Ciput's posts with tag: jakartaku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jakartaku
Blog Entry[Fenomena] Maling Gembok!Mar 10, '08 12:09 PM
for everyone
"Bundaaaaaaaa! Gembok pager depan mana? Kok ga ada?" Terkejut saya saat mendapati gembok pintu pagar depan tak kelihatan batang hidungnya. Perasaan siang tadi masih ada, pikir saya. Kenapa kok menghilang???

Awalnya saya tak berpikir sesuatu yg istimewa, sampai tadi sore (Senin 10/03/08) saat saya sedang asyik ngobrol-ngobrol dengan teman soal radio komunikasi yg barusan selesai disetting di Terios saya. Bang Abot, begitu panggilan teman baru saya ini, bercerita kalau dirinya sudah dua kali kehilangan gembok dalam tiga hari terakhir!

Lantas kami berdua pun mengambil kesimpulan munculnya fenomena baru: PENCURIAN GEMBOK! Entah benar apa tidak, saya mau tanya pada yg baca jurnal ini, apakah mengalami kejadian yg sama, secara barusan saya chatting YM dengan teman yg tinggal di Jakarta Timur, yg juga mengalami kejadian serupa dalam 2 hari terakhir ini.

Ciri-ciri gembok yg dicuri sama, yaitu ditinggalkan tergantung di slot pagar tak terkunci di siang hari. Ya iya lah, kalau terkunci, gimana caranya ngambil coba?

Kalau betul fenomena ini memang terjadi, duuh Jakarta ini makin aneh aja sih

gambar dari sini.
©ciput 2008 all rights reserved.

Blog Entry[Jakartaku] Galian Telkom Yg Bikin Papa OperasiFeb 29, '08 12:41 PM
for everyone
Beberapa waktu yg lalu, saya sempat posting jurnal tentang Papa yg harus operasi hernia secara sok jadi pahlawan mau merapikan eks galian kabel serat kaca (fiber optic) milik PT Telkom di depan rumah beliau di Jl. Inspeksi Saluran/Kalimalang, Jakarta Timur (baca selengkapnya di sini).

Mau tahu seperti apa galian Telkom yg bikin Papa sok jago ngangkatin puing-puing sekedar biar ga jadi becek dan bikin pengendara motor bergelimpangan di jalan? Simak gambarnya aja.

Saya ga nuntut pertanggungjawaban Telkom atas operasinya Papa, toh
Alhamdulillah Papa sudah selesai operasi di RS Harum, Kalimalang kemarin (Kamis 28/02/08), sekarang beliau malah sudah pulang ke rumah dan istirahat pasca operasi berhubung usia beliau yg sudah lanjut (73 tahun!).

Cuma saya mohon kepada PT Telkom kalau mengontrak perusahaan kontraktor mbok yao diawasi sampai selesai, jangan main tinggal begini. Ga cuma Papa yg sampai turun berok, tapi sudah beberapa pengendara sepeda motor jatuh korban, bahkan ada gerobak yg nggelimpang di sini.

Foto: jepretan sendiri (Jumat 29/02/08) di depan rumah Papa.

Blog Entry[Jakartaku] Sakit Gara2 Galian TelkomFeb 20, '08 12:34 AM
for everyone
Kamis (14/02/08) sore, Papa minta diantar IGD RSU Persahabatan di Rawamangun karena hernianya kambuh. Memang sakit ini sudah lama diderita Papa, dan sebenarnya tidaklah terlalu sulit pengobatannya, yaitu dengan operasi kecil di RS manapun, yg penting ada fasilitas kamar bedah dan dokter spesialis bedahnya.

Tapi dasar Papaku, yg usianya sudah 72 tahun, keras kepala. Beliau tidak pernah mau dioperasi dengan berbagai alasan, mulai dari soal biaya sampai soal usianya yg sudah tergolong lanjut. Padahal Papa tergolong lansia yg sehat dan energik, masih nyupir si Jimin sendiri, masih rajin olahraga Senam Sehat Indonesia (d/h Waitankung) bahkan jadi pengurus besar (nasional) segala dan sesekali tour bareng teman-temannya seorganisasi ke luar negeri, dan masih seminggu sekali mengajar kuliah S1 Teknik Sipil di STT Sapta Taruna Cawang.

Lho, malah lupa kalau mau cerita sesuai judul nih.
Sori dori mori stroberi.


Selagi menunggu dokter memeriksa Papa di IGD, saya iseng tanya ke Papa kenapa kok bisa kumat itu penyakit. Secara penyakit itu kumat kalau Papa memaksakan diri mengangkat sesuatu yg berat-berat atau mengejan (ngeden) terlalu keras.

