumben nih... secara koran satu ini saya gemari lantaran kualitas akurasi editingnya luar biasaaaaaa! TOP BGT dah!
Dimana tuh? Coba buka link berita ini deh. Di situ disebutkan Gubernur Sutiyoso, yang bentar lagi lengser keprabon, menandatangani nota kesepahaman kota kembar (sister city) dengan Walikota Maputo, ibukota Zimbabwe.
Nah di situ letak kesalahannya! 
Setahu saya, dan hasil googling juga sih, kok Maputo itu ibukota Mozambique, bekas koloni Portugal yang merdeka tahun 1975, berbarengan dengan invasi pasukan ABRI ke Dilli (Timor Timur, sekarang Timor Leste). Kebetulan juga dulu ada teman satu flat di Inggris yang berasal dari Maputo, namanya Daniel DaCosta dan pernah kasih saya koleksi lagu Jimmy Ndludlu (klik di sini), yang banyak cerita tentang negerinya yang melarat itu. *kalau dia ngerti ini berita, bisa ngamuk kali * Penjelasan tentang Maputo bisa juga dilihat di Oom Wiki. Sedangkan ibukota Zimbabwe, itu namanya Harare atau dulu disebut Salisbury, saat masih dikuasai rezim apartheid kulit putih dan bernama Rhodesia.
Soal isi beritanya sendiri, kalau dipikir-pikir, goblog amat ya Gubernur Jakarta. Masak mau dagang ke Eropa Barat dan Amerika Serikat kudu musti muter dulu ke ujung dunia gitu.
Ga kebalik tuh? Bukannya jadi tambah mahal ongkosnya??? Apa sebanding dengan bea masuk yang katanya mahal itu? Saya pikir kok malah lebih mahal ngirim ke Mozambique dulu baru ekspor ke Eropa atau Amerika. Mana pakai acara merk diganti segala pula. Inikah yg namanya transhipment atau re-ekspor yaaa? Tapi kok lewat Afrika??? Kebijakan yang aneh! 
Jadi ingat ada pembicaraan saat kopdaran sama beberapa teman *maaf nama dirahasiakan untuk keselamatan ybs - halah* semalam di Paris van Java, Bandung eh kok tiba-tiba ada yang nyeletuk: "Berapa yaaaa ongkos traveling ke Afrika?" Mahal kaleeee secara belum tentu ada penerbangan langsung ke sana, kecuali ke Nairobi (Kenya) dan Cape Town, Johannesburg (Afrika Selatan), itu pun via Singapore atau Dubai *jadi kepingin juga neh*
Ah sutra lah, namanya juga mata capek tapi otak teuteup jahil aja. Siapa tahu ada orang Kompas yang baca ini dan terus dapat compliment kayak Agung. *ngarep.com* 
[catatan redaksi: judul diganti biar lebih menohok ] gambar dipinjam dari sini. ©ciput 2007 all rights reserved.
Karena ummat Islam bertambah? Bisa jadi, stat pleaseee...
Karena Muslim banyak yg shalatnya cuma Jumatan doang? Ya gitu deh... 
Karena luas mesjid terlalu sempit? Ngga juga tuh, secara banyak mesjid sudah direnovasi jadi lebih luas khan.
Lantas kenapa dunk?
Coba perhatikan baik-baik di tegak lurus shaf-shaf di depan Anda. Ada jeda antar bahu ngga? Pasti ada, saya yakin!
Nah itu nampaknya sebab musabab masjid kita selalu terlihat penuh dan kalau Jumatan seringkali meluber sampai ke halaman dan jalan mobil di depannya. Semua terjadi lantaran Muslimin Indonesia senangnya menguasai lahan seluas sajadah yang mereka gelar, bukan seluas bahunya!
Pengalaman saya shalat Jumat di berbagai negara (Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Saudi Arabia), saya kadang kejepit di antara Muslimin yang badannya bongsor-bongsor. Bahkan terkadang tidak sanggup duduk tahiyat akhir yang kalau di negeri kita selalu duduk miring dengan posisi (maaf) pantat menyentuh lantai. Di masjid-masjid yang saya pernah berkesempatan singgahi di negara-negara itu, duduk tahiyat akhir tak ada beda posisinya dengan duduk tahiyat awal, secara saking sempitnya lahan yang bisa kita okupasi.
Terus maknanya apa? Ya ini nampaknya implikasi dari kesewenang-wenangan Muslimin Indonesia, sampai-sampai berbagi lahan untuk jama'ah lain yang datang belakangan dan tak dapat lahan untuk shalat saja tidak mau.
