Ciput's posts with tag: [memories]

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag [memories]
Blog Entry[Retrospeksi] Jadi Supir Boss, Malah Mau DibunuhJun 15, '07 12:02 PM
for everyone
Suatu hari di bulan Juni 2001, saya sedang transit di Bandara Hasanuddin, Makassar dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari Manado. Sembari menunggu, saya membaca-baca sebuah buku yang saya beli di kios buku di bandara itu, yang terkenal dengan koleksi Periplus tapi harga lokal (alias murah banget).

Selagi asyik membaca, seseorang lelaki mendekat dan menegur saya. Saya menegakkkan wajah dan di depan saya berdiri seorang teman lama, seorang teknisi PT. Lintas Artha yang pernah ditugaskan memasang perangkat VSat di kantor saya di Jayapura. Sebut saja namanya K.

Setelah bertukar kabar, tiba-tiba K berkata: "Put, tau ga loe, kalo elo dulu hampir dibunuh oleh Oom F?" sembari menyebut nama seorang kolega saya di sana. Wajah saya terkesiap tak percaya mendengarnya. Setelah agak tenang, saya bertanya lagi: "Maksud elo?" Rentetan kisah berikutnya semakin membuat saya terpana mendengarnya. K bilang kalau saya pernah nyaris dibunuh oleh F, yang warga asli Papua, hanya lantaran saya dikasih fasilitas mobil oleh boss kami. Waks!!!

Ingatan saya kembali ke pertengahan 1999, saat saya baru 3 bulan dimutasi ke kantor regional Indonesia Timur di Jayapura. Saat itu di kantor sedang ada raker tahunan dengan mengundang perwakilan dari proyek-proyek (ada 6) di seantero Maluku dan Papua. Saat itu pula saya sedang siaga satu menanti kelahiran Vito, anak pertama saya di kota yang kalau malam suasananya mirip Hong Kong itu.

Oleh Pak Direktur, yang orang Biak, saya diberi fasilitas mobil dinas secara boss kasihan lihat istri saya yang hamil tua harus membonceng Honda GLPro dinas sementara jalanan di kota itu berbukit-bukit dan keluar masuk hutan. Sebenarnya kalau dibilang fasilitas juga tidak sih, secara saya harus mengantar-jemput boss pulang pergi kantor, alias jadi supir pribadi. Padahal rumah boss di Waena itu letaknya lebih jauh 2 kali lipat dari jarak dari rumah di Entrop ke kantor di Angkasa. Singkatnya rumah saya justru di tengah-tengah.

Pagi-pagi buta saya harus menyupir Kijang Super 1993 ke arah Waena sejauh 15 km, setelah jemput boss lalu balik arah ke kantor, melintasi muka rumah menuju kantor sejauh 30 km. Begitu pula sebaliknya. Jadi total sehari saya harus jadi supir sejauh 90 km! Dan baru usai jam 19.00 WIB, padahal jalanan di kota itu tak kenal namanya macet kecuali di tengah kota pada Malam Minggu. Dan itu saya lalui selama kurang lebih 2 bulanan. Itu pun 2 hari setelah Vito lahir, Vito lahir Sabtu, mobil itu langsung ditarik dan saya harus mencarter taksi *istilah lokal u/ angkot bobrok* untuk menjemput Vito pulang ke rumah kontrakan di kaki Peg. Cycloop, 15 km dari RST Marthen Indey di Kloefkamp.

Meski sempat dengar gossip-gossip kalau ada sebagian teman yang ngiri.com dengan fasilitas yang saya dapat itu, tapi saya cuek secara yang kasih boss langsung dan atas dasar belas kasihan, bukan favoritisme alias pilih kasih. Tapi yang namanya orang dengki mah ada aja pembenarannya. Ada yang iri secara saya warga pendatang yang tergolong sangat cepat kariernya di kantor, ada yang bilang saya pintar carmuk lah... dan segala rupa tuduhan tak berdasar lainnya. Padahal saat itu saya justru sedang di-nonjob-kan secara dalam status waiting list beasiswa ke Amerika.


Saya pikir juga semuanya just a gossip. Nyatanya saya salah besar.