Mulailah Papa bercerita kalau Papa berniat memperbaiki jalanan di depan rumah yg barusan digali untuk pemasangan instalasi kabel serat optik milik PT. Telkom. Nah lho? Ngapain juga sih? Pikir saya.

Papa bilang kalau sudah beberapa hari ini pinggir jalanan tepat di depan rumah beliau di Jl. Kalimalang tanahnya menggembur dan jadi becek lantaran pekerja-pekerja galian tersebut tidak memadatkan tanah bekas galian sebagaimana mestinya. Akibatnya beberapa kali jatuh korban, mulai dari pengendara motor yg terjungkal, anak kecil yg terperosok sampai gerobak kaki lima yg terguling. Padahal tanah tersebut tidak berlubang, hanya tanahnya keliwat gembur dan disiram hujan malah jadi berlumpur.

Nah disitu Papa timbul jiwa kepahlawanannya *halah* mencoba menutupi tanah bekas galian dengan puing-puing di depan rumah, bekas bongkaran rumah tetangga. Lantas gara-gara mengangkat puing-puing tembok itulah beroknya Papa turun! Woooo pantesaaaan... mau jadi pahlawan malah jadinya masuk RS deh.

Sayang sistem hukum di negeri kita tidak bisa mengakomodir kasus-kasus seperti ini. Lain ceritanya kalau di negeri berhukum tegas, seperti di Jepang, Amerika Serikat dan Eropa Barat. Kasus begini bisa dibawa ke meja hijau looh.

Saat ini Papa masih diobservasi dokter dan dijadwalkan baru akan dioperasi hari Kamis (21/02/08) di RS Harum, Kalimalang.

©ciput 2008 all rights reserved.

Blog Entry[Hukum] Peraturan Parkir u/ Mobil MaticFeb 19, '08 10:07 PM
for everyone
Baca berita soal peraturan yg melarang mobil matic parkir lebih tinggi dari lantai 2 di detik.com, saya mau ketawa ngakak. Lho? Ya iya lah, secara birokrat2 kita lagi2 menunjukkan pola berpikir yg ga rasional sama sekali. Masakan mau mengatur dimana kita parkir, lha wong cari parkir aja udah susah saat ini, terutama pas jam-jam istirahat orang kantoran. Lantai 1-2 ya jelas aja penuh duluan lah.

Dan yg lebih repot lagi bisa-bisa menimbulkan kecemburuan sosial, secara populasi mobil matic khan tidak banyak, paling banter cuma 10% dari total populasi mobil di Jakarta. Jangankan diblok u/ mobil matic, diblok u/ reserved member atau u/ salon mobil saja orang sudah sebel, lha ini malah mau ngatur dengan cara yg aneh.

Bukannya jumawa, secara saya sendiri pengemudi mobil bertransmisi full-automatic looh, tapi semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam mengemudi lah. Yg seharusnya dibenahi a/ metode penerbitan SIM (Surat Ijin Mengemudi)! Hayoo ngaku siapa yg pernah ga lulus ujian SIM??? Saya yakin ga ada pasti, secara begitu duit diselipin di tangan polisi, dijamin pasti lulus. Bahkan kursus-kursus mengemudi pun menjanjikan 100% lulus!

Di Inggris, ada seorang perempuan yg tidak pernah lulus ujian SIM selama 30 tahun berturut-turut! Kenapa? Ya karena aturan penerbitan SIM di sana tegas, itu pun tidak lantas otomatis mengurangi resiko kecelakaan, tapi paling tidak mengurangi pengemudi sembrono berkeliaran di jalan.

Ah sudahlah... negeri ini memang kebanyakan orang 'pinter'!
gambar dicuplik dari sini.
©ciput 2008 all rights reserved.

Blog Entry[Lalin] Plat Nomor Yg AnehFeb 12, '08 9:08 PM
for everyone
Sharing pengalaman ditilang polisi dari seorang teman di milis/forum salah satu klub otomotif yg saya ikuti. Ada yg menarik disimak bahwa penerbitan plat nomor bisa diatur oleh dealer dan dari diskusi di milis/forum, belakangan diketahui bahwa stok surat tanda bukti pelanggaran lalu lintas (tilang) ternyata tidak tersedia di Polda Metro Jaya hingga akhir Maret 2008!

