Ciput's posts with tag: balikpapan
|  | Perjalanan kali ini judulnya "Napak Tilas" secara kami bertiga (saya, istri, dan si bungsu Hito) berkesempatan mengunjungi kota dimana kami pernah tinggal (2003-2004) dan sekaligus kota kelahiran anak kami yg kedua Dito, yaitu Balikpapan (Kalimantan Timur).
Resminya ini perjalanan dinas, dan saya dikontrak sendirian. Alhasil istri pun dinobatkan jadi personal assistant :D biar bisa ikut. Toh cuma nambah tiket doank, the rest can be reimbursed *grin*
Day 1: Minggu 30/03/08 Jakarta-Balikpapan-Samarinda Tiba dgn Lion Air jam 10.00 WITA, langsung dijemput oleh Mba Etty Nuzuliyanti, "kakak angkat" kami dan putri2nya. Sekalian makan siang, kita cari hotel yg representatif. Jam 14.00 lanjut ke Samarinda, langsung merapat ke Swiss-Bell Borneo Hotel. Malamnya ketemuan sama rekan2 JPL (Jaringan Pendidikan Lingkungan) Kaltim (Supri dan Firman) dan makan malam kepiting saos! *yummy*
Day 2: Senin 21/03/08 Meluncur ke kantor TNC di Jl. Gamelan, Samarinda u/ diskusi dengan rekan2 JPL Kaltim lainnya. Ketemu beberapa teman lama dan mantan boss juga :D
Siangnya kita langsung datangi salah satu sekolah (SMUN 8 Samarinda) u/ disurvey. Selesai jam 15.00, saya pulang ke hotel dan jemput istri u/ ngicip2 buah Lay (Durio kutejensis), sebangsa durian tapi aromanya tak semenyengat durian. Orang Kalimantan bilang 'Durian Hutan'.
Day 3: Selasa 01/04/08 Ketemuan dengan teman2 yg mau ngegarap survey lanjutan dan ketemu beberapa dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Jam 13.00 kita makan siang dulu sebelum lanjut ke Balikpapan. Dalam perjalanan, sempat singgah di bekas rumah yg dulu kita tempati, di Perumahan Graha Indah Blok T1 No. 16 (Jl. Raya Kariangau, KM 5,5).
Sorenya kita sudah check-in di Hotel Pacific, Gunungsari, Balikpapan. Dulu belum ada hotel ini, tapi ternyata sudah banyak perkembangan pesat di kota yg kami tinggalkan 3 tahun yg lalu ini. Cozy tapi ga mahal dan wifi gretong!
Malamnya saya kumpul dengan teman2 seperjuangan di LSM Azimuth, Balikpapan. Kangen-kangenan dan bagi tugas u/ besok2.
Day 4: Rabu 02/04/08 Putar2 kota Balikpapan, sempat cicip Mie Hijau Sepinggan saat lunch dan ngerubah tiket balik ke Jakarta dari sore jadi siang hari. Lantas belanja oleh-oleh di Pasar Kebon Sayur. Malamnya kita main ke rumah Oom di komplek Pertamina Gunung Dubbs.
Day 5: Kamis 03/04/08 Check out dari hotel, sempat belanja titipan temen (batu akik) di Kebon Sayur, langsung checkin di bandara Sepinggan. Namun, ternyata perubahan tiket kemarin itu cuma jamnya, tidak termasuk tanggalnya. Jadi ceritanya saya lupa mengubah tanggal dari 04/04/08 jadi 03/04/08. Alhasil saya minta pindah jadwal dan konsekuensinya upgrade tiket dari kelas Q jadi kelas N dan itu pun masih waiting list.
Lastminute.com, baru deh ketauan ada 2 seat tersisa di pesawat B-737-900 ER! Dan kita bertiga a/ penumpang yg boarding terakhir! Untung akhirnya kita tiba dengan selamat di Cengkareng jam 14.30 WIB.
©ciput 2008 all rights reserved |
|  | Sambungan dari review tentang Mie Hijau Sepinggan di Balikpapan.
Review selengkapnya, baca di link di atas aja ya, biar ga bikin dua kali.
