Ciput's posts with tag: banjir jakarta
Jumat 2 Februari 2007 14.00 WIB, Saya sedang berdiri di kerumunan orang-orang di tepian air yang menggenangi Jl. Basuki Rahmat (Casablanca) Cipinang Muara Jakarta Timur, sekitar 300 m dari rumah saya yang Alhamdulillah lebih tinggi 20 m dari lokasi ini. Saya ingin mengabadikan bencana ini dalam foto, yang sudah saya posting di sini.
Sebuah perahu karet mendekat. Di dalamnya penuh penumpang, beberapa petugas pertolongan bencana dan beberapa pengungsi. Setelah menurunkan beberapa barang dan dua orang penumpang, perahu karet itu balik lagi berlayar *eh apa ya istilah tepatnya*. Sementara penumpang lainnya tetap tak bergeming di atasnya.
Saya (C): Lho, kok penumpangnya ga turun??? Ibu Pengungsi (P): Itu mah orang komplek (Perumahan Cipinang Indah red.) Pak. C: Oooo... kasihan juga ya mereka. Tuh khan Bu, banjir mah ga milih-milih. Ga orang kaya ga orang miskin dihajarnya juga. P: Bener Pak, tapi perahu karetnya yang milih-milih. C: Maksud Ibu? P: Tadi Bapak tanya kenapa penumpangnya kaga turun kan? C: Iya. P: Ya jelas aja, mereka khan orang berduit. Mereka bayar itu perahu untuk ngangkutin barang dari rumahnya yang kebanjiran Pak. C: Hah? Terus Ibu gimana ngungsinya tadi? P: Saya mah berenang aja Pak, ga punya duit. Mahal! C: Beneran Bu? Emang berapa sih mahalnya? P: Eh si Bapak kagak percaya. Beneran Pak. Berapanya sih saya ngga tau, tapi pasti mahal lah, apalagi yg ngungsi banyakan orang Cipinang Indah sono. Saya yg tinggal di pinggir kali mah entar kalo yg mbayar dah pada ngungsi semua. C: Duuuh Ibu. Kasihan bener sih... *mata saya berkaca-kaca*
Yah memang di dalam kesempatan selalu ada kesempitan ya, wallahu alam benar tidaknya, tapi melihat ekspresi si Ibu Pengungsi tersebut, saya mah percaya sepenuhnya kalau dia jujur.
Semoga Allah memberikan hikmahnya kepada semua yang berhak.
Catatan: Perumahan Cipinang Indah memang sebuah perumahan elit yang sejak dulu langganan banjir, salah satu penghuninya a/ Ketua DPP PAN *lupa namanya, tapi yang pernah digosipin selingkuh sama Nia Paramita itu looh*
Data foto: lokasi Jl. Basuki Rahmat (Casablanca), Kelurahan Cipinang Muara, Jakarta Timur, Jumat 2 Februari 2007 14.00 WIB, ketinggian air saat itu: 150 cm.
©iput 2007 all rights reserved
Sabtu (03/02/07) siang, banjir di sepenjuru kawasan Cipinang belumlah usai, justru kian tinggi saja. Di lokasi yang sehari sebelumnya saya foto (lihat di sini), malah sudah naik hingga 2,5 - 3 m tingginya.
Air Kali Cipinang pun sudah mulai mendekati halaman rumah mertua saya di Cipinang Lontar, kata Bapak mertua setinggi banjir 2002 lalu. Si Jimin yang sempat tertahan di depan rumah mertua (lihat foto) pun sudah pulang kandang.
Alhamdulillah rumah kami tetap aman terkendali, secara ketinggiannya lebih dari 20 m di atas permukaan tertinggi genangan tersebut. Listrik pun sudah menyala kembali sejak pukul 01.00 dini hari tadi dan sinyal telpon seluler sudah kembali pulih.
Saya dan istri sedang bercengkrama di depan rumah ketika seorang lelaki kurus berkopiah dan berbaju batik mendatangi rumah kami.
"Assalamu alaikum" ujarnya. "Wa alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh" jawab saya dan istri. "Minta sedekahnya Pak, saya korban banjir di bawah sana Pak," tukas lelaki berlogat Madura itu berbadan tegap itu.