Kok bisa? Tar alasannya belum ada suplai dari vendor... Sigh! Padahal khan practically jarang dipakai juga itu surat, secara polisi di jalan lebih senang terima mentahnya atau istilah yg biasa mereka pakai: sidang di tempat! Cape deeeh... *kenapa juga musti ngeluh ya secara udah gitu adanya di negeri karut marut ini*

gambar diculik dari sini.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Semalem (Senin 11.02.08) diberhentiin pulisi Idnya Bapak MxxxxN, di Jl. MT. Haryono arah ke Cawang di sekitar stasiun Cawang. Alasannya sih sepele karena plat noku (no-F) bukan yang asli. Padahal itu satu2nya plat no yang aku terima dari dealer (AI Bekasi). Dari awal serah terima sih aku udah nanya ke SA-nya, kok platnya nggak ada emboss lambang polisi di kiri bawah ? Katanya waktu itu, emang plat No-F begitu beda dengan Jkt. Nah lhoh.. Aku percaya ajalah secara belum pernah punya mobil pake No-F. Temen2 yang No-nya F , tolong dicek dong apa platnya ada tanda embossnya ? Kalo ternyata harusnya ada, bisa minta ke dealernya lagi nggak ? atau mesti minta ke polisi ? Berapa duit ya ?

Aniwei busway, back to the story. Oklah aku ngaku salah sama pak pulisi tadi, dan minta dibuatkan surat tilang BIRU. Ehh… gak dikasih, malah ngotot kalo yang tilang biru sekarang udah nggak berlaku terutama buat yang dari luar Jakarta. Wah, tanda2 nggak beres deh. Sekalian aja aku buka laptopku di pinggir jalan nunjukin aturan tentang tilang biru-merah lengkap dengan tabel denda kesalahannya. Merasa kalah angin, dibalikin deh SIM dan STNK-ku tanpa di denda... gotcha…

Sekalian info buat temen2 lain nih. Setiap polisi lalu lintas itu dibekalin 2 macam surat tilang: MERAH dan BIRU, dan kita berhak meminta salah satunya. Surat tilang merah artinya, kita tidak mengakui kesalahan yang kita perbuat, untuk itu akan disiapkan sidang pengadilan untuk memutuskan yang benar. Surat tilang biru artinya kita mengakui kesalahan kita, dan dengan surat tersebut kita membayar denda sesuai kesalahan kita di bank BRI terdekat (tabel terlampir). Berbekal bukti bayar tadi, kita bisa mengambil kembali SIM atau STNK yang ditahan polisi yang menahan kita tadi.

Begitu semoga berguna. Maaf kepanjangan.

Yudi-0088

F-1555-GK
-------------------------------------
Kisah lain seputar plat nomor juga bisa disimak di sini.

©ciput 2008 all rights reserved.
Attachment: tabel denda.pdf

Blog Entry[Busway] Protes Warga PI = Ego Urbanist?Nov 7, '07 8:57 PM
for everyone
Rabu (07.11.07), sebelum berangkat kerja, saya sempat menyimak tayangan Selamat Pagi di Trans7. Di layar kaca, tampak Dessy Ratnasari, penyanyi yg dulu pernah tenarl dengan pernyataan "No Comment" kepada pers, sedang mewawancarai seorang pria paruh baya di tepi jalan Metro Pondok Indah.

Dalam wawancara seputar protes warga PI terhadap proyek busway, muncul dialog berikut (kira-kira secara ga direkam):

Desy: Jadi warga menolak busway karena belum ada AMDAL atau bagaimana?
Warga: Ada AMDAL atau tidak, kami tetap menolak busway lewat sini.
Desy: Jadi ada AMDAL pun tetap ditolak?
Warga: Ya, karena kami tidak butuh busway. Dulu khan rencananya mau lewat Pondok Ranji. Memang di sana lebih banyak orang yg perlu busway, seperti dari Bintaro, Rempoa, Tanah Kusir. Bukan di sini. Lagipula fasilitas jalan ini milik warga, kami yang bayar tanam pohon di taman dan jalur hijau, kami yg bayar perawatannya, kenapa masih juga diganggu busway???
Desy: *speechless*

Di Koran Tempo 6 Oktober 2007:
Pihak yang pro terhadap pembangunan busway mengatakan bahwa alasan lingkungan yang dikemukakan oleh warga Pondok Indah hanya merupakan kedok. Menurut mereka, sejatinya orang-orang kaya di Pondok Indah, yang sebagian pengguna kendaraan bermotor pribadi, tidak mau terganggu oleh kehadiran transportasi massal.