Saya bukanlah orang yang puaham puoll soal agama, tapi kalau ga salah ada hadist-nya yang mengatakan kalau shalat harus saling bersentuhan bahu antar jama'ah. Katanya sih untuk menghindari setan bisa melintasinya.
Tapi saya coba dari perspektif nalar saja lah, secara ga hafal yang mana hadist-nya. Coba gelar 2 lembar sajadah, lantas berdirilah di atasnya bersama 2 orang dewasa lainnya. Pasti cukup khan!
Nah kalau begitu alasan sebenarnya adalah kegedean sajadah!
Lantas kita kudu nyalahin produsen sajadah gitu? Ya ga juga? Kita introspeksi diri saja lah, kenapa juga kita beli sajadah yang lebar-lebar. Kenapa ga yang berukuran pas selebar badan kita? Produsen mah ngikut maunya pasar aja, secara saya perhatikan sajadah kita kebanyakan produksi negeri-negeri yang setahu saya jama'ahnya ga butuh lahan seluas kita kalau shalat tuh, seperti Turki dan Pakistan.
Berarti nyata kita lah yang terlalu egois khan?
gambar (catatan ga penting: pas googling cari ilustrasi, duluan ketemunya malah sampul depan majalah Playboy )
©ciput 2007 all rights reserved.
Di hari terakhir long-wiken ini saya kebagian tugas babysitting anak-anak saya sendiri, secara Bunda lagi super duper sibuk.
Sabtu (19/05/07) beliau ikut seminar Kumon tentang pola pengasuhan anak yang tepat dalam keluarga di Hotel Gran Melia Kuningan. Lalu, hari ini dia ada mengantar foto Mbah Kakung pemilik rumah yang kami kontrak ini ke pengobatan alternatif Ibu Sulistin di Jl. Buncit Raya dan pulangnya singgah ambil pesanan di grosir sprei di Pondok Kelapa.
Tuh khan benar-benar hari yang sibuk, apalagi saya selain babysitting harus mengawasi pekerjaan terjemahan dokumen kantor (dan ada yg kerjaan sambilan juga sih) sebanyak 4 dokumen sekaligus! Lengkap sudah penderitaan... mana kedua jendral kancil saya ini super duper jahil semuah! :((
Selagi asyik mengedit dokumen yang diterjemahkan oleh ibu sekretaris dan melayani konsultasi terjemahan dari salah satu penerjemah yang saya hire (Ibu Dina Amallia), sebuah SMS masuk ke HP saya.
Dari Bunda (0817*******):
"Enak euy jadi org hamil, biar busway penuh tetep duduk :) bla... bla... bla... (disensor secara isinya pesan sponsor untuk saya)"
Ini bukan kali pertama, secara sudah beberapa hari belakangan ini Bunda sering bepergian naik busway. Selain dibantu oleh petugas Transjakarta yang menjaga pintu masuk/keluar untuk dapat tempat duduk, kadangkala ada pula penumpang yang sedang duduk ikhlas memberikan tempat duduknya untuk Bunda.
Well, selain membuktikan kalau rambu himbauan untuk penumpang mulai dihiraukan oleh sebagian penumpang, ini salah satu bukti kecil kalau sebagian orang Jakarta ternyata masih punya nurani. Meski kudu hamil segala dulu, baru dapat perlakuan yang manusiawi ini :D.
Semoga fenomena ini terus berlanjut dan berkembang meluas ke anggota masyarakat lainnya dan akhirnya Indonesia (khususnya Jakarta) jadi lebih baik... AMIIIIIIIIIIINNNN!
gambar dari salah satu jurnalnya Bang Latief.
©ciput2007 all rights reserved.
Tadi sore (Selasa 15/05/07) saya singgah di toko swalayan Hero dekat rumah. Tadinya saya hendak bikin kunci serep untuk meja ibu sekretaris, tapi batal secara saya ingat kalau saya malah sudah janji belikan dia meja baru secara kami mendapat lungsuran kubikul *lungsuran sih kubikul * dari big boss. Eh kok jadi ngomongin mejanya ibu sekretaris sih? 
Secara batal bikin kunci, saya pun masuk ke dalam toko. Setelah beli beberapa item (roti, apel, tas laptop murah meriah, dan bubur oatmeal) saya pun pergi ke kasir. Saat itu cukup banyak pembeli yang mengantri di kasir, saya pun memilih kasir yang paling sepi yang hanya diantri oleh tiga orang pelanggan dan saya berada di urutan paling belakang.