Saya terbengong-bengong dibuatnya. Ini orang minta sedekah apa minta-minta beneran sih, begitu pikir saya.
"Bapak korban banjir?" saya balik bertanya. "Betul Pak" jawabnya. "Bapak tinggal di sebelah mana?" tanya saya lagi. "Di sebelah sana Pak" jawabnya pendek. "Sebelah sana itu dimana tepatnya?" tanya saya kian penasaran. "Ya di sebelah bawah Masjid, Pak" ujarnya mulai gusar. "Masjid Al Iman atau Masjid Al Marzuqiyah?" tanya saya lagi. "Wah ga tau persis Pak. Saya baru tinggal di situ, emang kenapa Pak?" jawabnya dengan nada mulai meninggi. "Bukan begitu Pak, saya cuma tidak mau Bapak berbohong ke saya," ujar saya. "Maksud Bapak?" tanyanya kian gusar. "Begini Pak, tadi Bapak bilang Bapak korban banjir, terus saya tanya Bapak tinggal dimana dan Bapak bilang tinggal di sebelah sana masjid, tapi Bapak tidak tahu nama masjidnya. Ya saya penasaran Bapak ini benar-benar korban banjir atau cuma mau mengemis!" "Ya sudah Pak, kalau tidak mau ngasih sedekah, ga usah ceramahin saya lah," ujarnya sambil beranjak pergi. "Ya terserah Bapak, saya cuma tidak mau jadi tidak ikhlas memberi 'sedekah' kok," tukas saya sambil melongo melihat lelaki itu pergi.
Yah, bukannya su'udzon tapi di antara saudara kita memang banyak yang suka memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan *eh kebalik ya*. Apalagi menilik badannya yang segar tapi wajahnya dibuat memelas... Wallahu alam.
©iput 2007 all rights reserved.
|  | Setelah sukses aplod foto2 edisi (1), ini saya sempat utak-atik foto yang diambil dengan niat bikin panorama, biar lebih kelihatan seberapa dramatisnya banjir kali ini.
Saat aplod foto2 ini lampu sempat nyala barang 30 menit, terus padam lagi... entah sampai kapan secara sebelumnya sudah 18 jam lebih mati *ralat: barusan nyala lagi*. Untung sempat ngisi air, jadi besok ga begitu pusing sama air bersih.
Tinggal mikir gimana caranya ngambil mobil (si Jimin) yang tertinggal di rumah mertua (pas aplod foto edisi 1) dan ga bisa pulang lantaran macet total di sepanjang jalan kampung antara rumah mertua dan rumah saya, yg jaraknya cuma 800 m! :((
©iput 2007 all rights reserved |
|  | Seperti sebagian besar Jakarta, daerah rumah tinggal saya juga kena banjir. Alhamdulillah rumah saya sendiri di daerah ketinggian, tapi daerah yang cukup rendah ya habis-habisan.
Kampung kumuh di sepanjang Kali Cipinang dan perumahan mewah Cipinang Indah tenggelam! Air sampai di atap rumah (lihat foto 1). Di belakang rumah yang tenggelam itulah letak tapak proyek BKT (Banjir Kanal Timur) yang tak kunjung selesai, bahkan masih belum saling bersambung. Di belakangnya lagi letak perumahan Cipinang Indah, tempat saya cari belut dan kodok di masa kecil dulu *dulunya itu sawah tauk, dijadiin rumah ya kebanjiran lah*.
Ini baru sebagian foto saja, sisanya menyusul secara saya online di rumah mertua saya. Di rumah memang tidak kebanjiran, tapi mati lampu sedari subuh dan sampai saat posting ini, belum nyala juga. Jadi terpaksa saya nebeng listrik u/ mengisi baterai laptop di rumah mertua di Cipinang Lontar, sekalian mengisi baterai hp Telkomsel saya *yang ndilalah sinyalnya kok ya ikut-ikutan jeblok juga huh!*
Benar-benar hari ini nyaris lumpuh total aktivitas saya, itu masih untung saya tidak perlu menembus lautan Jakarta lainnya yang pasti macet total.
Duuuh Cipinangku, mungkin itu sebabnya disebut Cipinang Muara :D |
| |