Memang isu AMDAL yg diusung oleh warga, seperti dikutip di Tempointeraktif (26.10.07):

Menurut wakil ketua Kelompok Peduli dan Tertib Lingkungan Pondok Indah, Louis M Pakaila, gugatan ini diajukan lantaran pemerintah Jakarta telah melanggar Undang-undang nomer 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Menurut Pakaila, setiap kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan, maka wajib memiliki Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan hidup). Menurut Louis, Amdal yang dibuat oleh pemerintah amburadul dan asal-asalan. "Kami sebagai warganya tidak dilibatkan," kata dia ketika dihubungi melalui telepon, Jumat (26/10).

Namun dari ungkapan pernyataan Bapak yg diwawancarai di atas tadi, jelas sekali lebih diwarnai oleh ego kaum urban kelas menengah ke atas, yg memang kental sekali auranya di perumahan mewah ini. Tidak terdengar adanya toleransi sosial tersirat maupun tersurat dalam pernyataan si Bapak tadi, terlepas dari kontroversi soal studi AMDAL yg diduga kuat asal jadi secara cuma sebulan saja penyusunannya, bahkan ada indikasi dibuat saat proyek sudah dimulai.

Terlepas dari isu tersebut, dimana proyek ini berpeluang mengancam keberlangsungan hijaunya sebagian badan jalan secara bakal menebang pepohonan dan membabat rerumputan, yg menurut Bapak tadi mereka yg bayar biayanya, (imho) nampaknya yg penting mereka hidup tenang, orang lain silakan susah!

Si Bapak tidak sadar kali ya secara jalan raya, biar kata di dalam perumahan sekali pun sebenarnya tetap area publik, apalagi kasus seperti Jl. Metro Pondok Indah, yg sudah tahunan digunakan orang untuk melintas dari Lebak Bulus/Ciputat ke Kebayoran/Permata Hijau. Kalau mau protes, kenapa tidak sekalian ditutup saja itu jalan, sekalian pakai palang/portal!!!

Toh kalau merujuk pada opini si Bapak barusan, jalan itu milik warga kok, bukan jalan umum! Hmmm si Bapak rupanya tidak mengerti yg namanya asas hukum pertanahan, yg mana jalan utama yg sudah digunakan untuk jalan umum, ya jadi domain publik. Tak perkara pohon palem itu mereka yg tanam, taman-taman mereka yg rawat *tepatnya bayar tukang untuk ngerawat sih*.

Perkara bayar membayar fasilitas umum, itu ada asasnya kok. Yg mana jalan di depan rumah kita, itu kita yg biayai. Itu sebabnya kenapa harga lahan (bukan tanah ya) lebih mahal per meternya dibandingkan nilainya. Karena meski practically kita bayar lahan yg dipakai untuk jalan, tapi jalan tetap milik publik. Huh! Dasar egois memang warga macam begini.

Terlepas dari itu semua, sudah saatnya pula Pemprov DKI Jakarta, di bawah pimpinan sang ahli tata kota Dr. Ing. Fauzi Bowo, mulai introspeksi diri dan membangun serta menata kota secara benar. Masyarakat urban di Jakarta tidaklah sebodoh yg Anda, para birokrat, duga.

Now It's time for good governance, yg berfihak pada rakyat dan memerhatikan keberlanjutan lingkungan ruang hidup warga yg sudah semakin serba terbatas dan terus kian menyempit ini.

Gambar dari Kompas.

©ciput 2007 all rights reserved.

Event[Lingkungan] Sudirman-Thamrin Bebas Kendaraan?Sep 19, '07 5:48 PM
for everyone
Start:     Sep 22, '07 06:00a
End:     Sep 22, '07 6:00p
Location:     Sudirman-Thamrin, Jakarta
Diforward dari Tempo Interaktif.
Atau ganti modanya semua sama mobil listrik murmer di foto samping ini.

©iput2007 all rights reserved
didukung oleh: TERUCI
------------------------------------------------------------------------------------------
22 September Jalan Sudirman- Thamrin Bebas Kendaraan
Rabu, 19 September 2007 | 13:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:

Badan Pengelolan Lingkungan Hidup Daerah Propinsi DKI Jakarta akan menerapkan hari bebas kendaraan bermotor atau ''<>b>Car Free Day'' pada hari Sabtu, 22 September 2007. Uji coba itu dilakukan di Jalan Sudirman sampai Jalan Thamrin.

''Kendaraan pribadi dilarang melalui ruas jalan itu, kecuali kendaraan umum,''kata Kepala BPLHD, Budirama Natakusumah kepada wartawan hari ini. BPLHD telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan penutupan jalan tersebut.