Seorang pria separuh baya, yang berdiri paling depan, baru saja menyelesaikan transaksinya dan segera beranjak pergi. Baru saja seorang ibu tua di depan saya bergerak maju ke depan mesin pemindai harga, tak dinyana si pria tadi kembali ke meja kasir dan MELEMPARKAN SEKEPING UANG RECEH KE KASIR!!! JAGAD DEWA BATARA!!! Sekali lagi MELEMPAR!!!
BENER-BENER GA SOPAN!! BENER-BENER GA TAU ADAT!!! 
Saya yakin ini orang pasti tajir (harta banjir = kaya raya, red.) tapi mbok yao ga usah segitunya memerlakukan seorang kasir, yang tak punya salah apa-apa. Terlebih pakai acara melempar uang receh ke kasir.
Apa lantaran merasa tajir, terus lupa kalau tanpa uang receh sekeping itu hartanya tak bakal utuh? Biar kata punya harta 1 Milyar, tapi kalau hilang sekeping uang 100 rupiah, tidak bakal jadi 1 Milyar kan? Benar-benar orang yang aneh!
Saya lantas bilang sama si mba kasir: Kalau saja saya bawa celengan saya di rumah, udah saya lempar aja ke muka dia tuh, Mba! 
Si Mba cuma berkata dengan nada parau menahan tangis: Iya Pak, sakit dada (hati, red.) saya ditimpuk gitu! 
Semoga di jagad ini cuma satu orang saja yang punya kelakuan segitu arogannya, atau negeri ini bakal hancur dilumat sengsara nantinya. AMIIIIINNNN!
gambar dari situs saya sendiri, yang siap dilempar ke muka itu orang 
©iput 2007 all rigths reserved.
Suntuk mengutak-atik draft kontrak konsultan sama boss, saya berfikir untuk hide-out ke pulau, apalagi setelah membaca postingan Mba Nita yang ini. Tapi sempat urung, secara ada acara adik sepupu istri yang nikah Jumat lalu dan saya pikir bakal ada resepsinya keesokan harinya. Alhasil bookingan saya alihkan ke boss, yang ternyata juga cari refreshing. Pucuk dicinta ulam tiba.
Namun, secara ternyata acara Sabtu itu tidak ada (baca jurnal yang ini) akhirnya lastminute.com saya putuskan untuk ikut, itung-itung penyegaran setelah sembilan bulan lamanya ga nyentuh yang namanya dive-gear, merasakan dinginnya air laut di kedalaman belasan meter dan olah raga *yg mayan mahal tapi addicted*. Kali ini Pulau Pramuka, ibukota Kabupaten Administratif Kepulauan Seceng yang jadi sasaran.
Tepat jam 10.00 WIB, kapal cepat milik resor Kulkul di P. Kotok sudah merapat di dermaga beton yang 'katanya' dibangun 1 tahun lalu tapi karet penahan perahunya sudah pada lepas dan besi-besinya pun sudah keropos. Satu paradoks!
Saat menyusur jalan utama kampung beralaskan paving blok, paradoks kedua untuk sebuah pulau yang padat namun hijau royo-royo secara peresapan air dihambat oleh bahan bangunan yang diimpor dari kota yang jauh di daratan ini, pandangan tertohok pada sebuah bangunan baru nan megah berarsitekturkan minimalis.... seperti rumah impian saya selama ini.
Tapi kok dikunci? Terus dalamnya pun kosong bak tak berpenghuni. Penasaran, saya berjalan ke depan... ternyata sebuah rumah sakit, tepatnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu!
Ya rumah sakit yang tak hanya megah, tapi juga berperangkat medis yang sangat lengkap dan modern, bahkan ada fasilitas 'chamber', yaitu ruang perawatan medik bertekanan untuk perawatan penyakit-penyakit akibat penyelaman *meski juga kadang disalahgunakan untuk perawatan kecantikan sih* segala!
Tapi kok dikunci? Ah mungkin lantaran hari Sabtu, yang sudah jadi hari libur Pemda DKI Jakarta. Usut punya usut, menurut Pak Jack (Jakaria aslinya sih ) salah satu divemaster/snorkling guide kami, rumah sakit yang dibangun Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta satu setengah tahun lalu ini pun belumlah beroperasi! Bahkan belum diresmikan!!! What a paradox!