©ciput 2008 all rights reserved |
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Sepinggan, Balikpapan |
Gara-gara reply Abby di jurnal nasi ijo, alhasil begitu saya berkesempatan pergi ke Balikpapan bersama istri dan si bungsu Hito, saya pun berusaha mencari Mie Hijau Sepinggan.
Rumah makan ini terletak di tepi jalan yg menghubungkan Bandara Sepinggan dan pusat kota Balikpapan, tepatnya di daerah Sepinggan. Ga susah kok carinya, asal jangan ngebut-ngebut saat melintasi jalanan yg mulus dan sepi ini.
Secara umum, mie yg dibuat dari campuran tepung terigu dan sawi ini rasanya legit dan kenyal-kenyal saat digigit. Sayang diameter mie-nya keliwat kecil, jadi semangkuk rasanya kuenyang sekali. :D
Kami pesan dua macam pilihan: Mie Hijau Ayam dan Mie Hijau Kepiting. Dua-duanya menggunakan daging ayam dan daging kepiting asli, secara daging kepiting memang mudah didapat di Kalimantan Timur. Rasanya MAKNYUSS! :thumbup: (liat juga gambar ilustrasi)
Menurut pemiliknya, Pak Irfan, yg menemani kami makan siang di sana (Rabu 2/4/08), mie kreasinya ini tidak diberi bahan pengawet dan bumbu masak, mesk menurut istri saya, yg sangat anti pakai bumbu masak, kepalanya rada puyeng (reaksinya kalau kena bumbu masak). Yah mungkin ada sedikit komposisi bumbu masak dalam salah satu bahan yg masuk tanpa disengaja, seperti kecap atau saos sambal.
Warung kecil ini cukup menarik dalam segi layout, secara dihiasi gambar-gambar postmo selain kliping-kliping publikasi di media lokal (Kaltim Post dan Tribun Kaltim). *foto2 menyusul*
Usulan kami, yg sudah disampaikan secara langsung kepada Pak Irfan:
- ukuran mie diperbesar sedikit - sayuran pendamping diganti selain sawi, misalnya lettuce atau baby kailan *tapi agak susah dptnya di Balikpapan kali ya* *tapi agak susah dptnya di Balikpapan kali ya* - pangsitnya diwarnai hijau saja sekalian, biar seru! :D
Worth to try looh PS: foto2nya ada di sini ©ciput 2008 all rights reserved 
"Wah asyik dong Pak, jalan-jalan terus!" ujar seorang perempuan berbaju merah yg sedang melayani saya di counter BCA Prioritas tadi siang. "Mba, I wish I don't have to" tukas saya sambil pasang muka memelas.
Ya, dua bulan terakhir ini saya kerap pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu hotel ke hotel lain. Buat sebagian orang kedengarannya mengasyikkan, padahal saya yang menjalaninya kok rasanya malah seperti mau remuk badan ini.
Di antara sederet suka duka bepergian simultan bin spartan begini, ada satu pengalaman yang paling menyebalkan. Yaitu soal LIFT! 
1. Terjebak di dalam lift
Semua gara-gara smartkey (lihat gambar di atas). Dari sederet hotel yang sempat saya tiduri, paling tidak ada 2 hotel yang sudah pakai lift dengan smartkey begini, Hotel Bhumi Minang di Padang dan Hotel Novotel di Balikpapan, sementara sisanya hanya untuk buka pintu kamar belaka. Di Padang, hotelnya sudah tua tapi liftnya berteknologi maju ini, saya mengalami kejebak dalam lift hanya karena ga tau kalau mau pencet tombol lantai kudu masukkan smartkey dulu ke slot di atas panel tombol lantai.