Menurut Budirama, uji coba akan dilaksanakan selama 12 jam, mulai pukul 06.00-18.00 WIB. Tujuannya untuk mengurangai polusi udara dan menambah jumlah hari yang masuk kategori baik di Jakarta.

Berdasarkan data hasil monitoring BPLHD pada tahun 2005, jumlah hari warga Jakarta menikmati udara bersih adalah 28 hari, Tahun 2006 menjadi 45 hari dan sampai Juli 2007 menjadi 54 hari. ''Peningkatan itu salah satunya disebabkan oleh penggunaan bahan bakar gas dan busway,''ujarnya.

Rudy Prasetyo

Blog Entry[Paradox] Kamu Jangan Pernah Jadi PolisiAug 6, '07 12:29 AM
for everyone
Aslinya dalam bahasa Jawa: "Put, nek wis gede kowe ojo dadi pulisi yo".

Begitulah kira-kira pesan terakhir Eyang Kakung sesaat sebelum beliau meninggal 24 tahun yang lalu. Saat itu saya baru kelas 1 SMP dan kalau ditanya apa cita-citanya, sudah pasti jawabannya kalau tidak dokter, pilot ya polisi. Apalagi saya saat itu sedang giat-giatnya ikutan PKS, gara-gara mengagumi penampilan Eyang yang gagah kalau lagi pakai seragam. (catatan: PKS-nya bukan partainya cagub DKI yang polisi bintang 3, tapi Patroli Keamanan Sekolah)

Padahal Eyang Kakung saya itu seorang purnawirawan Komisaris Besar Polisi era Orla dan salah seorang anaknya (Pakde saya) pun menjadi polisi hingga pangkat Kolonel (setara Komisaris Besar), bahkan istri Pakde saya pun pernah jadi anggota DPR-RI jaman Orba dengan pangkat terakhir Kolonel.

Sampai sekarang saya ngga pernah mengerti apa alasan Eyang Kakung melarang saya, cucunya yang paling bengal ini, untuk jadi polisi. Saya terkenang pesan terakhir Eyang Kakung saat menyimak salah satu pernyataan Cagub DKI No. 1 dalam debat di salah satu stasiun TV swasta.

Di acara itu, AD (inisial) menanggapi pertanyaan salah seorang peserta, yang pengusaha hiburan malam, yang bertanya apakah bila terpilih nanti akan menghapus adanya hiburan malam. Beliau dengan tegas menjawab: TIDAK, hanya akan dibina... bla.. bla.. bla... *ga inget persis ucapannya*

Bagaimana bisa Pak? Pencalonan Anda khan didukung oleh partai yang berbasis syari'ah dan dikenal paling 'radikal' dan konsisten dalam menegakkan ajaran Islam (cmiiw)!

Belakangan muncul sanggahan tim sukses beliau bahwa industri hiburan malam di Jakarta bakal dibina *bahasanya polisi banget yak* menjadi hiburan malam yang sesuai syari'ah. Halooooo... hiburan malam kayak apa tuh yang sesuai syari'ah? Nasyid di kafe? Marawis di klub malam/diskotek?

Yang bener aja donk Oom kalo ngomong... Biar kata otak saya cetek soal agama, tapi siapa pun tau kayak apa itu hiburan malam. Dan siapa pun mafhum kenapa hiburan malam bisa survive di Jakarta, yang belakangan makin banyak yang bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Apalagi alasannya kalau bukan bekingan polisi (dan militer)! Benar tak?

Sutralah, dua hari lagi saya dan jutaan warga DKI bakal milih siapa yang bakal memimpin kota kelahiran saya yang kian tak ramah sama penghuninya ini. Pilihan terserah pada Anda, jangan terpengaruh pada opini saya di atas, apalagi jago saya pun jelas-jelas batal maju dan terus terganjal peraturan KPUD DKI tentang calon perorangan yang katanya sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (baca: netral).

MASA DEPAN JAKARTA ADA DI TANGAN ANDA... BUKAN DI TANGAN PARTAI, APALAGI TANGAN CALON GUBERNUR! SELAMAT MENCOBLOS!

[disclaimer: ini bukan jurnal politik looh, hanya sekedar membantu meningkatkan awareness warga akan hak-hak politiknya]

PS: Kantor gw libur dunk... tanggal 8 !

foto ilustrasi diembat dari sini.
©iput 2007 all rights reserved.