Sudah terlalu megah untuk ukuran pulau kecil, berarsitektur minimalis, yang bagi sebagian besar orang Jakarta pun masih mimpi belinya secara mahal gitu looh, eh belum beroperasi pula! Lantas buat apa coba??? Rumah sakit yang aneh... eh apa pemerintah yang aneh???
*semoga ada mpers yang pegawai atau punya kerabat famili Pemprop DKI Jakarta baca jurnal ini dan reply-reply teman-teman, jadi RS ini bisa segera dioperasikan tanpa perlu seremonial pengguntingan pita segala rupa lah*
Foto-foto lain di pulau ini lebih baik dilihat di sini.
©ciput2007 all rights reserved.
Ada yang mau ikutan "nangga"?
Begitulah selalu yang kami (saya dan teman-teman sekerja) bila pikiran sudah buntu.
Apa pula maksudnya kata itu? "Nangga" berasal dari kata tangga. Istilah ini muncul secara saya dan teman-teman satu proyek memiliki kebiasaan yang sama, yaitu merokok. Jadi kalau udah bete, merokoklah kami... *not a good advice*
Nah secara di gedung ini (dan dimana-mana gedung lain di Jakarta) yang terkena dampak penerapan Perda DKI Jakarta No. 2/2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan PerGub DKI Jakarta 75/2002 Tentang Kawasan Dilarang Merokok, yang selalu kami berusaha taati, alhasil kami harus merokok di tempat yang semestinya.
Namun, sayangnya gedung ini tak menyediakan sarana dan prasarana untuk itu, padahal gedung ini justru sarangnya 'pendekar' lingkungan, alhasil kami harus mencari lokasi yang dikonsensuskan sebagai "kawasan merokok", yaitu di kawasan tangga. Nah dari situlah muncul istilah nangga, alias pergi ke tangga.
tambahan:
Di dalam ritual 'nangga' ini justru sering muncul ide-ide brillian, kesepakatan-kesepakatan 'adat' antar para tenaga ahli (dibilang adat lantaran bentuknya informal namun sifat keputusan bisa diformalkan bahkan kadang strategis).
gambar dari sini.
©ciput 2007 all rights reserved.
Pertanyaan itu yang muncul pada pukul 15.30 WIB pada awal-awal saya aktif di kantor baruku di Gedung Kementerian Negara Lingkungan Hidup (bukan gedung Otorita Batam, secara mereka itu tenant ternyata...).
Apanya hayoooo yang "anget"?
Jangan ngeres dulu... yang 'anget' itu udara di dalam ruang kerja yang tiba-tiba menghangat drastis setiap pukul 15.30 WIB lantaran AC sudah dimatikan!! *Lho?*
Kata teman-teman sekubikul saya itu pertanda jam kantor sudah usai. Hmmm... metode jam kerja (dan jam kerja) yang aneh. Ups... mungkin saya yang aneh, secara ini khan kantor pemerintah, yang notabene jam kerjanya memang ga pernah jelas... 
Di pagi hari, saya sering jadi orang nomor 2 yang datang ke kubikul, yang pertama datang malah anak magang yang rumahnya juga tak jauh dari kantor (Komp. PWI Cipinang Muara). Padahal saya seringkali datang paling lambat pukul 8.30 (ctt red: berangkat dari rumah pukul 8.00, ngedrop Dito di sekolah dan 10 menit kemudian sudah sampai kantor!)!!!
Nah lantas kalau jam 15.30 AC sudah dimatikan, ini maksudnya apa coba??? Apa secara ini kantor Kementerian Lingkungan Hidup, lantas berniat untuk hemat energi dan ramah lingkungan???
Lantas kenapa juga pagi-pagi AC sudah dinyalakan, sementara saat itu belum banyak (bahkan seringkali belum ada) orang??? Kebanyakan dari rekan-rekan sekantor, yang hampir seluruhnya PNS itu, justru baru mulai aktif kerja setelah makan siang, jarang sebelumnya. Iseng saya tanya salah satu dari mereka, dan jawabannya adalah... malas kedinginan pagi-pagi. *Halah!*
Kebijakan (dan kebiasaan) yang aneh!
gambar diunduh dari sini.
©iput 2007 all rights reserved.
"Lho Pak, kirain udah ganti mobil? tanya Mas Tono, pemilik bengkel knalpot di belakang LP Cipinang, saat saya datang bersama si Jimin hari Sabtu 24/03/07 lalu.
