Ciput's posts with tag: budaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag budaya
Blog Entry[Budaya] Malingsia, Truly Maling AsiaNov 3, '07 1:13 PM
for everyone
Dapat forward dari teman, dan katanya sih dikutip dari situs Kementerian Budaya dan Seni Kerajaan Malaysia. Kalau benar memang demikian adanya, bener-bener dah Malaysia nih, memang ngajak 'perang' Silakan disebarluaskan, untuk mengetahui seberapa parah pelecehan mereka terhadap kita.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Congkak (Congklak?)

Merupakan jenis permainan Anjung. Tujuan permainan ialah untuk mengumpul dan giliran menapak akhir. Bilangan pemain ialah seorang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Papan congkak dan cakak. Gelanggangnya adalah sebuah papan congkak yang mengandungi sekampong 5, 7, 8 atau 9. Rumah Anak serta 1 Rumah Ibu. Tiap Rumah Anak diisi cakak.

Barongan (Reog?)

Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman  dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau  dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Muzik Gamelan

Gamelan diperkenalkan ke Pahang ketika pemerintahan Sultan Ahmad Muadzam Shah.  Tengku Ampuan iaitu Wan Fatimah telah meningkatkan muzik gamelan  dan diikui oleh isteri kedua Sultan iaitu Che Bedah. Puteri mereka iaitu Tengku Meriam telah berkahwin dengan Sultan Sulaiman dan telah membawa gamelan ke Terengganu. Muzik ini dimainkan dalam majlis formal dan tidak formal di istana  dan untuk mengiringi joget Pahang. Pemuzik gamelan terdiri daripada lelaki seramai sembilan orang dan penarinya adalah wanita seramai enam orang.

Alatan muzik yang digunakan ialah Gong Agong, Gong Sawokan, Gendang Ibu, Gendang Anak, Saron Pekin, Saron Baron I dan Saron Baron II, Gambang serta Kenong.

Tarian Piring

Diperkenalkan dari Sumatera, khususnya dari daerah Rawa. Pada kebiasaannya tarian ini dipersembahkan dalam acara majlis perkahwinan, majlis menyambut pembesar negeri, keramaian atau pesta kampung. Tarian ini mempunyai pelbagai asas gerakan yang mana disebut juga ayun atau buai. Selain itu, tarian ini juga menekankan mimik muka. Selain itu terdapat sepasang cincin yang memiliki dua fungsi iaitu sebagai pakaian dan juga sebagai alat muzik di mana ianya berfungsi mengeluarkan bunyi apabila dilagakan kepada piring mengikut rentak gong.

Tarian Kuda Kepang

Kuda Kepang menampakkan pengaruh Jawa dan Islam. Pengaruh Jawa terlihat pada pakaian penari-penari, sedangkan pengaruh Islam tersimpul dalam cerita tariannya. Ia mengisahkan peristiwa peperangan pada zaman Rasulullah s.a.w dan sahabat-sahabatnya dengan penuh kegagahan memperjuangkan Islam. Kononnya Kuda Kepang dicipta di negeri Jawa sempena usaha sembilan orang wali (Wali Songo) yang menyebarkan agama Islam.

and more at their website.

Ga usah pake copyright, secara mereka yg mulai duluan.

Event[Lomba] Ngebanyol Yuk: Ketawa-Ketiwi BetawiMay 31, '07 9:59 PM
for everyone
Start:     Jun 9, '07 10:00a
End:     Jun 9, '07 1:00p
Location:     Panggung Luar Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan
Ayo dah pada ngikut

Lomba Baca Humor

Ketawa Ketiwi Betawi, karya Abdul Chaer

Saptu, 9 Juni 2007, Jam 10.00 - 13.00 di Panggung Luar Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan

Gaet hadiahnya:

Pemenang 1:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 1.250.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Pemenang 2:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 750.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Pemenang 3:
(Piala Fauzi Bowo + Uang tunai Rp 500.000 + Paket buku Masup Jakarta)

Persyaratan:

1. Peserta mengambil dan mengisi formulir serta membeli buku Ketawa Ketiwi Betawi dengan diskon khusus 35% (di stand komunitas bambu selama Pesta Buku Jakarta, 2-9 Juni/Istora Senayan, 09.00-20.00) atau 25% (di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Jakarta Selatan Telp. 7862861 dengan Bang Indra mulai 28 Mei - 8 Juni, jam 10.00-16.00)

2. Peserta bebas memilih satu cerita yang akan dibacakan dari buku Ketawa Ketiwi Betawi.

3. Peserta bebas menentukan bentuk penampilan dan teknik dalam membawakan cerita yang dipilih.

Informasi hub:
Said (081806154779), Nana (7755462)

Penerbit Masup Jakarta & Betawi Foundation

Blog Entry[Budaya] Udah Kawin Kok Dipanggil NonaMar 8, '07 3:25 AM
for everyone
Durham City, suatu pagi di bulan Nopember 2004. Saya sedang duduk-duduk di sebuah bangku taman di tepi Sungai Durham bersama tiga orang teman: Ester, Silvie dan suaminya Iwan. Kami berempat adalah mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah S2 di Inggris atas beasiswa British Chevening Award.

Di tengah senda gurau, Ester, yang orang Jawa seperti saya, bingung mendengar saya memanggil Silvie, yang orang Ambon, dengan sapaan sayang *halah* NONA. Secara dia orang Jawa, tentunya lebih terbiasa memanggil perempuan dengan Mba atau Jeng.

Akhirnya saya jelaskan kalau di Maluku (dan sebagian besar Indonesia Timur) memanggil perempuan muda dengan sapaan NONA, tak pandang apakah sudah kawin/nikah ataupun belum. Tentunya tak semua dipanggil begitu, kalau sudah tua ya dipanggil MAMA lah .

Itu untuk perempuan, kalau untuk laki-laki muda, orang Ambon menyapa dengan sapaan Bu, yang sebenarnya merupakan kependekan dari Bung, seperti Bu Yopi itu bukan berarti Nyonya Yopi, tetapi Pak Yopi. Kalau Nyonya Yopi, yang misal namanya adalah Ester, ya dipanggil Nona Ester Yopi. Namun sapaan Bu lebih banyak dipakai untuk kalangan yang sudah akrab, kalau belum akrab atau malah baru kenal, jangan asal sebut Bu, nanti yang datang malah istrinya si lelaki yang kita sapa tadi.

Tapi hati-hati juga kalau menyapa lelaki Ambon dengan sapaan Bu ini. Salah-salah yang datang malah perempuan, yang istri atau pasangan si lelaki. Seperti yang pernah saya alami saat tinggal di Nabire (Papua) pada tahun 1997-1999.

Suatu hari saya bermaksud menghubungi staf saya bernama Barnabas Wurlianty, yang saya panggil di kantor dengan sapaan Bu Abas. Saat saya menelpon via telpon tetangganya, yang datang menghampiri telpon adalah Nyonya Barnabas Wurlianty. Lho? Ya, soalnya si penerima telpon bukan orang Ambon, tapi transmigran asal Jatim, yang belum lama tinggal di Nabire, jadi belum begitu faham dengan budaya lokal.

Itulah Indonesia Raya...

©iput 2007 all rights reserved.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help