Event[Lomba] Ngebanyol Yuk: Ketawa-Ketiwi BetawiMay 31, '07 9:59 PM
for everyone
Start:     Jun 9, '07 10:00a
End:     Jun 9, '07 1:00p
Location:     Panggung Luar Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan
Ayo dah pada ngikut

Lomba Baca Humor

Ketawa Ketiwi Betawi, karya Abdul Chaer

Saptu, 9 Juni 2007, Jam 10.00 - 13.00 di Panggung Luar Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan

Gaet hadiahnya:

Pemenang 1:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 1.250.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Pemenang 2:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 750.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Pemenang 3:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 500.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Persyaratan:

1. Peserta mengambil dan mengisi formulir serta membeli buku Ketawa Ketiwi Betawi dengan diskon khusus 35% (di stand komunitas bambu selama Pesta Buku Jakarta, 2-9 Juni/Istora Senayan, 09.00-20.00) atau 25% (di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Jakarta Selatan Telp. 7862861 dengan Bang Indra mulai 28 Mei - 8 Juni, jam 10.00-16.00)

2. Peserta bebas memilih satu cerita yang akan dibacakan dari buku Ketawa Ketiwi Betawi.

3. Peserta bebas menentukan bentuk penampilan dan teknik dalam membawakan cerita yang dipilih.

Informasi hub:
Said (081806154779), Nana (7755462)

Penerbit Masup Jakarta & Betawi Foundation

Event[Jakartaku] Semiloka: Menuju Kota EkologisMay 25, '07 3:45 AM
for everyone
Start:     Jun 2, '07 3:00p
End:     Jun 2, '07 5:00p
Location:     JCC Ruang 2 (basement) Jakarta
Jakarta Banjir
Jakarta jadi lautan
dst... dst... dst...

Pernah dengar iklan itu?
Kesel ga sih jadi warga Jakarta, baik yg menetap kayak saya maupun yang cuma numpang lahir doank, secara kotanya jadi bahan celaan di media, bahkan sampai jadi bahan lucu-lucuan iklan.

Nah daripada ngedumel ga karuan, mending ngobrol yuks, ikutan nimbrung sama para pakar tata kota yang berembug di:

Tempat: Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat
Ruang 2 (basement)
Waktu: 2 Juni 2007 *yaiks... di tengah-tengah long wiken! :(*
Jam: 15.00 - 17.00 WIB
Pembicara:
1. Dr. Bhakti Setyawan
2. Marco Kusumawijaya

Tempat terbatas (60 orang doank), buruan daftarkan dirimu ke:
Asisten Deputi Perencanaan Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Gedung A, Lantai 4
Jl. DI Panjaitan Kav. 24, Jakarta 13410
Tel/Fax. 021 8590 6676
RSVP: Tono/Ine/Nana

Bisa juga lewat saya atau sekretaris saya (reply di sini maksudnya), biar nanti kami teruskan secara panitianya satu kubikul dengan kami di kantor.


Blog Entry[Paradox Kep. 1000] Ikan Pun Susah Cari MakanMay 1, '07 10:20 AM
for everyone
Ini kisah nyata yang saya alami sewaktu terdampar *halah hiperbola* di sebuah pulau bernama Opak Kecil di Kepulauan Seribu, 60 mil laut (kurang lebih 100 km) sebelah utara pelabuhan Marina Ancol hari Sabtu (28/04) kemarin *tuh khan bukan ngimpi nyelamnya looh*.

Saat itu saya dan rombongan wisata selam yg dikoordinir oleh Mba Nita dan Icha sedang beristirahat di dermaga pulau
tak berpenghuni *secara pemiliknya tinggal di Jakarta sih dan dengar-dengar sedang diburu kasus korupsi*, setelah menyelam di gosong karang di lepas pantainya. Sebagian kawan tepar kelelahan *eh apa kekenyangan yaaaa?* di balai-balai yang tersedia gretongan di sebuah gazebo di atas dermaga kayu.

Entah mengapa saya, yang sedang asyik puasa tidak makan nasi dan mie, tidak merasa mengantuk sama sekali, padahal penyelaman barusan merupakan penyelaman pertama dalam 9 bulan setelah penyelaman di P. Weh tahun 2006 lalu. Alhamdulillah rupanya diet ketat yang saya jalani sejak awal bulan April ini sudah membuahkan hasil, meski indikator utamanya, yaitu penurunan berat badan barulah sebesar 4,5 kg! Well, ga apa-apa toh badan serasa jauh lebih fit dan maunya lari naik tangga 4 lantai melulu setiap pagi, meski masih aras-arasen pergi nge-gym.

Lho? Ini tadi saya mau cerita apa sih? Kok jadi ngelantur. Singkat kata, saya, Idev dan Icha ceritanya mau membeli ikan dari nelayan yang kebetulan melintas dan merapat mendekati tempat kami 'terdampar'.