"Iya nih Mas, baru mampu ganti knalpot doang! Lho emang sampeyan masih ingat saya?" ujarku.
"Masih! Sampeyan dulu baru pulang ke Amerika khan, pas ganti knalpot mobil ini 5 tahun lalu" jawab Mas Tono.
Begitulah percakapan yang terjadi saat saya datang ke bengkel Mas Tono untuk mengganti knalpot si Jimin yang suaranya sudah mendahului kecepatannya (kebalikan dari kecepatan suara alias saking kencengnya mobilnya masih jauh dari sampai ke tujuan tapi suaranya sudah kedengaran duluan).
Yak, 5 tahun lamanya knalpot merk Braling, yang notabene asli produksi Purbalingga (kampung halaman Bapak saya), menempel di bodi si Jimin. Dan 5 tahun lamanya suara knalpot racing yang khas ini mewarnai jalanan di Ibukota *halah*.
Bangga juga loh, ternyata knalpot buatan anak negeri ini berkualitas dan tahan lama meski dari segi bentuk agak kurang rapih bak knalpot buatan luar negeri. Bayangkan sudah 5 tahun, baru diganti setelah bunyinya ga nahan.
Apalagi dengan harga yang terjangkau, saya rogoh kocek tak lebih dari 250 rb perak (harga awal 300 rb) untuk sepasang muffler (tengah dan belakang) beserta pipa besi sepanjang 2 m yang didesain anti banjir (baca: ditekuk ke bawah biar air banjir ga masuk ke ruang mesin). Meski murahnya ada faktor primordial sedikit, secara Mas Tono ini asli Purbalingga dan... sekampung sama Bapak saya. Well... ada manfaatnya juga ternyata... 
Pengalaman kami sewaktu tinggal di Amerika (2000-2001), saya pernah menjual mobil Toyota Camry 2000cc (1988) seharga US$ 400 hanya lantaran kami tak mampu mengganti knalpot yang biaya suku cadang dan ongkos pasangnya mencapai US$385!
Sementara kalau tidak diganti, mobil kami malah harus dikirim ke junkyard secara ga bakal lolos Inspection atau DoT Test (di Indonesia disebut uji kir) yang wajib dilakukan untuk semua jenis kendaraan bermesin di Amerika Serikat setiap 3 tahun *cmiiw*.
Nah, si Braling ini sudah murah, kualitas ekspor pula... karena seingat saya knalpot Camry yang ditawarkan ke saya di garage (bengkel, Ing.) di Wakefield (Rhode Island) itu bermerk Braling! gubrakz! *makanya saya pilih dijual aja mobilnya daripada gondok khan*
gambar dari sini. Catatan: DOT=US Department of Transportation, di Indonesia banyak dijumpai di botol minyak rem, ingat tulisan DOT3?
©iput 2007 all rights reserved.
Sebuah paradoks yang saya dapat dari milis tetangga (PPIslam Newcastle), entah benar apa tidak, wallahu alam. Saya forward untuk refleksi, bukan untuk mencemarkan nama baik orang apalagi fitnah.
Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan.
Wassalamu alaikum wr. wb.
[tidak saya ubah isinya, hanya tata letak agar enak dibaca] ----------------------------------------------------------------------- IRONI DI MASJID KUBAH EMAS DEPOK
Kegundahan seorang
Ayah Hari minggu tgl 14 Januari 2007, kami sekeluarga (istri dan kedua
anak saya masing-masing berumur 9 dan 5 tahun) bermaksud pergi ke untuk
sholat Ashar di Masjid Kubah Emas (kalau tidak salah namanya Masjid
Dian Al Mahri). Istri dan kedua anak saya begitu bersemangat untuk
sholat di Masjid yang terletak daerah Meruyung, Depok tsb.
Selain sholat
saya juga ingin memberikan alternatif wisata rohani yang positif pada anak
saya. Namun saat kami hendak masuk ke pintu gerbang Masjid, satpam penjaga
melarang anak saya masuk dengan alasan masih di bawah 10 tahun
(begitu pula nasib sama dialami pengunjung lainnya). Saya melihat
pengumuman yang memang menuliskan melarang anak usia di bawah 10 tahun masuk
ke areal masjid dengan alasan untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan
kekhusuan ibadah.