Suatu siang, saya sedang berjalan keluar gedung utama *ruang kerja saya di paviliun* setelah makan siang di lobby utama. Sekonyong-konyong sebuah jip hardtop meluncur kencang, melompat menerjang polisi tidur di depan gerbang dan berdecit remnya dengan keras, berhenti di depan saya yang hanya melongo dibuatnya. Di dalamnya Oom F, yang masih paman Gubernur Papua sekarang (Barnabas Suebu), mukanya merah padam menahan amarah tapi ga jelas sama siapa.

Saya pun melanjutkan perjalanan saya tanpa memerdulikan kejadian barusan. Belum jauh, tiba-tiba terdengar suara barang dibanting dari lobby. Saya pun balik arah dan begitu sampai di depan pintu, saya lihat main switchboard telpon hunting sudah berantakan di lantai dan Bu R, sekretaris boss dan main receptionist sudah berdiri tegang di sudut belakang meja. Jauh di dalam, Oom F terlihat marah-marah dan membanting semua barang yang ada di meja meeting dan menjungkir balikkan kursi-kursi. Saya pun urung maju mencegahnya berbuat lebih parah secara saya lihat beberapa rekan sudah lebih dahulu memegangi Oom F.

Kembali ke si K, yang masih duduk di depan saya dan menegaskan bahwa kejadian itulah yang dimaksud upaya pembunuhan saya. Dia mengaku mendengar langsung Oom F mengumpat-umpat ingin menghabisi nyawa saya, hanya lantaran dirinya tak diijinkan memakai mobil dinas, yg sebelumnya sering saya supiri tersebut, oleh Boss!

Padahal dulunya Oom F ini asisten saya dalam pemetaan laut dan pesisir di Sorong dan Manokwari. Bahkan kami pernah pergi berdua masuk hutan saat menyurvei kawasan peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Sorong selama 1 bulan lebih! Dan Oom F pernah belajar caranya cari beasiswa ke LN sama saya secara beliau bilang kalau kagum sama semangat saya mengejar cita-cita. Dan saya pun kagum sama kharismanya sebagai kepala suku (Ondoafi) di desa di dekat Bandara Sentani sana.

Yah... siapa sih bisa nebak isi hati orang??? Dulunya saling kagum mengagumi, gara-gara soal sepele *mobil pinjaman pula* dirinya berubah menjadi dengki tak beralasan gitu...

Sebenarnya pun, sehari sesudah Vito pulang ke rumah, saya pun langsung beli mobil sendiri, biar butut sekalipun (lihat gambar). Sekedar agar anak-istri saya tak harus kanginan dan kehujanan di jalanan kota yang hari hujan cuma kalah sama Bogor itu.

= masa lalu memang indah untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk disesali, apalagi menghambat masa depan =

©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[My Life] Taruhan Satu Bulan GajiJun 8, '07 3:22 AM
for everyone
"OK Deal! Satu bulan gaji elo!," tukas saya kepada Y di ruang makan di samping kantor WWF (lama) di Petogogan Jaksel, hari ini (08 Juni) tepat sepuluh tahun yang lalu.

Lho? Ada apa ini? Ada apa ini?

Ceritanya begini *duduk yang manis ya anak-anak*:

Saat itu, awal Juni 1997, saya baru saja bergabung dengan WWF Indonesia sebagai Project Executant (Manajer Lapangan) untuk Proyek Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih (baca juga di sini) berkedudukan di Nabire, Prop. Irian Jaya (saat ini Papua).

Secara namanya penganten eh... pegawai baru, ya kudu mengikuti orientasi lah sama kantor baru. Di tingkat pusat (baca: Jakarta) saya diiderin ke seluruh kepala bagian dan dibriefing soal-soal manajemen dan administrasi keproyekan, mulai dari soal keuangan sampai dengan soal personalia, selain tentunya soal-soal teknis keilmu alaman *halah istilah apa pula ini?* dan isu-isu konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Pas, saat rehat makan siang, saya ceritanya digojlok sama teman-teman baru. Ditakut-takuti kalau di Irian itu begini-begitu, yang orang Papua otak pendek (temperamental) lah, yang sarang penyakit lah (HIV/AIDS, GO, Malaria dlsb), sampai soal harga barang dan biaya hidup yang super duper mahal.