Secara saya selalu mengaku-aku (dan memang pernah beneran jadi) ahli pesisir dan laut, saya secara sukarela memasuki palka perahu berawak dua tersebut, memilih-milih ikan mana yang mau kita beli, yang rencananya mau kita bakar sebagai santapan makan malam nanti.

Bongkar punya bongkar, cuma ada seonggok ikan yang sudah mati di dalam palka dan seonggok lainnya masih hidup di dalam bubu (jebakan ikan seperti kurungan ayam, red.) yang barusan nelayan-nelayan itu angkat dari dasar laut. Kebanyakan ikan kuweh (Bobarra, Bhs. Bugis atau Terkulu, Bhs. Banjar) dan ayam-ayam *eh apa kambing-kambing ya???*.

Kedua jenis ikan ini cukup populer di warung/restoran makanan laut di Jakarta dan harganya lumayan menjebol dompet (jadi ingat jurnal yang ini). Meski ukurannya tak terlalu besar (lihat foto) tapi dagingnya lembut dan manis, meski kalah lembut dan manis ketimbang Kerapu (Sunu atau Lodi, bahasa Bugis).

Sayang di sayang, perut kami sudah terlalu overdosis dengan pelbagai hidangan: ikan, udang, cumi, dan segala pelengkapnya, jadi pas ikan-ikan ini tersaji agak gosong karena kegedean api unggunnya, hanya sebagian yang kami santap. Sisanya? Ya terpaksa jadi santapan kucing yang banyak berkeliaran di sana. *maafkan kami ya ikan
*

Sembari memilih, saya iseng bertanya kepada salah seorang nelayan: "Pak, kok ikannya kecil-kecil?"
Pak nelayan dengan enteng menjawab: "Iya nih Pak, kayak orang, ikan di sini juga susah cari makan sekarang, jadi ga gede-gede!" *Gubrakz!*

Ada-ada saja nelayan satu ini, di tengah himpitan ekonomi yang kian berat buat para peramu ini, toh masih sempat berkelakar juga. Sepanjang 2 hari menyelam di kepulauan yang sudah jadi kabupaten administratif di Propinsi DKI Jakarta ini, saya amati banyaknya sampah terapung-apung dimana-mana. Tak hanya sampah dari kota metropolitan nun jauh di daratan P. Jawa sana, namun juga sampah domestik dari pemukiman padat penduduk di P. Pramuka, P. Panggang, P. Kelapa dan pulau-pulau lainnya. Belum lagi soal cemaran minyak, baik dari air ballast (air limbah pencucian tanker di laut) maupun limpasan dari *lagi-lagi* kota Jakarta. *sayang waktu itu belon ada MP, jadi cerita dan fotonya tak sempat didokumentasikan di sini*

Bisa ga ya dibersihin? Tahun 2001, saya dan beberapa teman penyelam pernah bikin kegiatan bersih-bersih laut (underwater cleanup) berbasis di P. Cemara Kecil (masih di Kep. 1000). Judulnya tetap menyelam, tapi sepanjang penyelaman kita punguti sampah-sampah yang berserakan di bawah air, terutama yang menutupi karang-karang, yang menjadi rumah dan tempat mencari makan untuk ikan. Bukan cuma sekedar plastik bekas pembungkus makanan atau sabun cuci yang kita temui, tapi juga beragam jenis kaleng mulai dari yang kaleng minuman ringan sampai drum minyak! Ga jauh beda dengan pengalaman Icha berikut (klik ini). So? Any idea how about us to clean them up again?

Quote of the day: Dive isn't about how deep you in, but ... *belum nemu sambungannya neh! *

Ilustrasi foto: Seonggok ikan yang kami beli seharga Rp 100.000,- yang jadi latar foto itu si Icha yang berlagak jadi juragan pengepul ikan
(Lokasi: P. Opak Kecil, Sabtu 28/04/07, kamera Olympus C725UZ, tanpa filter).

©ciput 2007 (divemaster since 1998 *iklan, red.) all rights reserved.

Blog Entry[Jakartaku] Alamatmu Kok Pendek Banget?Jul 13, '06 2:02 AM
for everyone
Kok alamat rumahmu pendek banget sih?, begitu tanya temanku sekantor saat membaca alamat rumahku yang memang cuma sepenggal, yaitu Jalan K.

