Ciput's posts with tag: [gaya hidup]

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag [gaya hidup]
Blog Entry[Lifestyle] Zippo & MeOct 20, '07 12:41 PM
for everyone
Pertama kali punya korek api andalan para serdadu GI ini sekitar 15 tahun yl, saat mantan calon mertua (bokapnya cewek gw waktu itu, red) beliin. Sayang itu korek andalan hilang bak ditelan bumi, tak lama sebelum saya akhirnya berpisah baik-baik eh... ga ding pake berantem lama kok dengan pacar saya waktu itu (1994).

Alhasil saya rada parno u/ beli lagi, selain harganya yg tak masuk akal saat itu (1994). Sampai-sampai ada beberapa versi:
  1. Versi original (USA) yg harganya di atas 200 rb
  2. Versi Korea (KW1) yg harganya sekitar 100 rb
  3. Versi Taiwan (KW2) yg harganya di bawah 100 rb
Agustus 2007, saya dan rekan-rekan sekerja pergi dinas ke Batam. Ricky, travel manager saya menyempatkan melancong ke Singapore sama istrinya. Sekembali dari sana, kami bertemu lagi di Semarang seminggu kemudian. Dan Ricky mengoleh-olehi saya sebuah korek api Zippo warna biru! *gubrakz*

Sempat ga berani nerima, sampai semua orang ngeyakinin kalau ga ada tuh hubungan antara korek api yg katanya ga mampus diterpa angin ini sama jodoh *halah* Ya udah... saya terima juga akhirnya dan sampai hari ini masih disemat di saku celana setiap hari meski masih mikir-mikir secara onderdilnya saat ini rada susah dicari.

Ya, dulu saking populernya korek api serba metal ini, di setiap penjuru pertokoan/mall/shopping center sampai emperan kaki lima di pasar Jatinegara, kita mudah jumpai onderdilnya, seperti minyak Synthetic Isoparafin Hydrocarbon, batu korek (flint) sampai sumbu bahkan kapas penyimpang minyak segala. Tapi sekarang? Ironisnya malah menghilang bak ditelan bumi *halah diulang*

Barusan si Zippo kehabisan batu korek (flint) dan mulailah saya pusing tujuh keliling cari itu batu satu, secara si korek api yg jadi perkara buat GI di Vietnam ini lantas jadi lumpuh total meski minyaknya full tank!

FYI, korek api ini memang pernah jadi kambing hitam kekalahan AS di Perang Vietnam II (1965-1975). Lho kok bisa? Gini ceritanya, saat istirahat tempur di lapangan malam-malam, para GI khan dilarang ngrokok tuh, secara kalau ngerokok bakal ketahuan musuh dimana posisi mereka dan lantas jadi sasaran empuk para petembak jitu (sniper) VC (Vietcong, red.). Dengan bunyi 'ting' nya yg khas, tambah gampang atuh buat para VC u/ membedakan mana GI mana VC khan. Dan akibatnya para komandan GI pusing mo ngelawan gimana tuh para gerilyawan yg ngumpet bak tikus tanah.

OK Back to topic. Tak kurang dari Carrefour, Hypermart dan Giant saya jelajahi. Semua nihil, atau paling tidak sedang kosong stok dan musti nunggu Senin 22.10 yad sampai ada delivery lagi .

Terus kemarin siang, saya sedang cari toko buka untuk beli air galon VIT. Nasibnya sama, stok kosong. Sampailah saya di toko Eropa Cipinang Elok di dekat rumah (300 m dari rumah) yg saya lihat stoknya masih banyak. Saat saya sedang bayar di kasir, kok saya lihat ada sosok yg saya cari-cari semingguan ini! Yak, di toko kelontong kecil itu ternyata dijual segala pernak-pernik si korek tengil ini! *Gubrakz!*

Rupanya si engkoh pemilik toko penggemar dan kolektor Zippo. Katanya dia punya tak kurang dari 12 biji! Set dah buat apaan Ko? Dia bilang kalau di komplek perumahan yg selalu banjir setiap tahun ini banyak penggemarnya dan semua jadi pelanggannya. OK Ko, kalau begitu saya bakal jadi pelanggan ente deh

Sebelum pulang, saya sempat pamerkan Zippo saya yg cuma semata wayang ini. Tengok punya tengok, si Engkoh bertanya: "Udah berapa lama punya korek ini?"
Saya jawab: 2 bulan! Si Engkoh kaget: Lah? Ini kok serinya Seri I ya? Apa dikeluarin lagi seri I? Saya bingung jawabnya, secara ga gitu ngerti. Saya lantas inget Zippo saya yang lenyap 13 tahun yl itu serinya Seri XII. Hmmm pantesan si Engkoh kaget liat Zippo saya.

Dan berpisahlah kami untuk bertemu lagi saat onderdil Zippo saya ini ada yg habis lagi. Hmmm kayaknya berikutnya minyak nih yg bakal habis, atau sumbu kali ya. Entahlah... Yg penting mudah-mudahan Zippo biru ini ga menghilang lagi seperti dulu, atau saya bakal putus hubungan sama Ricky, travel manager dan rekan bisnis saya *halah*

Ilustrasi: My Blue Zippo (foto: pribadi dunk)

©ciput 2007 all rights reserved.

Start:     Sep 30, '07 4:00p
End:     Sep 30, '07 7:00p
Location:     Autobridal 32, Jl. Cipinang Jaya, Jakarta Timur
Jangan ngeres dulu yak, secara lagi puasa. Yg buka bareng itu para pengemudi transporter anggota TeRuCI (Terios-Rush Club Indonesia). Sedangkan yg mandi bareng itu ya mobil-mobilnya lah.