Saya cengar-cengir doang diceritain seperti itu. Gimana saya ga cengar-cengir, secara saya sudah sering berada dalam kondisi minimal di lokasi terpencil di negeri ini sejak 3 tahun sebelumnya. Bisa dicatat: Seulawah (Aceh Besar), Muaraenim (Sumsel), Soroako (Sulsel), Malinau dan Long Tesak (Kaltim) dan Tembagapura (Papua). Boleh dibilang saya ini malah kadang merasa asing di kota kelahiran saya sendiri yang kata orang serba ada ini.

Sambil cengar-cengir saya timpali satu-persatu ledekan dan celaan mereka itu. Sampai tiba-tiba si Y, yang sedari tadi justru diam seribu bahasa, menyeletuk, "Gua pingin liat ni orang tahan berapa lama di sono?" dengan tampang nyinyir.

Emosi saya yang sebenarnya sedang santai-santai saja, spontan naik ke ubun-ubun lah. Secara waktu itu belum dikenal idiom Maksud Looooh, kalau tidak salah saya waktu itu bilang begini: "OK, liat aja tar man! Gw jamin gw bakal tahan di sono setaon!"

"Alaaaah, paling juga seminggu elo udah minta pulang!" si Y tak mau kalah.
"Sembarangan loe! Siapa loe berani-beraninya ngentengin gw!" Taruhan gw bakal tinggal setahun di sana!" darah saya sudah mau menyembur dari ubun-ubun.
"Ayo, siapa takut? Sebulan gaji gw?" si Y menimpali.
"OK Deal! Satu bulan gaji elo!, jawab saya tanpa pikir panjang.

Saya pun pergi meninggalkan ruangan dengan tepukan tangan semua hadirin. Siyal!

Seminggu kemudian, saya pun terbang ke Nabire, dan sempat singgah di Jayapura untuk lapor diri di kantor regional Indonesia Timur. Sebulan kemudian, saya harus memecat salah seorang anak buah saya, yang orang asli Papua, karena pelanggaran susila yang dilakukannya sebelum saya menjabat sebagai atasannya.
Suasana di kantor memanas, secara sebagian staf, yang putra daerah, tak puas dengan keputusan saya tersebut. Padahal saya khan cuma sekedar mengeksekusi keputusan yang seharusnya dibuat oleh pimpinan yang saya gantikan .

Satu persatu mereka coba bicara dengan saya, tapi saya tetap keukeuh pada keputusan tersebut. Dan si staf pun resmi diberhentikan dengan hormat. Saya selanjutnya melakukan perjalananan dinas ke Manokwari untuk sowan ke Balai Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih yang berkantor di sana.

Baru saja saya masuk ke kantor WWF di Manokwari, teman saya yang pimpinan WWF di sana menyampaikan bahwa barusan ada telpon dari Nabire bahwa telah terjadi perkelahian antar staf, yang dipicu oleh ketidakpuasan atas staf yang saya PHK tadi. Saya pun bergegas mencari tiket pesawat pulang ke Nabire dan baru bisa dapat untuk keesokan harinya, itu pun harus transit 1 hari di Biak terlebih dahulu. Sigh... begitulah susahnya tinggal di pelosok.

Dua hari kemudian, saya mendarat di Nabire dan dijemput oleh salah seorang staf saya. Begitu masuk kantor, tiba-tiba salah seorang staf yang lain, sebut saja B, menghampiri dan menghunjamkan bogem mentah ke pipi kanan saya! Perkelahian pun pecah, sebagian staf mendukung B, sisanya membela saya. Tak lagi bogem yang melayang, tapi sudah mulai menghunuskan parang/kelewang! Untung situasi bisa terkendali dan tidak sampai jatuh korban jiwa, bahkan luka-luka sekalipun.

Ribuan kilometer di Jakarta, si Y, bertepuk tangan begitu mendapat kabar bahwa kantor saya terjadi kericuhan. Bahkan sebagian teman sudah mulai minta traktir si desainer poster ini.