Saya langsung terhentak kaget, kecewa karena seumur hidup
saya baru kali ini saya menemui sebuah Masjid yang membuat larangan anak
kecil masuk, bahkan ke halamannya saja tid! akboleh. Yang semakin
menusuk hati saya adalah kekecewaan yang begitu terlihat dari ekspresi anak
saya terutama anak laki-laki saya yang berusia 5 tahun, dia heran dan
bertanya kenapa yah, aku tidak boleh masuk? Emangnya yang punya mesjid
tidak suka anak kecil yah? Saat itu saya tidak bisa menjawab apapun, jawaban
seperti apa yang harus saya berikan pada anak saya?
Selama ini saya
berusaha untuk selalu membiasakan anak saya sholat di masjid sebelah
rumah. Namun saat ia begitu antusias untuk melihat Masjid yang begitu
tersohor dan indah justru ia tidak bisa masuk. Akhirnya kami sholat Ashar di
Mushola dekat pintu gerbang Masjid Kubah Emas. Mushola yang -maaf- tempat
wudhunya tidak terawat dan kotor namun welcome kepada kami termasuk
anak-anak saya.
Setelah sholat saya berpikir mengapa pemilik Masjid itu
menerapkan sebuah aturan yang bahkan melebihi aturan di Masjidil Haram? Dimana ada orang yang thawaf terlihat membawa bayi dan tidak dilarang
oleh Asykar (polisi kerajaan). Saya tidak pernah mendengar atau membaca
sebuah ayat atau hadits yang melarang anak dibawah 10 tahun tidak
diperbolehkan pergi ke Masjid. Yang saya tahu memang Rasulullah melarang
anak kecil sholat di shaff terdepan bukan melarang datang sholat ke Masjid.
Saya khawatir aturan di Masjid Kubah Emas, ini melewati apa yang digariskan
Rasulullah.
Secara Psikologis, pelarangan ini tentu menjadi
kontraproduktif dengan proses pengenalan dan pembiasaan dini agar anak dekat
dengan Masjid dan mau ke Masjid. Bayangkan jika semua Masjid melarang anak
di bawah usia10 tahun sholat di Masjid, maka Masjid akan kehilangan jamaahnya
sebab generasi mudanya tidak pernah dibiasakan pergi ke Mesjid. Generasi
muda Islam akan semakin jauh dari tempat sujud ke Tuhannya dan mungkin
mereka akan phobiadengan Masjid.
Jika memang pemilik Masjid Kubah
Emas ingin membatasi segmen pengunjung maka seharusnya jangan disebut
Masjid, sebut saja ini adalah tempat sholat pribadi kami yang berada di
areal pribadi, setiap yang ingin sholat harus ikut peraturan keluarga kami.
Sebab jika disebut Masjid maka sudah memasuki dimensi publik dimana semua
muslim berhak sholat di Masjid manapun termasuk dengan anak-anaknya. Tentu
setiap orang tua harus menjaga anaknya agar tertib.Terakhir saya
berharap pemilik Masjid Kubah Emas (juga ke masjid manapun) mau meninjau
kebijakannya.
Anak adalah harapan masa depan Islam, mereka harus didik dekat
dan cinta Masjid sejak dini, kalau tidak mereka akan lebih dekat pada
tempat lain yang belum tentu membawa kebajikan bagi mereka.. Saya berharap
pula, Masjid yang begitu megah, mewah dan konon menelan biaya ratusan milyar
rupiah lebih ramai dengan kegiatan lainnya selain tempat sholat, seperti
pengajian dan pengkajian dan seminar Islam, mentoring/pengajian bagi
anak-anak yang pasti akan tertarik karena halamannya luas dan indah.
Betapa mubazirnya Masjid ini jika hanya dipakai hanya untuk sholat dan
itu pun dibatasi. Kita bisa berkaca pada Masjid Nabawi pada awalnya di jaman
Rasulullah masih hidup, dibangun secara sederhana, dengan atap dari pelepah
kurma, dinding dari lumpur yang dikeraskan.
Namun Masjid itu begitu
kaya dengan aktivitas, menjadi tempat Rasulullah membina ummatnya,
bermusyawarah tentang masalah ummat Islam, mengatur strategi, menimba ilmu
dan disitulah peradaban Islam mulai dibangun. Saya pribadi masih
punya PR untuk menjelaskan kepada anak laki-laki saya agar ia tidak
salah belajar jangan sampai ia punya persepsi bahwa Masjid bukan tempat
anak-anak untuk dekat sama Tuhannya naudzubillah minzalik.
Hilmy
Wahdi Psikolog Alumnus UI Mahasiswa Program Doktor UNJ Dosen tidak
tetap di FE UI ekstension Ayah dari dua anak yang sedang belajar untuk dekat
dengan Tuhannya.