Berawal dari saat saya mo mandiin si Teri McQueen dengan ice-cream wash di salon mobil Autobridal 32, saya ngobrol-ngobrol sama pemiliknya. Di situ saya cerita kalau saya & teman2 sepakat mendirikan klub otomotif. Beliau, sebut saja P' M, spontan tertarik u/ mengadakan event bersama, yaitu buka bersama. Beliau committed sediakan tajil u/ 30 hadirin, termasuk 20an anggota TeRuCI, selain ada sumbangan dari Bro Taufik SN dengan snackbox-nya,. Alhamdulillaaaah...

Rundown acaranya simple banget dan ga modal banget:

16.00 TeRuCIers datang ke lokasi

16.05 mobil TeRuCI mulai antri dicuci, dengan menu dan rasa pilihan: ice cream, snow atau cuci poles

Buat yg ga mau nyuci atau sembari nunggu mobilnya pada dicuci, P' M akan memberikan coaching clinic tentang wheel alignment, terkait dengan isu tidak stabilnya stir pada beberapa mobil milik TeRuCIers. Untuk contoh, salah satu mobil yg menderita penyakit ini akan diservis gratis!

17.50 buka bersama
18.00 Shalat Magrib berjamaah
18.10 Diskusi tentang organisasi:

- sistem administrasi manajemen, terutama pengelolaan database anggota dan pengelolaan keuangan
- menuntaskan souvenir unik klub (sticker, ID Card dan seragam)
- rencana jangka pendek: bukber MP dan SOTR 6-7 Oktober 2007, touring halal bihalal 27 Oktober 2007.
- rencana jangka panjang: strategi pengembangan organisasi dan mekanisme rekrutmen anggota baru, mekanisme kerja sama dengan pihak ketiga (termasuk sponsorship dan komunitas lain).

19.00 bubar! Eh setelah foto-foto keluarga tentunyaaaaaaaaaaaaa....

Simple khan? :p Saking simplenya PJnya pun cukup sendirian, yaitu si teruci-0008 Berly, yg teman kuliah P' M di MM-UI, .

Gambar ilustrasi dari sini.
©ciput 2007 all rights reserved.

Blog Entry[Gaya Hidup] Vivere PericolosoMar 22, '06 10:43 AM
for everyone
Vivere Pericoloso...

Itu istilah Latin ini dipopulerkan oleh Bung Karno (BK) saat-saat menjelang tragedi kudeta berdarah 1965 (saya tidak mau pakai lagi istilah G30S/PKI karena diduga penyesatan sejarah versi Orba).

Artinya? Hidup Secara Berbahaya (baca juga di sini dan sempat secara lugu diterjemahkan menjadi film The Year of Living Dangerously (1982)).

Kalau kala itu BK mungkin menyindir suasana politik yang sangat sarat konflik antara elite politik pro dan kontra komunisme, saya justru sedang berpikir kalau mungkin memang sejatinya orang Indonesia itu senang hidup menyerempet bahaya.

Coba disimak setiap hari di sekitar kita. Anak-anak ngejar layangan di jalan yang ramai, orang dewasa terdidik menyeberang jalan di sembarang tempat, penglaju (commuter) duduk di atap KRL, penumpang bergelantungan di pintu bis *yang ini sering saya lakukan di masa SMA*, anak sekolah nomplok truk *ini juga semasa SMP, tapi kapok setelah ada teman meninggal*, naik motor ga pakai helm, bekerja di tempat berbahaya pun tak pakai alat pengaman yang memadai, bahkan tinggal di bantaran sungai Ciliwung yang pasti kebanjiran pun termasuk.

Pernah memundurkan mobil dari garasi? Perhatikan bila ada orang (jalan kaki ataupun naik kendaraan) di dekat mobil Anda, kemanakah mereka akan bergerak? Hampir pasti ke bagian belakang mobil, bukan ke bagian depan atau berhenti sekaligus.

Saya heran kenapa orang-orang ini memilih menantang bahaya. Kalau dia bergerak ke belakang mobil saya khan beresiko ketabrak. Coba dia bergerak ke bagian depan, peluang tertabrak akan mengecil, meski tidak 100% aman sih. Kenapa tidak berhenti sekalian? Lebih baik nunggu barang 1-2 menit, toh tidak akan mengurangi waktu perjalanan mereka kan.

Lalu saat menyetir dan hendak memasuki antrian lalu lintas yang macet. Perhatikan bagaimana motor-motor (juga mobil-mobil) menyelak dan tidak memberi kesempatan Anda untuk masuk ke jalur jalan. Kalau kita tidak sedikit ngotot, baru setelah lalu lintas sepi kita bisa berangkat deh. Kenapa mereka mempertaruhkan nyawa (kalau nabrak mobil kita) atau paling tidak biaya memperbaiki kendaraannya, paling tidak gara-gara kesrempet.

Jadi kesimpulan secara sederhana saja, orang Indonesia ini memang senang menantang bahaya (risk taker type).
Gaya hidup, ya lagi-lagi gaya hidup yang sudah demikian membudaya dan mendarah daging di masyarakat kita. Kenapa saya bilang gaya hidup? Karena sudah demikian membudaya sampai ke semua lapisan sosial dan usia.

Hmmm... bisa ga ya kita berubah, paling tidak kalau tidak nekat begitu khan suasana bisa lebih tertib dan nyaman. Jalan jadi tidak macet, angkot tidak berjubel, akhirnya kita bisa bepergian dengan nyaman dan tidak ada konflik dengan orang lain. Hiks.... seandainya...

Betul kalau begitu apa kata BK dulu, Vivere Pericoloso.
- sekedar pikiran iseng di kala menyetir mobil -
[gambar dari imdb - Movie Database]
©iput 2006


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help