Tapi apakah dia menang? Tentu saja tidak, karena saya baru meninggalkan pos saya di Nabire itu Februari 1999, alias 22 bulan kemudian!

Alhasil si Y harus memenuhi taruhannya itu. Sialnya dia, taruhan itu justru jatuh tempo pas bulan dia mau menikah! Dan tak lama kemudian, saya pun menikah! Huahahahaha

gambar

©ciput 2007 all rights reserved.

Sabtu 5 Juli 2004, Pantai Klandasan

500 orang berkumpul di Sabtu pagi hari yang segar. Tak hanya
anak sekolah, ibu-ibu penggemar senam pagi, ibu-ibu PKK, relawan, 1 peleton prajurit dari Kodam VI Tanjungpura dan tak ketinggalan 2 bus karyawan Total E&P Indonesia.

T
ak lama kemudian, musik techno mulai berdentum dari pengeras suara 3000W yang diletak di sebelah panggung terbuka. Tiga orang instruktur aerobik telah siap mengajak para hadirin untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama musik. Ya mereka diajak untuk beach aerobic!

Usai berolah raga, segerombolan relawan bergerak masuk dengan membawa karung-karung bekas dan menghimpun para peserta dalam kelompok-kelompok @ 10 orang. Setelah briefing sejenak, mulailah kelompok-kelompok tadi berpencar menyisir pantai berpasir putih namun penuh sampah, dan memunguti sampah yang beragam bentuknya, mulai dari bungkus makanan hingga batang kayu!

Di bawah rerimbunan pohon, sekelompok ibu-ibu memulai mengikuti demo pembuatan dodol mangrove oleh ibu-ibu PKK Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat. Tak ketinggalan mereka pun berbelanja setelah mencicipi dodol yang berasa sedikit masir dan pahit itu. Di meja lain, sebagian ibu-ibu berbelanja pelbagai produk penganan, seperti kerupuk tenggiri, amplang, krupuk udang, terasi. Semua hasil karya kelompok ibu-ibu di Desa Kariangau dan Manggar.

Saya sendiri berputar-putar menenteng kamera digital Olympus C750UZ mengabadikan kegiatan yang kami coba koordinir dalam rangka World Environmental Day 2004 itu. Meski diawali oleh gagasan sinting sekelompok relawan YSTB, kegiatan ini ternyata diakui dalam kalender internasional UNEP 2004, seperti liputan berikut ini:
-
---------------------------------------
Balikpapan, Indonesia

To commemorate World Environment Day this year, the Save the Balikpapan Bay Foundation, a local coastal NGO in Balikpapan, East Kalimantan, Indonesia is conducting a public awareness campaign entitled "Save The Bay Now!". The campaign includes activities such as beach hiking, beach clean-up and the planting of mangrove trees, as well as children competitions (e.g. sand castle, coloring, poetry reading, essay writing and singing), a fair and bazaar, and interactive dialogues. The dialogue will be undertaken in partnership with a local FM radio station and a newspaper to discuss various local issues related to the WED theme, such as coastal-sound city planning, beach reclamation, oil spill and pollution, and mangrove conversion for mariculture, to name a few. See the brochure for more information.

For more information, please contact:
Mr. M. Putrawidjaja (Ciput)
Yayasan Selamatkan Teluk Balikpapan
Jl. RE. Martadinata No. 2, RT 26, Mekar Sari,
Balikpapan 76122 INDONESIA

dikutip dari sini.
-------------------------------------------------------------

Minggu 13 Juni 2004, Pantai Manggar

Kegiatan serupa dilaksanakan lagi di Pantai Manggar. Kali ini bukan saya dan teman-teman lagi yang mengkoordinir, melainkan Karang Taruna setempat, yang didukung oleh sederet perusahaan yang berlokasi di sekitar desa nelayan di utara kota Balikpapan itu. Tercatat Unocal Indonesia (sekarang jadi Chevron), Schlumberger, Thiess, Leighton, Haliburton dll.