Di suatu sore di bulan puasa lalu, saya terlibat perbincangan dengan Mama saya di kediaman beliau di Kalimalang (Jaktim). Mama (M): Mas, Mama mau pinjemin kamu duit Rp ... juta (pokoknya banyaklah). Terus kamu bangun rumah sana! Saya (C): Ga deh Ma, ga dulu. Kita masih enjoy ngontrak di Cipinang. M: Ya terserah kamu sih. Mau buat bangun rumah di tanah Mama di Bekasi boleh, mau buat beli atau bayar DP pun boleh. Ga pake bunga dan bayarnya semampunya kamu dulu. C: Ya itu dia Ma, kalo mau maksa sih bisa, tapi buat apa. Prioritasi kita belum sampai pada beli/bangun rumah. Lagian lokasi rumah yg sekarang cukup strategis, di tengah kota, dan ga mahal2 juga kok.
Ya begitulah... saya bukannya ga tau terima kasih menolak rizqi, tapi saya berpikir pragmatis. Kontrak rumah di tempat saya sekarang murah (6,5 jt/th, red.), akses mudah ke tengah kota (500 m dari Jl. Basuki Rahmat/Casablanca, 1 kali mikrolet ke Busway di Kampung Melayu), naik sepeda ke sekolahnya anak2 dan... beda RW doank sama ortu/mertua.
Coba bayangkan kalau saya memaksakan diri beli/bangun rumah. Dengan duit yg ditawarkan Mama paling banter bisa dapat rumah di pinggiran (DeTaBek)... Bogor aja belum tentu cukup. Mau buat bayar DP saja, terus cicilannya double dunk. Ke Mama dan ke Bank. Mau beli jadi rumah di tengah kota? Kemarin iseng tanya harga tanah dekat2 sini harganya paling murah 1 jt/m!! Dengan tingkat penghasilan sekarang, yg bulan depan pun harus puasa dulu gajiannya, mana berani saya ambil resiko khan. Mending pragmatis ajah khan...
Apa yg saya lakukan ini sebenarnya bukan fenomena yg aneh, sering disebut sebagai fenomena 'back to the city'. Kaum YUPies (Young Urban Professionals) yg selama ini dipaksa keadaan untuk bermukim di pinggir, bahkan luar kota, mulai kewalahan dengan ekonomi biaya tinggi yg harus dihadapi tiap hari. Belum ditambah dgn tingkat stress yg tinggi akibat perjuangan menuju ke kantor di pagi hari dan pulang ke rumah di petang harinya. Jangan bicara produktif dulu lah, secara energi sudah terkuras selama 1-2 jam sebelumnya.
Sampai-sampai saya pernah dengar ada intermezzo yg menghitung berapa lama kita sebenarnya hidup di jalan. Berapa lama perjalanan rumah-kantor pp setiap harinya? 1 jam? 2 jam? Ambil contoh moderat: 2 jam sehari pp. Berarti 2 jam per 24 jam kita berada di jalan = 1/12 hari. Kalau setahun berarti 1 bulan penuh kita ada di jalan. Kalau umur kita 60 tahun, berarti 5 tahun kita di jalan! Iya khan???
Semua ini sebenarnya kalau diamati lebih jauh, kembali ke kesalahan perencanaan pembangunan perkotaan dimana terjadi salah konsep mengenai pusat kota (downtown). Yg namanya downtown itu bukan sekedar lahan aktivitas ekonomi, tapi seharusnya juga ruang hidup pelaku ekonomi itu sendiri. Contoh ideal adalah konsep Chinatown atau Pecinan. Orang-orang Cina jaman dulu tinggal di atas tokonya, jadi waktunya efektif untuk berusaha dan hasilnya... dari dulu ras kuning ini yg paling maju sektor bisnisnya khan.
Perilaku itu masih diterapkan di RRC sampai sekarang. Perumahan untuk eksekutif dikumpulkan di downtown kota-kota besar, sementara perumahan untuk buruh diletak di dekat lokasi pabrik-pabrik. Jadi tidak perlu seperti Agung yg harus AKAP (antar kota antar propinsi) dari Tebet ke Tangerang, atau Pritha yg dari Depok ke Kedoya.
Lha terus bagaimana kalau harga sewa rumah mahal? Ya di situlah peran pemerintah, menyubsidi harga sewa sehingga terjangkau kaum menengah dan tidak mendorong perusahaan properti untuk membangun apartemen mahal saja.