Itu belum seberapa, kalau tidak pakai acara padam segala lampunya! Untung saya bukan pengidap klaustrophobia, jadi meski kondisi ruangan gelap gulita, saya tidak panik dan mencoba mencari-cari slot smartkey, dan menyala kembalilah sang lampu. Pengalaman kedua saat di Novotel Balikpapan. Di hotel yang masih kinyis-kinyis ini saya, yang tidur di lantai 5, tidak pernah berhasil mencapai lantai 7, dimana tim saya menginap. Sempat pernah bolak-balik lantai 5 ke lobby sampai 3 kali turun-naik. Setiap kali pencet tombol lantai 7, lha kok malah turun. Akhirnya saya keluar lift di lobby dan minta tolong petugas, eh berhasil. Tapi cuma sekali itu saja, setelahnya kembali saya turun-naik lantai 5 - lobby sampai 2-3 kali. Ketimbang panik, saya bergegas ke receptionist, dan dapat jawaban: "Kamar Anda khan di lantai 5, jelas Anda tidak punya akses ke lantai 6 ke atas, kecuali Anda minta" GUBRAKZ! 
2. Disorientasi
Saking seringnya pindah hotel, dan tentunya pindah-pindah lantai kamar, saat masuk kembali ke kantor Kamis kemarin, saya sempat sesaat bingung di lantai berapa meja saya berada . Ya gimana ngga, secara hari Rabu tidur di lantai 3, Minggu tidur di lantai 7, Rabu tidur di lantai 5, Selasa berikutnya di lantai 3 lagi.
Selain lantai, saya seringkali juga disorientasi letak kamar. Banyak hotel yang urutan nomor kamar ga karuan, macam di Hyatt Regency Bandung, Novotel Balikpapan dan Goodway Nagoya Batam. Rasanya kok kamar saya belok kiri, ternyata di kanan. Masih untung ga salah masuk ke kamar sekretaris!  Dan masih ada 2 hotel di 2 kota lagi yang musti saya sambangi dua minggu ke depan: Graha Santika Semarang 2-4 September 2007 dan Clarion Makassar (not confirmed yet) 9-11 September 2007 . Entah pengalaman apa lagi yang bakal saya jumpai di sana.Sampai jumpa di Semarang dan Makassar! Ada MPers yang siap kopdar? ©ciput 2007 all rights reserved.
Sabtu 5 Juli 2004, Pantai Klandasan
500 orang berkumpul di Sabtu pagi hari yang segar. Tak hanya anak sekolah, ibu-ibu penggemar senam pagi, ibu-ibu PKK, relawan, 1 peleton prajurit dari Kodam VI Tanjungpura dan tak ketinggalan 2 bus karyawan Total E&P Indonesia.
Tak lama kemudian, musik techno mulai berdentum dari pengeras suara 3000W yang diletak di sebelah panggung terbuka. Tiga orang instruktur aerobik telah siap mengajak para hadirin untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama musik. Ya mereka diajak untuk beach aerobic!
Usai berolah raga, segerombolan relawan bergerak masuk dengan membawa karung-karung bekas dan menghimpun para peserta dalam kelompok-kelompok @ 10 orang. Setelah briefing sejenak, mulailah kelompok-kelompok tadi berpencar menyisir pantai berpasir putih namun penuh sampah, dan memunguti sampah yang beragam bentuknya, mulai dari bungkus makanan hingga batang kayu!
Di bawah rerimbunan pohon, sekelompok ibu-ibu memulai mengikuti demo pembuatan dodol mangrove oleh ibu-ibu PKK Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat. Tak ketinggalan mereka pun berbelanja setelah mencicipi dodol yang berasa sedikit masir dan pahit itu. Di meja lain, sebagian ibu-ibu berbelanja pelbagai produk penganan, seperti kerupuk tenggiri, amplang, krupuk udang, terasi. Semua hasil karya kelompok ibu-ibu di Desa Kariangau dan Manggar.
Saya sendiri berputar-putar menenteng kamera digital Olympus C750UZ mengabadikan kegiatan yang kami coba koordinir dalam rangka World Environmental Day 2004 itu. Meski diawali oleh gagasan sinting sekelompok relawan YSTB, kegiatan ini ternyata diakui dalam kalender internasional UNEP 2004, seperti liputan berikut ini: ----------------------------------------
Balikpapan, Indonesia
To commemorate World Environment Day this year, the Save the Balikpapan Bay Foundation, a local coastal NGO in Balikpapan, East Kalimantan, Indonesia is conducting a public awareness campaign entitled "Save The Bay Now!". The campaign includes activities such as beach hiking, beach clean-up and the planting of mangrove trees, as well as children competitions (e.g. sand castle, coloring, poetry reading, essay writing and singing), a fair and bazaar, and interactive dialogues. The dialogue will be undertaken in partnership with a local FM radio station and a newspaper to discuss various local issues related to the WED theme, such as coastal-sound city planning, beach reclamation, oil spill and pollution, and mangrove conversion for mariculture, to name a few. See the brochure for more information.