Kegiatannya kurang lebih serupa, namun lebih semarak dari yang di Pantai Klandasan, secara ada panggung dangdut dan lomba-lomba olah raga seperti tarik tambang, voli dan sepak bola pantai. Pesertanya entah berapa ratus saking banyaknya yang datang, namun tetap pada misi utama kami: KEBERSIHAN PANTAI! Jadi kami datang kotor, pulang bersih!

Salah seorang saksi matanya adalah Mba Puji dan putrinya yang lucu, Caca.

Jadi Konsultan Dongeng

Bulan berikutnya (Juli 2004), saya masih disibukkan oleh kegiatan terkait, di sela-sela persiapan keberangkatan saya ke Inggris. Kali ini giliran Bapedalda Kota Balikpapan dan Total E&P Indonesie yang jadi host, acaranya kegiatan dongeng untuk anak-anak SD di Balikpapan Barat dan Timur, pimpronya kebetulan anak MP juga, yaitu Mba Ayang (sekarang jadi Madame Pudjo).

Saya jadi apa? Saya jadi pembuat dongeng bertajuk Dema, Demi dan Kepiting di Pantai (Mba Ayang, masih nyimpan filenya ga, buat kenangan nih).

Masuk KaltimPost

Usai sudah tugas gila saya ini. Eh belum ternyata, salah seorang peserta kampanye di Pantai Klandasan, yang siswa SMPN 1 Balikpapan, namanya Tahrizi Andana, ternyata terinspirasi oleh kegiatan itu dan menuangkannya dalam karya ilmiah yang meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Tentang Lingkungan Hidup 2004! Selengkapnya bisa disimak liputannya di KaltimPost.

Retrospeksi:

Duuuh rindu saya dengan nostalgila ini... berbuat hal kecil untuk orang banyak. Sekarang saya, yang terjebak di dalam gedung Kementerian Lingkungan Hidup di kota kelahiran saya, justru belum melakukan apa-apa untuk bangsa ini *halah* di hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007! Tiga tahun sesudahnya...  kecuali menulis di jurnal ini...


Entah sekarang jadi apa inisiatif gila ini jadinya, tapi saya dengar kegiatan serupa banyak digagas oleh parpol, ormas dan ornop di sana, seperti PP, PKS, GMNI, selain oleh instansi pemerintah daerah tentunya. Semoga inisiatif ini tetap hidup, meski saya sudah tidak beredar di kota minyak yang asri itu.

Sayang sekali seluruh dokumentasi kegiatan ini nyaris tak tersisa di tangan saya. Entah di tangan teman-teman, mungkin bisa dishare di sini bila ada yang punya. Hanya selembar sertifikat penghargaan dari Walikota Imdaad Hamid yang terpampang di dinding di atas meja kerja saya saja yang akan selalu menjadi nostalgia saya selamanya. Terima kasih semua atas kenangan terindah ini.

[gambar brosur bisa diperbesar dengan mendonlod dari link di kutipan berita UNEP di atas]

©ciput 2007 all rights reserved.

Sekitar awal 1980an, semasa siaran TV masih dimonopoli oleh TVRI dan remaja mesjid belum ditunggangi kepentingan macam2, saya pernah ikut perkumpulan remaja mesjid di perumahan dekat rumah orang tua saya di bilangan Kalimalang (Jakarta Timur). Namanya RISNA (Remaja Islam Masjid Al-Husna) yang berbasis pengajian remaja di masjid kecil di tengah komplek Cipinang Indah I.

Sebagaimana layaknya sebuah perkumpulan remaja masjid, kegiatan kami didominasi kegiatan pengajian, tadarusan, pesantren kilat pada bulan Ramadhan, sampai panitia Qurban. Tidak beraneka ragam seperti halnya perkumpulan remaja masjid saat ini. Belakangan, beberapa teman yang memiliki latar belakang musik dan teater mengajak para pengurus untuk melebarkan sayap ke bidang kesenian, khususnya menyanyi. Pada masa itu, sering diadakan lomba2 koor/nyanyi kelompok bernafaskan Islam dan untuk menampung aspirasi anggota, akhirnya dibentuklah kelompok koor. Saya sendiri yang tak merasa berbakat menyanyi, tidak tertarik ikut dan tetap menjalani kegiatan rutin yang selama ini saya ikuti.