Dengan tersenyum kutanya balik apakah dirinya sudah tinggal di Jakarta pada dekade 1970an. Jawabannya tentu saja tidak, saat itu temanku masih bermukim di Banjarmasin (Kalsel). Dan temanku itu bukan orang pertama yang berkomentar demikian, sebelumnya Hendro juga pernah terheran-heran dengan alamat rumahku yang sedemikian singkatnya. Tentu saja demikian secara Hendro lahir dan besar di Surabaya.

Buat mereka yang tidak/belum tinggal di Jakarta pada saat itu tentu saja belum pernah mendengar yang namanya proyek MHT, sebuah proyek perbaikan infrastruktur kampung di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977). Nama proyek itu sendiri diambil dari singkatan nama Muhammad Husni Thamrin, seorang putra Betawi asli yang pada jaman penjajahan Belanda pernah menjadi anggota Volksraad (semacam lembaga perwakilan rakyat Hindia Belanda, kira-kira setingkat DPR sekarang meski cuma jadi tukang stempel penjajah).

MH Thamrin semasa hidupnya memang pernah menggagas program perbaikan kampung di Batavia, namun beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1941 tanpa sempat melihat realisasi idenya tersebut *ya iya lah keburu diserbu Jepang kitanya*. Cita-cita beliau baru terwujud 30 tahun kemudian ketika Bang Ali menyetuskan proyek MHT tersebut.

Pernah perhatikan gang-gang di dalam kampung yang berbentuk peluran semen dengan lebar 1.5 m yang di sisi kiri – kanannya terdapat saluran got? Gang-gang inilah yang dibangun dalam proyek raksasa yang didanai oleh Bank Dunia ini pada tahun 1974 hingga berakhir pada 1982.

Tidak hanya gang saja, tetapi juga jalan-jalan berukuran kurleb., 4 m lengkap dengan parit-parit cukup lebar (dan dalam) yang menembus kampung-kampung di dalam kota Jakarta. Jalan-jalan itu (saat itu) dicirikan dengan aspalnya yang kasar (tidak diaspal dengan hotmix) dan di tepinya diberi tembok beton. Keberanian Pemda DKI Jakarta menembus kebuntuan perencanaan pembangunan perkotaan
(urban development planning) pada saat itu, akhirnya membuahkan penghargaan Aga Khan Award pada tahun 1980.

Nah jalan-jalan itu dulu tidak diberi nama layaknya nama jalan jaman sekarang. Pada waktu itu penamaannya cuma sekedar urutan abjad, dari A-Z. Seperti jalan di sebelah rumah orangtua saya di Kalimalang. Kami menyebutnya sebagai Jalan A, meski sudah diganti menjadi Jalan Panca Warga (entah kapan nggantinya, tahu-tahu sudah ada plang nama jalan begitu saja tanpa pemberitahuan). Lalu jalan-jalan di seputaran blok di mana rumah kontrakan saya berada, yang berurutan mulai dari K, L, hingga N.

Seingat saya, fenomena penamaan jalan ini juga bisa dijumpai di daerah Kebon Baru (Tebet), dimana salah satu mantan calon mertua (tapi ga jadi keh3x...) saya bermukim. Mereka tinggal di Jalan X (masuk dari Jalan K atau L), yang meski sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Kebon Baru VI-A, warga tetap menyebutnya Jalan X. Di sepanjang jalan Asem Baris Raya, jalan utama di kawasan itu, dijumpai nama jalan yang berurutan dari A-Z. Saya yakin fenomena penamaan jalan (nomenclatura) macam ini terdapat di banyak tempat lainnya di Jakarta.

Saat ini jalan-jalan tersebut sudah banyak yang berubah kondisinya, banyak yang sudah mulus lantaran diaspal hotmix, meski banyak yang malah jadi hancur lebur lantaran terendam di kala kebanjiran.

Ironisnya banyak juga yang dihiasi oleh polisi tidur lantaran mulusnya itu jalan membuat para pengemudi yang lewat tidak tahan godaan untuk ngebut! Ditambah lagi sebagian besar parit-paritnya malah mampet oleh timbunan sampah dan tanah ga jelas.

Huh! Maklumlah, biar kata orang Jakarta ini kota metropolitan, tapi kelakuan warganya mah teuteup aja kampungan, jadi lebih layak sebenarnya disebut sebagai ‘kampung besar’!

Begitulah salah satu segi yang pernah dimiliki Jakarta yang (mungkin) tidak dijumpai di kota lain di Indonesia. I miss my old Jakarta! Hiks!

Gambar dikutip dari sini, sayang saya ga nemu yg spesifik Jakarta.

©iput 2006 all right reserved.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help