For more information, please contact: Mr. M. Putrawidjaja (Ciput) Yayasan Selamatkan Teluk Balikpapan Jl. RE. Martadinata No. 2, RT 26, Mekar Sari, Balikpapan 76122 INDONESIA
dikutip dari sini. -------------------------------------------------------------
Minggu 13 Juni 2004, Pantai Manggar
Kegiatan serupa dilaksanakan lagi di Pantai Manggar. Kali ini bukan saya dan teman-teman lagi yang mengkoordinir, melainkan Karang Taruna setempat, yang didukung oleh sederet perusahaan yang berlokasi di sekitar desa nelayan di utara kota Balikpapan itu. Tercatat Unocal Indonesia (sekarang jadi Chevron), Schlumberger, Thiess, Leighton, Haliburton dll.
Kegiatannya kurang lebih serupa, namun lebih semarak dari yang di Pantai Klandasan, secara ada panggung dangdut dan lomba-lomba olah raga seperti tarik tambang, voli dan sepak bola pantai. Pesertanya entah berapa ratus saking banyaknya yang datang, namun tetap pada misi utama kami: KEBERSIHAN PANTAI! Jadi kami datang kotor, pulang bersih!
Salah seorang saksi matanya adalah Mba Puji dan putrinya yang lucu, Caca.
Jadi Konsultan Dongeng
Bulan berikutnya (Juli 2004), saya masih disibukkan oleh kegiatan terkait, di sela-sela persiapan keberangkatan saya ke Inggris. Kali ini giliran Bapedalda Kota Balikpapan dan Total E&P Indonesie yang jadi host, acaranya kegiatan dongeng untuk anak-anak SD di Balikpapan Barat dan Timur, pimpronya kebetulan anak MP juga, yaitu Mba Ayang (sekarang jadi Madame Pudjo).
Saya jadi apa? Saya jadi pembuat dongeng bertajuk Dema, Demi dan Kepiting di Pantai (Mba Ayang, masih nyimpan filenya ga, buat kenangan nih).
Masuk KaltimPost
Usai sudah tugas gila saya ini. Eh belum ternyata, salah seorang peserta kampanye di Pantai Klandasan, yang siswa SMPN 1 Balikpapan, namanya Tahrizi Andana, ternyata terinspirasi oleh kegiatan itu dan menuangkannya dalam karya ilmiah yang meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Tentang Lingkungan Hidup 2004! Selengkapnya bisa disimak liputannya di KaltimPost.
Retrospeksi:
Duuuh rindu saya dengan nostalgila ini... berbuat hal kecil untuk orang banyak. Sekarang saya, yang terjebak di dalam gedung Kementerian Lingkungan Hidup di kota kelahiran saya, justru belum melakukan apa-apa untuk bangsa ini *halah* di hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007! Tiga tahun sesudahnya... kecuali menulis di jurnal ini... Entah sekarang jadi apa inisiatif gila ini jadinya, tapi saya dengar kegiatan serupa banyak digagas oleh parpol, ormas dan ornop di sana, seperti PP, PKS, GMNI, selain oleh instansi pemerintah daerah tentunya. Semoga inisiatif ini tetap hidup, meski saya sudah tidak beredar di kota minyak yang asri itu.
Sayang sekali seluruh dokumentasi kegiatan ini nyaris tak tersisa di tangan saya. Entah di tangan teman-teman, mungkin bisa dishare di sini bila ada yang punya. Hanya selembar sertifikat penghargaan dari Walikota Imdaad Hamid yang terpampang di dinding di atas meja kerja saya saja yang akan selalu menjadi nostalgia saya selamanya. Terima kasih semua atas kenangan terindah ini.
[gambar brosur bisa diperbesar dengan mendonlod dari link di kutipan berita UNEP di atas]
©ciput 2007 all rights reserved.
| |