Suatu ketika, datanglah seorang warga komplek Cipinang Indah yang berprofesi sebagai penyiar berita di TVRI, nama lengkapnya saya lupa tapi kalau tidak salah nama depannya Eddy. Beliau ini sebenarnya sudah separuh baya, tapi masih berjiwa muda. Oleh pengurus, beliau diundang untuk berbagi pengetahuan soal tampil di televisi, ya dimana lagi kalau bukan di TVRI. Saat itu memang TVRI sedang getol2nya menayangkan acara menyanyi dan drama remaja berlatar belakang Islam.

Selanjutnya, beliau tidak hanya memberi ceramah semata, tapi juga menawarkan bantuan untuk memfasilitasi perkumpulan kami untuk bisa tampil di TVRI. Siapa coba tidak tertarik untuk tampil, saya yang waktu itu masih duduk di bangku akhir SD pun sudah ngiler membayangkan numpang nampang di tv. Akhirnya dibentuklah satu grup drama dan mulailah kami latihan rutin. Saya waktu itu sempat ikut2an latihan juga sih.

Tak terasa, enam bulan sejak ajakan itu diutarakan, kami tak kunjung jua tampil di tv. Bosan menunggu dan saat itu saya sedang memersiapkan diri menghadapi EBTANAS, saya memutuskan untuk tidak aktif lagi, baik di pengajian maupun di teater. Belakangan, saya saksikan teman2 sudah mulai tampil di tv, baik kelompok koor maupun teater dengan nama RISNA. Saya sendiri tidaklah iri tidak ikut tampil, karena toh saya tidak bisa aktif latihan.

Suatu hari saya terkejut menyaksikan teman2 di kelompok teater yang sama tampil di TVRI tapi menggunakan nama yang lain, yaitu RISNADA. Entah apa kepanjangan RISNADA itu, sampai hari ini saya tidak tahu. Saya yang masih belia saat itu pun bisa mencium adanya suatu kejanggalan dalam kejadian itu. Saya coba cari tahu dari beberapa teman yang masih aktif di perkumpulan itu, terutama yang tidak ikut kelompok-kelompok kesenian yang tampil di TVRI itu. Untuk menghindari bias informasi pikir saya *halah masih kecil saja saya nampaknya sudah bakat jadi detektif a la Sherlock Holmes juga ternyata*.

Dari mereka saya dengar bahwa ada perpecahan antara pengurus remaja masjid dengan pegiat kesenian. Saya dengar ada perbedaan pendapat di antara mereka, salah satunya adalah soal popularitas. Kepopuleran kelompok RISNA saat itu tak dipungkiri, mereka tak hanya tampil di televisi, tapi juga sering ditanggap dalam acara2 off-air juga. Nah tentunya ada soal fulus di sini khan. Mungkin (eh ini asumsi saya saja loooh) para pelaku kesenian, khususnya koor, tidak setor ke pengurus. Akhirnya timbullah konflik yang berbuntut perpecahan. Pak Eddy sendiri berposisi dimana dalam konflik ini? Ternyata beliaulah yang menggagas pembentukan RISNADA dan bahkan duduk sebagai pembina.

Ah sedih saya mendengarnya, kalau sudah popularitas (dan juga uang) bicara, tidak ada lagi idealisme persahabatan. Sayang di sayang... tapi apa daya, saya cuma bisa menyaksikan dari jauh. Baru-baru ini saya ketemu dengan beberapa teman lama di RISNA, yang menceritakan bahwa RISNA masih ada sampai sekarang dan konsisten mengembangkan kegiatan2 syiar Islam, sementara RISNADA sudah tak terdengar lagi kiprahnya, secara TVRI pun sudah tak ditonton orang Jakarta lagi dan pak Eddy sendiri pun sudah tak saya ketahui rimbanya. Saya pernah dengar beberapa alumnus RISNADA sempat jadi penyanyi (salah satunya kalau tak salah sempat jadi anggota Padhyangan 6 yang sudah vakum... eh apa bubar ya?) dan/atau main sinetron. Namun tak satupun yang berhasil jadi selebritis ngetop kok ternyata :-p

©iput 2006 all rights reserved

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help