Solusi lain adalah sediakan angkutan massal yg terjangkau dan nyaman! Tidak dengan membangun jalan tol yg centang perenang ga karuan kayak sekarang. Konsep transportasinya harus 3M (Massal, Murah, Massif), seperti KERETA!
Kenapa kereta (bukan logat Malaysia looh, yg artinya mobil juga) dan bukan jalan? Karena dengan naik kereta, menekan jumlah mobil yg beredar di jalanan khan. Ujung2nya jalan lebih lancar, udara lebih bersih. Kalau jalan, yg terjadi adalah konsumerisme meningkat lantaran orang lebih banyak lagi yg beli motor atau mobil, seperti Kang Tian yg tiap hari naik motor Sasakpanjang-Kalibata, padahal jalur dia itu sejajar jalur KRL 
Jadi memang keruwetan ini sudah menjelimet ke sana kemari. Bisa ga ya dibuat terobosan??? Weits... jadi mikir negara gini gw... udah ah mo balik kerja lagi ah... sambil nunggu maksiat (makan siang ama temen, red.) bareng Oom Barens dan Arie Parikesit, kawan baruku.
gambar
©ciput 2006 All rights reserved.
Belum seminggu Idul Fitri berlalu,
ketupat baru saja habis, mesiu mercon banting baru saja hilang dari
hidung, saudara-saudara pun banyak yg belum tiba dari kampung halaman.
Belum sebulan yg lalu Dr. Muhammad Yunus, penggagas kredit mikro dan pemimpin Grameen Bank, dianugrahi Nobel Perdamaian 2006 yang kontroversial (mengalahkan SBY dan Maartti Artisaari mantan Presiden Finlandia terkait MOU dgn GAM).
Salah satu alasan kuat Komisi Nobel memberikan penghargaan kepada Yunus, yg kebetulan jebolan beasiswa yg sama denganku meski 22 tahun lebih senior , adalah tindakan nyata kepada rakyat kecil yg mendorong kepada perdamaian.
"Kedamaian abadi tidak dapat dicapai kecuali kelompok-kelompok populasi
besar menemukan cara untuk menghentikan kemiskinan. Kredit mikro adalah
salah satu alatnya," ungkap pernyataan dari Komite Nobel Norwegia yang
mengumumkannya pukul 09.00 GMT atau pukul 16.00 WIB. (dikutip dari tempointeraktif 13 Oktober 2006).
Perdamaian? Kata itu sekarang jadi tanda tanya besar bagi Bangladeshi, sebutan rakyat Bangladesh, dan juga saya. Semua lantaran memanasnya suhu politik di Dakka pasca berakhirnya masa jabatan PM Begum Khaleda Zia, yg menyebabkan terjadinya kekosongan pemerintahan akibat lambannya pelaksanaan pemilu. Kerusuhan pecah akibat demonstrasi massa antara pendukung BNP (Bangladesh National Party)-nya Zia dan oposisi (selengkapnya baca di sini).
Nah sekarang alasan yg disampaikan ketua Komisi Nobel tersebut apa masih relevan?
Saya sepakat bahwasanya skema kredit mikro yg dikembangkan oleh Yunus dan Grameen Bank bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat marjinal (golongan ekonomi lemah). Saya sendiri pernah mencoba mengembangkannya di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (Kalimantan Timur) pada 2003-2004 lalu, meski obyektifnya semata-mata pemberdayaan ekonomi rakyat dan cuma mencakup 8 kelompok di 4 kecamatan atas dukungan finansial dari Kedutaan Besar Inggris sebesar 100 jt perak u/ periode setahun. *Ga ada apa-apanya dibanding yg dilakukan oleh Yunus*
Tapi dikaitkan dengan perdamaian? Kayaknya ada ekspektasi berlebihan dari Komisi Nobel. Memang betul stabilitas ekonomi akan mendorong terciptanya situasi politik yg kondusif, terutama di tingkat akar rumput (grass root), tapi tanpa adanya itikad politis (political will) dari pemerintah, terutama di pusat yg menjamin stabilitas ekonomi secara makro, rasanya situasi damai akan jauh gantang dari api dan pembenaran Komisi Nobel pun jadi sumir adanya.
Bagaimana dengan kita? Masih mau berkutat pada soal politik yg kian tak jelas juntrungannya atau mau memerbaiki kondisi ekonomi, baik mikro maupun makro?
gambar
©iput 2006 all rights reserved
| |